Festival Rontek Pacitan 2026 Bakal Hadirkan Konsep Panggung Berjalan

Festival Rontek Pacitan 2026 hadir dengan konsep panggung berjalan untuk menghidupkan kembali tradisi asli. Rontek juga tengah diusulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda nasional.

Juli 14, 2026 - 13:00
Festival Rontek Pacitan 2026 Bakal Hadirkan Konsep Panggung Berjalan

PACITAN - Pemerintah Kabupaten Pacitan siap menyuguhkan konsep berbeda dalam gelaran Festival Rontek Pacitan yang akan berlangsung pada 17-19 Juli 2026 mendatang. 

Festival tahun ini menerapkan inovasi panggung berjalan (mobile stage) demi mengembalikan marwah asli Rontek sebagai seni pertunjukan jalanan yang interaktif.

Skema panggung berjalan ini nantinya akan dimasukkan ke dalam salah satu komponen penilaian utama oleh dewan juri.

Inovasi tersebut diharapkan mampu memicu interaksi langsung yang lebih intim antara para penampil dengan masyarakat di sepanjang rute pawai, mengikis batas panggung statis yang selama ini kerap membatasi ruang gerak kesenian tersebut.

Di saat yang bersamaan, Pemkab Pacitan juga tengah memperjuangkan kesenian yang lahir dari tradisi ronda sahur ini untuk diakui di tingkat nasional.

Menanti Status Warisan Budaya Takbenda Nasional

Plt. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Pacitan, Adetya Wicaksana Putra, mengungkapkan bahwa usulan Rontek sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) nasional kini terus bergulir di pemerintah pusat.

"Rontek ini kami ajukan sebagai usulan WBTB tahun 2026 dan sekarang masih dalam proses kurasi setelah didaftarkan sejak akhir 2025 lalu," kata Adetya, Selasa (14/7/2026).

Adetya menambahkan, pengakuan WBTB sangat krusial bagi masa depan Rontek. Penetapan tersebut tidak hanya menjadi tameng pelindung hak cipta kebudayaan daerah, tetapi juga membuka ruang promosi yang lebih lebar ke kancah global.

Rontek gugah sahur era dulu di Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Rontek gugah sahur era dulu di Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Evolusi dari Kentongan Sahur ke Teatrikal Kolosal

Rontek memiliki sejarah panjang di Pacitan. Seni musik perkusi ini berakar dari kebiasaan warga menabuh kentongan bambu keliling kampung untuk membangunkan masyarakat saat sahur di bulan Ramadan.

Kini, tradisi tersebut telah bermutasi menjadi sebuah seni pertunjukan kolosal. Ketukan ritmis kentongan bambu kini dipadukan dengan bedug, instrumen perkusi modern, tata gerak tari (koreografi), seni peran (teatrikal), hingga kostum tematik yang megah.

"Rontek bukan sekadar tontonan hiburan musiman, ini sudah mendarah daging sebagai identitas kultural masyarakat Pacitan dari generasi ke generasi," tutur Adetya.

Melalui festival berskala besar tahun ini, Pemkab Pacitan optimistis marwah lokalitas Rontek akan semakin kuat sekaligus mempercepat proses penetapannya sebagai WBTB nasional. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow