Fenomena Bediding Mulai Terasa di Kota Batu, Suhu Malam Hari Bisa Turun hingga Belasan Derajat
Fenomena bediding mulai dirasakan warga Kota Batu dan Malang Raya. BPBD menyebut suhu udara malam hingga dini hari dapat turun hingga belasan derajat seiring awal musim kemarau.
BATU - Warga Kota Batu dan sejumlah daerah di Malang Raya dalam beberapa hari terakhir merasakan perubahan cuaca yang cukup mencolok. Meski siang hari masih terasa hangat bahkan cenderung terik, suhu udara pada malam hingga menjelang pagi hari justru terasa jauh lebih dingin dibandingkan biasanya.
Fenomena yang oleh masyarakat Jawa Timur dikenal dengan istilah bediding itu mulai dirasakan seiring masuknya wilayah Jawa Timur ke periode musim kemarau.
Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara turun cukup signifikan pada malam hari dan membuat masyarakat harus mengenakan pakaian yang lebih tebal saat beraktivitas di luar rumah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Suwoko, membenarkan bahwa saat ini Kota Batu mulai memasuki musim kemarau. Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah turunnya suhu udara pada malam hingga pagi hari.
"Memang benar, saat ini sudah memasuki awal musim kemarau. Dampaknya, suhu udara khususnya pada malam sampai pagi hari terasa lebih dingin dibandingkan beberapa bulan sebelumnya," ujarnya, Minggu (31/5/2026).
Ia menjelaskan, fenomena bediding merupakan kondisi alam yang lazim terjadi setiap tahun ketika musim kemarau mulai berlangsung. Pada periode tersebut, langit cenderung cerah dengan tutupan awan yang minim sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer saat malam hari.
"Akibatnya, suhu udara mengalami penurunan yang cukup tajam. Di wilayah dataran tinggi seperti Kota Batu, kondisi tersebut terasa lebih kuat dibandingkan daerah lain," ungkap dia.
Bahkan pada waktu tertentu, suhu udara menjelang subuh dapat turun hingga kisaran belasan derajat Celsius. Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir karena fenomena tersebut bukanlah kondisi cuaca ekstrem yang membahayakan.
Namun demikian, warga tetap diimbau menjaga kesehatan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
"Perubahan suhu yang cukup drastis bisa memengaruhi kondisi tubuh. Karena itu masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang ada," katanya.
Sementara itu, berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu dingin yang saat ini dirasakan di berbagai wilayah Indonesia dipengaruhi oleh pergerakan angin Monsun Australia. Angin tersebut membawa massa udara yang relatif kering dan dingin dari daratan Australia menuju Indonesia.
Masuknya massa udara tersebut menyebabkan kelembapan udara menurun dan suhu pada malam hari menjadi lebih rendah dibandingkan saat musim hujan. Fenomena ini umumnya terjadi pada masa transisi menuju puncak musim kemarau.
BMKG memperkirakan musim kemarau tahun 2026 berlangsung mulai Mei hingga sekitar Oktober mendatang. Selama periode tersebut, masyarakat berpotensi merasakan udara yang lebih sejuk hingga dingin, terutama pada malam dan dini hari, khususnya di wilayah pegunungan dan dataran tinggi seperti Kota Batu.
"Dengan kondisi ini, warga kami himbau untuk terus memantau informasi cuaca resmi dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan suhu yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan serta menjaga kesehatan," tuturnya. (*)
Apa Reaksi Anda?