FEB UNJ Bangun Kemandirian Santri Berbasis Praktik Keuangan untuk Perkuat Implementasi SDGs di Tingkat Komunitas
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ) kembali menunjukkan komitmen strategisnya dalam mendukung pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas melalui pelaksanaan program Community
JAKARTA - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ) kembali menunjukkan komitmen strategisnya dalam mendukung pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas melalui pelaksanaan program Community Development (Comdev) yang berfokus pada penguatan literasi dan pengelolaan keuangan pesantren. Kegiatan ini dilaksanakan pada 4 Februari 2026 di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Kabupaten Bogor, dengan melibatkan santri yang secara aktif mengelola berbagai unit usaha produktif pesantren.
Program ini berangkat dari kesadaran bahwa pesantren memiliki posisi yang sangat penting dalam ekosistem sosial dan ekonomi Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2023, jumlah pesantren di Indonesia telah mencapai lebih dari 39.551 dengan jumlah santri sekitar 4,9 juta orang. Tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, pesantren juga berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi berbasis komunitas yang memiliki potensi besar dalam mendorong kemandirian ekonomi umat.
Namun demikian, potensi ekonomi tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan, terutama dalam aspek pengelolaan keuangan. Sebagian besar pesantren masih menghadapi tantangan dalam hal pencatatan dan pelaporan keuangan yang belum terstandar. Lebih dari 70 persen pesantren masih menggunakan sistem pencatatan manual sederhana yang terbatas pada kas masuk dan kas keluar, tanpa didukung laporan keuangan komprehensif seperti laporan laba rugi, neraca, maupun arus kas. Kondisi ini berdampak pada rendahnya tingkat transparansi dan akuntabilitas, serta menyulitkan pengambilan keputusan strategis dalam pengembangan usaha pesantren.
Menjawab tantangan tersebut, tim dosen dan mahasiswa FEB UNJ menginisiasi program pelatihan dan pendampingan yang dirancang secara sistematis dan aplikatif. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan oleh santri dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena memiliki ekosistem usaha yang cukup berkembang dan dikelola secara langsung oleh santri. Unit usaha yang dijalankan meliputi pabrik roti, konveksi, peternakan, serta toko serba ada (toserba), yang secara nyata mencerminkan praktik kewirausahaan di lingkungan pesantren. Meski demikian, sistem pencatatan keuangan yang digunakan masih bersifat sederhana dan belum mengikuti prinsip akuntansi yang baku.
Setidaknya sebanyak 30 santri yang terlibat langsung dalam pengelolaan unit usaha mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Program dirancang menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif dengan metode experiential learning, di mana peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga dilibatkan dalam praktik langsung pencatatan transaksi keuangan.
Dalam pelatihan ini, peserta dibekali pemahaman mengenai konsep dasar akuntansi, pentingnya pencatatan transaksi yang sistematis, serta penyusunan laporan keuangan sederhana. Selain itu, peserta juga dilatih untuk menggunakan teknologi digital seperti Microsoft Excel dan Google Sheets sebagai alat bantu pencatatan keuangan yang lebih efisien dan akurat.
Ketua tim pelaksana kegiatan, Adam Zakaria menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari peran strategis perguruan tinggi dalam menjembatani kebutuhan masyarakat dengan pengembangan ilmu pengetahuan.
"Pesantren memiliki kekuatan besar sebagai pusat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Namun, penguatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam pengelolaan keuangan, menjadi kunci utama agar unit usaha yang ada dapat berkembang secara berkelanjutan. Melalui program ini, kami berupaya menghadirkan solusi praktis yang dapat langsung diterapkan oleh santri," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan dalam program ini dirancang agar mudah dipahami dan sesuai dengan kebutuhan peserta.
"Kami tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga memastikan bahwa setiap peserta mampu mempraktikkan pencatatan keuangan secara langsung. Dengan demikian, kompetensi yang diperoleh tidak berhenti pada pemahaman, tetapi juga pada keterampilan yang aplikatif," tambahnya.
Sementara itu, anggota tim pengabdian, menekankan pentingnya adaptasi teknologi dalam pengelolaan keuangan pesantren di era digital saat ini.
"Penggunaan teknologi sederhana seperti spreadsheet dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas pencatatan keuangan. Kami ingin mendorong santri agar tidak hanya melek akuntansi, tetapi juga melek teknologi, sehingga mampu meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam pengelolaan usaha," jelasnya.
Kegiatan pelatihan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari penyampaian materi di aula pesantren, dilanjutkan dengan praktik langsung di unit usaha masing-masing. Dalam sesi praktik, peserta didampingi untuk mencatat transaksi riil yang terjadi dalam kegiatan usaha mereka, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan relevan.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha, sebagai salah satu prinsip dasar dalam pengelolaan bisnis yang sehat. Hal ini diharapkan dapat membantu santri dalam membangun sistem keuangan yang lebih tertib dan profesional.
Evaluasi kegiatan dilakukan melalui metode pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman peserta sebelum dan setelah pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pemahaman peserta terhadap konsep dasar akuntansi dan pentingnya transparansi dalam pengelolaan keuangan.
Koordinator Program Studi S-3 Ilmu Akuntansi FEB UNJ, Prof. I Gusti Ketut Agung Ulupui, dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi pendidikan bagi masyarakat yang sangat bermanfaat pada Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
"UNJ berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui program-program yang memberikan dampak nyata. Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi pesantren, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu yang dimiliki," ungkapnya.
Beliau juga menambahkan bahwa program ini memiliki relevansi strategis dalam mendukung agenda internasionalisasi institusi.
"Penguatan literasi keuangan berbasis komunitas seperti ini juga menjadi bagian dari upaya kami dalam meningkatkan dampak sosial atau societal impact, yang merupakan salah satu indikator penting dalam akreditasi internasional seperti AACSB. Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam pengembangan institusi secara global," tambahnya.
Program ini juga sejalan dengan komitmen UNJ dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 (Quality Education), SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDGs 12 (Responsible Consumption and Production). Melalui inisiatif ini, UNJ berkontribusi pada pengembangan masyarakat yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, program Community Development ini diharapkan dapat menjadi katalisator dalam transformasi pengelolaan keuangan pesantren menuju sistem yang lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan. Dengan meningkatnya kapasitas santri dalam mengelola keuangan, diharapkan unit usaha pesantren dapat berkembang lebih optimal dan memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Ke depan, FEB UNJ berkomitmen untuk terus mengembangkan dan memperluas program serupa ke berbagai wilayah di Indonesia. Upaya ini merupakan bagian dari kontribusi berkelanjutan perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis masyarakat serta menciptakan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mandiri secara ekonomi dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Apa Reaksi Anda?