Ebola Diduga Mulai Menyebar Sampai ke Brasil
Wabah Ebola yang sudah menewaskan sekitar 250 orang di Afrika tengah, kini diduga mulai menyebar di Brasil setelah dua orang asal Kongo dan Uganda diisolasi karena menunjukkan 'gejala yang memenuhi de
JAKARTA - Wabah Ebola yang sudah menewaskan sekitar 250 orang di Afrika tengah, kini diduga mulai menyebar di Brasil setelah dua orang asal Kongo dan Uganda diisolasi karena menunjukkan 'gejala yang memenuhi definisi kasus dugaan' Ebola.
"Seorang pria berumur 37 tahun dari Republik Demokratik Kongo telah diisolasi setelah menunjukkan 'gejala yang memenuhi definisi kasus dugaan' Ebola," kata pemerintah negara bagian Sao Paulo.
Pejabat kesehatan negara bagian Rio de Janeiro juga telah memberlakukan langkah-langkah darurat setelah seorang pria dari Uganda menunjukkan 'gejala virus' itu.
Virus tersebut dikhawatirkan menyebar lebih cepat daripada bantuan medis yang diberikan, dan para ahli khawatir wabah tersebut kini telah mencapai Brasil .
Suatu jenis penyakit mematikan yang langka sedang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC), dengan lebih dari 1.000 kasus dilaporkan hingga saat ini.
Dilansir Daily Mail, Organisasi amal Doctors Without Borders memperingatkan, bahwa belum pernah terjadi sebelumnya wabah Ebola yang mencatat begitu banyak kasus, ternyata juga begitu cepat setelah dinyatakan sebagai wabah pertama.
Dr. Alan Gonzalez, wakil direktur operasionalnya, mengatakan, tidak ada yang tahu skala dan tingkat keparahan sebenarnya dari wabah ini. Ia menambahkan, bahwa timnya menyaksikan respons yang belum mampu mengimbangi penyebaran epidemi yang cepat.
Sementara itu, otoritas kesehatan Brasil sedang menyelidiki dua kasus dugaan Ebola itu.
Ebola ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh orang atau hewan liar yang terinfeksi. Gejalanya meliputi mual, ruam, dan pendarahan dari telinga, mata, hidung, dan mulut.
Strain virus saat ini dikenal sebagai virus Bundibugyo, yang hingga kini belum ada vaksinnya.
Terlepas dari kekhawatiran bahwa virus ini bisa menyebar ke negara lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyarankan negara-negara untuk tidak menutup perbatasan mereka karena hal ini mendorong para pelancong dari daerah rawan penyakit untuk berbohong saat melewati pos pemeriksaan.
Namun, Amerika Serikat telah melarang masuknya warga non-AS dari Republik Demokratik Kongo, Uganda,dan Sudan Selatan. Rwanda serta Uganda kemudian menutup perbatasan mereka.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, tindakan tersebut akan menghambat transparansi yang menyelamatkan nyawa.
Minggu (31/6/2026) kemarin, saat berkunjung ke Kongo timur, tempat sebagian penduduk memprotes protokol medis yang ketat untuk menangani jenazah korban, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa upaya untuk mengendalikan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo membutuhkan kerja sama antar masyarakat dan merupakan "tanggung jawab semua orang".
"Kita bisa menghentikan Ebola ini dan siapa pun yang terinfeksi juga bisa sembuh. Tetapi aturannya adalah hal ini menjadi urusan semua orang dan setiap warga negara harus terlibat," kata Ghebreyesus pada pembukaan pusat perawatan di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, yang menjadi pusat wabah Ebola itu. (*)
Apa Reaksi Anda?