Kopdar Nandur Dulur Pacitan Gagas Terobosan Pendataan Digital Hingga Terminal Kopi
Forum diskusi bertajuk pelestarian budaya dan perkebunan ini menyepakati gagasan pendataan petani berbasis sistem digital, perbaikan pola tanam, hingga wacana pembentukan 'Terminal Kopi'.
PACITAN - Ajang silaturahmi 'Kopdar Nandur Dulur' yang mempertemukan pemangku kebijakan, dinas terkait, dan aktivis pertanian di Pendopo Kecamatan Tulakan melahirkan terobosan besar bagi masa depan perkebunan kopi di Kabupaten Pacitan, Rabu (29/7/2026) malam.
Forum diskusi bertajuk pelestarian budaya dan perkebunan tersebut menyepakati gagasan pendataan petani berbasis sistem digital, perbaikan pola tanam, hingga wacana pembentukan 'Terminal Kopi'.
Langkah-langkah strategis ini dirancang untuk membenahi tata kelola komoditas kopi Pacitan dari hulu hingga hilir.
Ketua DPRD Pacitan, Arif Setia Budi, mengungkapkan bahwa tingginya permintaan pasar kopi selama ini kerap tidak berbanding lurus dengan kepastian stok.
Pasalnya, keberadaan potensi kopi Pacitan belum terdata dan terorganisir secara rapi.
"Kebutuhannya sungguh luar biasa banyak. Tapi di Kabupaten Pacitan banyak pohon kopi, belum tentu cari barang itu dapat. Karena mereka belum terkoordinasi, terorganisir dengan baik, para petani-petani kopi di Kabupaten Pacitan," kata Arif Setia Budi.
Guna mengatasi rintangan tersebut, Arif mendorong penggunaan platform digital yang mendata kepemilikan pohon kopi warga secara detail hingga tingkat RT demi memudahkan pemetaan tonase hasil panen saat bertransaksi dengan pembeli besar.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti dari sisi kebijakan teknis.
DKPP Pacitan bahkan menyiapkan konsep pemungkas berupa penyediaan Terminal Kopi sebagai pusat penampungan dan distribusi.
"Kami punya mimpi Pacitan itu kopinya nanti ada semacam sentral, terminal kopi kami menyebutnya. Bagaimana produksi kopi di Pacitan itu bisa berkumpul di situ. Jadi kalau ada perusahaan yang menawarkan kerja sama, kita memang harus bisa menjaga kontinuitas ketersediaannya," papar Kepala DKPP Pacitan.
Soroti Edukasi Petik Merah dan Penyatuan Visi
Sementara itu, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Pacitan, Syaiur Rohman, menekankan pentingnya edukasi teknik budidaya hingga pascapanen agar kopi Pacitan mampu bersaing di tingkat nasional dan tidak kehilangan identitas daerahnya.
"Kalau kita tanamnya dengan sungguh-sungguh dan golnya nanti sebagai *home industry* atau industri, kita harus memperbaiki cara tanam, salah satunya tanam dengan jarak pagar untuk meningkatkan produktivitas," ujar Syaiur Rohman.
Syaiur juga mengingatkan agar para petani tidak tergiur langsung memanen kopi yang belum matang sempurna demi menjaga kualitas dan daya tahan tanaman.
Ia mendorong konsistensi metode petik merah (red cherry) untuk mendongkrak harga jual.
"Ada dua opsi, pertama untuk bunga itu dirempeli dulu biar penguatan di fase vegetatifnya," tegas Ketua HKTI Pacitan tersebut.
"Kita dari HKTI memfokuskan program kerja ke depan bagaimana perkembangan kopi, budidaya, dan pembinaan dari hulu ke hilir. Termasuk menyatukan visi agar kopi Pacitan tidak 'terjajah' atau diakui oleh kabupaten lain," imbuhnya.
Sinergi pendataan digital, edukasi petik merah, serta kehadiran Terminal Kopi ini diharapkan mampu membangun ekosistem perkebunan kopi Pacitan yang solid, berkelanjutan, dan menyejahterakan para petani lokal. (*)
Apa Reaksi Anda?