dr. Sofyan Tan: Sosok Dokter Pendidikan Beresep Kesetaraan dan Bhinneka Tunggal Ika

Peningkatan keadilan dan kualitas mutu pendidikan merupakan tantangan terbesar bagi pembangunan pendidikan di Indonesia,

Februari 10, 2024 - 14:30
dr. Sofyan Tan: Sosok Dokter Pendidikan Beresep Kesetaraan dan Bhinneka Tunggal Ika

TIMESINDONESIA, JAKARTA TIMUR – Peningkatan keadilan dan kualitas mutu pendidikan merupakan tantangan terbesar bagi pembangunan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045. Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah telah memenuhi komitmen anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN sejak tahun 2009 dan terus meningkatkan anggaran pendidikan dari 332, 4 triliun rupiah pada tahun 2013 menjadi 550 triliun rupiah pada tahun 2021, 612,2 triliun rupiah pada tahun 2023 dan menjadi 660,8 triliun rupiah pada rencana alokasi anggaran pendidikan tahun 2024. Peningkatan anggaran ini meningkatkan keadilan dan kualitas mutu pendidikan dan kesejahteraan guru, mengurangi ukuran kelas (rasio guru-peserta didik) dan meningkatkan sarana dan prasarana satuan pendidikan.

Tentu saja pembicaraan mengenai pembangunan pendidikan Indonesia tidak hanya bertumpu pada pemerintah saja. Dalam rumusan Pentahelix untuk mencapai suatu tujuan yang sama perlunya komitmen dan kolaborasi dari multi pihak yang terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, badan dan pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media massa. Pada konteks ini peran masyarakat dalam mensukseskan pembangunan pendidikan Indonesia sangatlah penting. Salah satu kontribusi unsur masyarakat dalam pembangunan pendidikan Indonesia ini dilakukan oleh Sofyan Tan.

Sofyan Tan yang lahir di Desa Sunggal, Medan, pada tanggal 25 September 1959 memiliki nama Tionghoa “Tan Kim Yang”. Sofyan Tan merupakan anak ke - 8 dari 10 saudara yang lahir di keluarga Tionghoa sederhana dari pasangan Hisar (Tan A Guan) dan Hermina (Lie Giok Hwa). Sosok Sofyan Tan yang berlatar belakang dokter pendidikan ini memiliki komitmen dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. Dalam buku yang berjudul “Dokter Penakluk Badai, Biografi dr Sofyan Tan (2009)” yang ditulis oleh J. Anto menceritakan bagaimana perjuangan Sofyan Tan saat kuliah di Fakulas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia (UMI) Medan. Selama berkuliah, Sofyan Tan harus dihadapkan dengan isu rasis dirinya yang seorang keturunan Tionghoa, baik oleh dosennya maupun lingkungan pertemanannya. 

Untuk menyelesaikan studi pendidikan kedokterannya, Sofyan Tan yang sudah ditinggal oleh ayahnya karena meninggal dunia pada tahun 1980 harus hidup mandiri sambil bekerja. Berbagai ujian domestik yang harus dihadapi Sofyan Tan tidak membuat dirinya berdiam diri dari keterlibatannya pada dunia aktivis kampus dan perjuangan memajukan dunia pendidikan di daerahnya. Pada tahun 1990, Sofyan Tan berhasil menyelesaikan studi pendidikan kedokterannya dan menyandang gelar dr. Sofyan Tan.

Dedikasi Memajukan Dunia Pendidikan yang Berbhineka Tunggal Ika

Pada tanggal 25 Agustus 1987, dr. Sofyan Tan yang saat itu berusia 28 tahun membangun Sekolah Sultan Iskandar Muda di bawah naungan Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) di Sunggal, Medan. Sekolah Sultan Iskandar Muda ini memiliki jenjang pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah yang Didirikan oleh dr. Sofyan Tan terinspirasi dari realitas sosial dunia pendidikan dan segregasi di masyarakat yang begitu terstratifikasi secara sosial-ekonomi, termasuk isu SARA. Kegelisahan dan menekankan kondisi realitas sosial inilah yang kemudian menggerakan dr. Sofyan Tan mendirikan sekolah bagi anak-anak yang tak mampu, dengan asas pembauran. Jika Martin Luther King di Amerika Serikat bermimpi suatu saat warga kulit hitam bisa memiliki hak-hak yang setara dengan warga kulit putih lainnya, maka mimpi Sofyan Tan kala membangun Sekolah Sultan Iskandar Muda adalah agar suatu saat anak-anak miskin bisa bersekolah di sekolah yang bermutu .

Sekolah yang didirikan oleh dr. Sofyan Tan ini diharapkan dapat menjadi media untuk mengatasi permasalahan prasangka dan cara pandang yang stereotip, padahal sesungguhnya perbedaan suku, agama, dan ras adalah hal yang harus di syukuri. setara dengan semboyan bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Untuk itu Sekolah Sultan Iskandar Muda ini memiliki visi mendidik generasi muda Indonesia menjadi manusia yang cerdas, religius, humanis dalam bingkai kesetaran dan keberagaman.

Penerapan Pendidikan Multikultural yang diselenggarakan di sekolah ini dilaksanakan dengan berbagai langkah kegiatan, diantaranya: (1) Doa lintas agama pada kegiatan belajar mengajar di kelas dan upacara nasional, perayaan hari besar agama dr. Sofyan Tan: Sosok Dokter Pendidikan Beresep Kesetaraan dan Bhinneka Tunggal Ika atau kegiatan pengayaan peserta didik; (2) Pengintegrasian nilai-nilai multikultural dalam setiap pembelajaran; (3) Mengadakan kelas agama bersama dengan mengadakan diskusi dan dialog peserta didik lintas agama untuk membahas topik tertentu dan difasilitasi guru lintas agama yang bertujuan menanamkan ajaran agama yang inklusif; (4) Kegiatan ekstrakurikuler yang mengasah kemampuan literasi, seni, dan berpikir kritis yang berbasis pendidikan multikultural; (5) Klub penelitian sains dan ilmu sosial; dan (6) Kurikulum nasional yang dikembangkan sesuai dengan visi dan misi sekolah, dan terintegrasi.

Untuk itulah di sekolah yang didirikan dr. Sofyan Tan tidak ada kelompok mayoritas atau minoritas, bahkan ia menjadikan tempat ibadah dari berbagai agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia. dr. Sofyan Tan ingin menghadirkan pendidikan yang berbhineka tunggal ika sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia. Selain itu juga, bagi anak yang kurang beruntung secara ekonomi yang melanjutkan pendidikan di YPSIM dibebaskan dari biaya uang sekolah dan mendapatkan hak dan kewajiban yang sama seperti peserta didik lainnya.

Pendidikan yang berkualitas juga perlu dibarengi dengan upaya secara sadar untuk menanamkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan untuk menyadarkan realita pluralitas masyarakat Indonesia. Untuk mewujudkan misinya memberantas kemiskinan dan memberi bekal pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak dari keluarga miskin, sejak tahun 1989 dr. Sofyan Tan juga turun langsung ke rumah-rumah warga prasejahtera untuk mengulurkan tangan membantu anak – anak bangsa agar dapat melanjutkan pendidikan.

Bagi dr. Sofyan Tan, pendidikan memandu segala potensi alami yang ada pada diri setiap anak-anak Indonesia, sehingga mereka dapat mencapai tingkat kebahagiaan dan keselamatan tertinggi sebagai individu dan anggota masyarakat. Selain itu juga melalui pendidikan yang diharapkan dapat membangun kualitas sumber daya manusia dalam rangka mewujudkan tujuan negara sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan Undang – Undang Dasar 1945. Melalui jalur pendidikan, Sofyan Tan yakin dan percaya bangsa dan negara ini akan semakin maju, tampil, dan beradab. Hal ini sebagaimana diungkapkan Presiden Soekarno dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi” (1964) yang menjelaskan bahwa pendidikan merupakan arena untuk mengasah pikiran dan mengembangkan intelektualitas atau renaissance pedagogi untuk kemajuan suatu bangsa dan negara.

Oleh karena itu pendidikan yang berkualitas menurut dr. Sofyan Tan perlu dibarengi dengan upaya secara sadar untuk menanamkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan untuk menyadarkan realita pluralitas masyarakat Indonesia. Untuk mewujudkan misinya memberantas kemiskinan dan memberi bekal pendidikan yang berkualitas serta internalisasi nilai kebhineka tunggal ikaan kepada anak-anak dari keluarga miskin, dr. Sofyan Tan sejak tahun 1989 turun langsung ke rumah-rumah warga prasejahtera untuk mengulurkan tangan membantu anak bangsa agar dapat melanjutkan pendidikan yang berkualitas. Menurut dr. Sofyan Tan, setiap warga negara berhak mendapatkan hak pendidikan sebagaimana amanah undang-undang – undang-undang dan bagian dari hak asasi manusia. Mimpi dr. Sofyan Tan adalah terwujudnya pendidikan untuk seluruh di Indonesia.

Untuk membantu masyarakat dari kelas ekonomi yang kurang, dr. Sofyan Tan juga membuat program orang tua asuh dengan sistem berastai dan bersilang. Program orang tua asuh berantai ini dimaksudkan dalam meneruskan visi misi memberantas kemiskinan melalui pendidikan, maka seorang anak asuh yang telah sukses diharapkan dapat membantu orang yang kurang mampu lainnya dalam mengakses pendidikan tanpa membedakan suku, agama dan ras. Sementara program orang tua asuh bersilang maksudnya antara donatur dan anak asuh sebagai praktik nyata guna menghapus steorotip dan saling mengenal budaya antar suku, agama dan ras untuk mengakses bersama – sama membantu anak – anak dalam pendidikan. Para orang tua asuh ini tidak hanya mereka yang tinggal di Medan dan tempat-tempat lain di Sumatera Utara, tetapi juga di Jakarta hingga di luar negeri. 

Selain program orang tua asuh berantai dan bersilang, terdapat juga program “Beasiswa Sofyan Tan”. Program “Beasiswa Sofyan Tan” ini memberikan beasiswa berupa bantuan keuangan yang diberikan kepada individu yang bertujuan untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang dicapai. Setidaknya ada 30 peserta didik yang sudah merasakan manfaat dari “Sofyan Tan Scholarship”. Lalu ada program “Beasiswa Peserta Didik Berprestasi” yang dimana memberikan bantuan kepada anak – anak yang berprestasi di bidang akademik dan non akademik. Program “Beasiswa Peserta Didik Berprestasi” ini setidaknya sudah dirasakan oleh 1.430 peserta didik berprestasi. Kemudian ada program “Pengurangan Uang Sekolah”. Dimana program ini memberikan bantuan kepada peserta didik dengan pengurangan biaya sekolah. Setidaknya sudah 10.937 peserta didik merasakan subsidi biaya pendidikan dari program ini.

Selain bantuan pendidikan pada jenjang sekolah, dr. Sofyan Tan juga membuat program bantuan pendidikan pada jenjang perguruan tinggi. Harapan dr. Sofyan Tan agar para alumni Sekolah Sultan Iskandar Muda yang berprestasi dan kurang mampu secara ekonomi tetap dapat melanjutkan studinya di jenjang perguruan tinggi. Sehingga melalui bekal pendidikan di jenjang perguruan tinggi, nantinya para alumni Sekolah Sultan Iskandar Muda dapat melakukan mobilitas sosial-ekonomi pada kehidupannya dan dapat terlibat menjadi orang tua asuh untuk membantu pendidikan anak – anak yang lain. Untuk itu dr. Sofyan Tan membuat program “Beasiswa Apresiasi Lolos Perguruan Tinggi Negeri”. Beasiswa ini diperuntukan baik mereka yang dinyatakan lulus diterima di suatu perguruan tinggi. Melalui program ini, setidaknya sudah ada 763 alumni yang menerima manfaat dari program ini. Lalu ada program “Beasiswa Parsial Lanjut Kuliah”. Program ini bantuan biaya pendidikan pada beberapa semester agar dapat menyelesaikan studi pada perguruan tinggi, baik di negeri maupun swasta. Setidaknya sudah 33 alumni mendapatkan beasiswa parsial untuk biaya kuliahnya.

Dedikasi dr. Sofyan Tan terhadap dunia pendidikan tidak hanya pada jenjang Sekolah Sultan Iskandar Muda saja. Namun ia juga ikut mendirikan sebuah perguruan tinggi yang bernama Universitas Satya Terra Bhinneka yang berlokasi sama dengan Sekolah Sultan Iskandar Muda pada Agustus 2022. Visi Universitas Satya Terra Bhinneka yang didirikan oleh Sdr. ofyan Tan, yakni menjadi perguruan tinggi terdepan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan penelitian yang berbasis nilai-nilai keberkelanjutan (sustainability) dan keberagaman. Melalui perencanaan tata kelola fasilitas, pengembangan ikonik, dan penumbuhan budaya institusi yang inklusif, kolaboratif, dan inovatif. Keunikan dari Universitas Satya Terra Bhinneka, yaitu menggunakan kombinasi 3 bahasa. Dimana menggunakan 1 bahasa asing (latin), 1 bahasa Asia yang mempengaruhi bahasa Indonesia (Sanskerta), dan 1 bahasa lokal (Jawa Kuno). Ini melambangkan relevansi Universitas Satya Terra Bhinneka dalam dunia internasional, regional (Asia), dan lokal (Indonesia). Universitas Satya Terra Bhinneka menggunakan wawasan internasional, regional, dan lokal dalam membangun generasi bangsa yang akan menjadi agen perubahan di dunia internasional, regional, dan lokal. dr. Sofyan Tan berharap melalui Universitas Satya Terra Bhinneka dapat mencetak guru-guru yang berkesadaran keberagaman dan peduli terhadap lingkungan hidup, sehingga skala dan dampak perjuangan ini dapat semakin luas.

Penghargaan Untuk Pejuang Pendidikan

Apa yang sudah dilakukan oleh dr. Sofyan Tan untuk membangun pendidikan yang berkeadilan dan berbhineka tunggal ika menjadi bukti atas dedikasinya pada dunia pendidikan dan masyarakat. Tentu tidak banyak orang seperti dr. Sofyan Tan yang mau berjuang dan berkorban dengan ikhlas untuk memajukan pendidikan dan masyarakat di daerahnya. Apa yang dilakukan oleh dr. Sofyan Tan memberikan asa bagi mereka yang mengalami eksklusi sosial, khususnya pada akses pendidikan.

Atas sumbangsih yang dilakukan oleh dr. Sofyan Tan, Ashoka Innovators for Public, Amerika Serikat pada tahun 1989 memberikan penghargaan berupa Fellow Ashoka Bidang Ethnic Relations & Educations. Kemudian Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia pada tahun 1990 memberikan penghargaan kepada dr. Sofyan Tan sebagai Pemuda Pelopor Pembangunan Bidang Kesetiakawanan Sosial. Lalu surat kabar nasional dan terbesar di Indonesia, Kompas pada tahun 1995, pernah menuliskan dirinya sebagai sosok paling “asli” dibandingkan orang Indonesia “asli” (Kompas 6 Agustus 1995, “Lebih Jauh dengan Dokter Sofyan Tan.”) karena mendirikan sekolah pembauran. Sebelumnya tahun 1992, Kompas juga menobatkan, bersama 6 orang Indonesia lainnya, sebagai “Tujuh orang gila” karena gagasan, pilihan hidup, dan apa yang dilakukan lewat sekolah Sultan Iskandar Muda, di Sunggal, Medan, dinilai unik dan langka dilakukan orang seusianya saat itu . dr. Sofyan Tan juga dianggap sebagai tokoh terpopuler di Sumatera Utara Versi Harian Waspada pada tahun 1994.

Pada tahun 2002, dr. Sofyan Tan meraih Anugrah Wiyata Mandala Provinsi Sumatera Utara sebagai Tokoh Pendidikan oleh Gubenur Provinsi Sumatera Utara. Ia juga pernah masuk dalam polling versi Harian Medan Bisnis pada tahun 2003 sebagai tokoh yang paling diinginkan masyarakat menjadi Gubenur Provinsi Sumatera Utara. Lalu pada tahun 2007, dr. Sofyan Tan terpilih sebagai penerima Penghargaan Danamon Award 2007 dalam kategori Program Gerakan Orangtua Asuh. Tahun 2011, Koran Sindo Jakarta, memilihnya sebagai People of the Year 2012 di bidang Kewirausahaan Sosial. Berikutnya tanggal 7 Juni 2014, Maarif Institute suatu lembaga gerakan kebudayaan dalam konteks keislaman, kemanusiaan dan keindonesiaan memberikan penghargaan Maarif Award kepada sekolah yang ia dirikan. 

dr. Sofyan Tan bersama sekolahnya dinilai telah merawat keindonesiaan dengan menjadikan pendidikan sebagai media untuk meruntuhkan tembok segregasi etnis dan menghapus kebencian yang bersumber dari prasangka etnisitas. Pendekatan subsidi luas dan lintas, pembiayaan sekolah dari orang mampu ke yang tidak mampu, juga dinilai telah berperan penting dalam mengikis pesan sosial akibat pemerasan ekonomi. Selain itu juga di tahun 2014 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, menganugerahkan penghargaan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda sebagai Yayasan Pendidikan Peduli Sosial.

dr. Sofyan Tan adalah satu dari sekian orang Tionghoa Indonesia yang kiprah dan jasanya di bidang pendidikan telah diapresiasi oleh pemerintah, lembaga swasta maupun media massa. Namun dr. Sofyan Tan bukan hanya dikenal sebagai tokoh penganjur pluralisme dan multikulturalisme lewat pendidikan. Ia juga tokoh lingkungan yang berjuang untuk pelestarian orang utan dan mempromosikan pentingnya pertanian menyelaraskan alam dengan mendirikan Yayasan Ekosistem Lestari. Ia juga banyak terlibat dalam upaya penguatan kerakyatan ekonomi melalui Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) untuk memajukan dunia UMKM Indonesia.

dr. Sofyan Tan adalah salah satu sosok inspirasi bagi kita semua. Melalui pemikirannya tentang keadilan dan pemerataan pendidikan serta semangat bhineka tunggal ika, menjadi refleksi kita bersama bahwa masih ada anak bangsa di republik ini yang memikirkan persatuan dan kesatuan di atas perbedaan SARA, dan pendidikan untuk semua. dr. Sofyan Tan, sosok dokter pendidikan yang memberikan keadilan dan bhineka tunggal ika untuk kemajuan bangsa dan negara melalui pendidikan.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow