Dosen UGM Ubah Lahan Bekas Tambang Jadi Produktif, Ini Kisah Inspiratif Agus 'Picoez'

Agus Affianto, Dosen Fakultas Kehutanan UGM bersama timnya terlibat dalam upaya rehabilitasi lahan tailing, limbah pasir bekas tambang timah di Desa Manggar, Kabupaten Belitung Timur.

April 12, 2026 - 22:30
Dosen UGM Ubah Lahan Bekas Tambang Jadi Produktif, Ini Kisah Inspiratif Agus 'Picoez'

YOGYAKARTA - Di balik hamparan tandus bekas tambang yang nyaris tak bernyawa, ada harapan baru berkat sentuhan ilmu pengetahuan. Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) membuktikan lahan ekstrem pun bisa kembali produktif jika ditangani dengan pendekatan tepat dan berkelanjutan.

Upaya reklamasi lahan bekas tambang terus menunjukkan perkembangan positif.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat, hingga Juni 2025, realisasi reklamasi telah mencapai 5.739,39 hektare atau sekitar 80,43 persen dari target nasional sebesar 7.135 hektare.

Tren kepatuhan perusahaan tambang terhadap kewajiban reklamasi pun meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, di balik capaian tersebut, tantangan besar masih membayangi. Banyak lahan bekas tambang mengalami degradasi parah, kehilangan kesuburan, dan sulit ditanami kembali. Kondisi ini menuntut inovasi dan intervensi berbasis riset untuk mempercepat pemulihan ekosistem.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Agus Affianto, dosen Fakultas Kehutanan UGM yang akrab disapa Picoez. Ia bersama timnya terlibat dalam upaya rehabilitasi lahan tailing, limbah pasir bekas tambang timah di Desa Manggar, Kabupaten Belitung Timur.

Menurut Picoez, kondisi lahan di sekitar kawasan tersebut tergolong ekstrem. Bahkan, berdasarkan studi sebelumnya, rumput membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk bisa tumbuh secara alami di area tersebut.

“Ini bukan lahan biasa. Tanahnya sangat miskin unsur hara dan sulit menyerap air,” katanya, Minggu (12/4/2026).

Tantangan semakin kompleks ketika suhu permukaan pasir di lokasi bisa mencapai lebih dari 60 derajat Celsius pada pagi hari. Selain itu, sifat tanah yang tidak mampu menahan air membuatnya mudah menjadi asam saat hujan turun.

Menghadapi kondisi tersebut, Picoez dan tim tidak menggunakan pendekatan konvensional.

Mereka mengembangkan metode kompos blok sebagai media tanam awal. Kompos dipadatkan untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan kelembapan sekaligus menyediakan unsur hara bagi tanaman.

Melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak, metode ini diuji coba pada lahan seluas sekitar 10 hektare. Sejumlah tanaman seperti buah naga, kelengkeng, cemara, dan jambu mulai ditanam sebagai langkah awal membangun ekosistem baru.

Picoez menjelaskan, ada empat tahapan penting dalam proses rehabilitasi lahan ekstrem. Pertama, memastikan tanaman bisa hidup dengan bantuan media kompos. Kedua, menjaga keberlangsungan hidup tanaman melalui pemantauan intensif.

Ketiga, meningkatkan kualitas tanaman melalui pemupukan. Dan terakhir, memastikan tanaman mampu memberikan manfaat ekonomi maupun ekologis.

“Tidak bisa instan. Menghadapi kondisi ekstrem harus dengan pendekatan yang berbeda dan proses yang panjang,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga keterlibatan masyarakat. Menurutnya, banyak program rehabilitasi gagal karena mengabaikan kondisi sosial warga setempat.

“Yang terpenting adalah bagaimana program ini juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam praktiknya, keterlibatan warga tidak selalu mudah. Sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut terbiasa bekerja di sektor tambang, sehingga perlu pendekatan khusus untuk mengajak mereka beralih ke kegiatan rehabilitasi.

Meski begitu, ada kisah yang membekas bagi Picoez, yakni semangat seorang warga lanjut usia bernama Nek Inah.

Meski sempat kehilangan hasil panen semangka akibat pencurian, ia tetap bertekad melanjutkan usahanya.“Semangat seperti itu yang membuat kami terus bertahan,” kata Picoez.

Seiring waktu, lahan yang dulunya tandus mulai menunjukkan perubahan. Tanaman tumbuh, ekosistem perlahan terbentuk, dan manfaat ekonomi mulai dirasakan masyarakat.

Picoez menilai, secara alami kawasan tersebut sebenarnya bisa pulih, namun membutuhkan waktu puluhan tahun. Karena itu, intervensi manusia menjadi kunci untuk mempercepat proses pemulihan lingkungan.

Kini, model rehabilitasi yang dikembangkan timnya mulai diadaptasi di berbagai daerah dengan kondisi serupa.

Ia pun berharap, ke depan, pengelolaan hutan dan lingkungan tidak hanya dipandang dari sisi ekonomi, tetapi juga sebagai penopang keseimbangan kehidupan.

“Ketika kita merawat alam dengan baik, hasilnya akan kembali kepada manusia,” paparnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow