Donald Trump Tiba-tiba Umumkan Pembukaan Permanen Selat Hormuz, Ada Apa?

Pernyataan Trump itu diungkapkan setelah sejumlah negara seperti Spanyol  Uni Emirat Arab, dan Rabu (15/4/2026) siang Rusia, 'merapat' ke China di tengah perang Timur Tengah antara Amerika Serikat den

April 16, 2026 - 09:05
Donald Trump Tiba-tiba Umumkan Pembukaan Permanen Selat Hormuz, Ada Apa?

JAKARTA - Secara tiba-tiba, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan Selat Hormuz 'terbuka secara permanen'.

Pernyataan itu ia rilis setelah melakukan pembicaraan rahasia dengan Presiden China, Xi Jinping , dan ia mengklaim pemimpin China itu telah setuju untuk menghentikan persenjataan Iran.

Pernyataan Trump itu diungkapkan setelah sejumlah negara seperti Spanyol  Uni Emirat Arab, dan Rabu (15/4/2026) siang Rusia, 'merapat' ke China di tengah perang Timur Tengah antara Amerika Serikat dengan Iran itu.

Trump menyampaikan pengumumannya itu Rabu siang tadi di Truth Social, dan ia menambahkan bahwa Xi akan memberinya 'pelukan hangat yang besar' pada pertemuan mendatang.

"China  sangat senang karena saya membuka Selat Hormuz secara permanen," tulis Trump di Truth Socialnya. "Saya melakukannya untuk mereka juga dan untuk dunia. Situasi ini tidak akan pernah terjadi lagi," tambahnya.

"Kita bekerja sama dengan cerdas, dan sangat baik! Bukankah itu lebih baik daripada berkelahi??? TAPI INGAT, kita sangat pandai berkelahi, jika memang harus - jauh lebih baik daripada siapa pun!!!," tulisnya.

Setelah perundingan perdamaian dengan rezim Iran gagal pada akhir pekan kemarin, Trump langsung memerintahkan angkatan laut AS memblokade Selat Hormuz, jalur minyak penting yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia. 

Trump memberlakukan blokade itu untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan, dan Tump dilaporkan enggan untuk melanjutkan kampanye pengeboman yang telah membawa kekacauan ke Timur Tengah.

Masih belum jelas apakah Trump menyatakan selat tersebut langsung terbuka untuk lalu lintas pelayaran atau memberi sinyal niat untuk mencapai resolusi permanen sementara pembicaraan damai dengan Iran berlanjut. 

Merapat ke China

Sebelumnya beberapa negara seperti Spanyol dan Uni Emirat Arab dan Rusia "merapat" ke China ditengah perang Timur Tengah antara Amerika Serikat dengan Iran.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Rabu siang tadi menemui Presiden China, Xi Jinping di Beijing.

Sehari sebelumnya, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, dan pemimpin Vietnam, To Lam juga menemui Xi.

Dalam konferensi pers setelah bertemu dengan Presiden China Xi Jinping, Lavrov mengatakan, bahwa Moskow bisa "mengkompensasi" kekurangan energi yang dialami China karena pengiriman melalui Selat Hormuz masih terhambat adanya perang di Iran.

Sementara itu, Xi berupaya memposisikan China sebagai mediator dan mitra yang stabil dalam menghadapi konflik yang dipimpin oleh AS dan Israel.

Kepada  putra mahkota Abu Dhabi pada hari Selasa, Xi mengatakan bahwa China akan memainkan "peran konstruktif" dalam mempromosikan perundingan perdamaian di Timur Tengah.

Dalam pembicaraan dengan PM Spanyol Pedro Sanchez, Xi memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi 'kekacauan dan gejolak' serta 'pertarungan antara keadilan dan kekuatan', dan mendesak kerja sama yang lebih erat.

Perdana Menteri Spanyol pun menyambut baik peran China dalam upaya menyelesaikan konflik di Timur Tengah.

Menurut profesor madya di Universitas Teknologi Nanyang Singapura, Dylan Loh, meskipun tingkat aktivitas diplomatik normal bagi Beijing, perang di Timur Tengah dan khususnya isu keamanan energi telah menjadi semakin mendesak dalam diskusi diplomatik

"China memiliki pengaruh dan daya tawar atas Iran, dan ada beberapa harapan dan ekspektasi bahwa China bisa menggunakan pengaruh ini dengan cara yang lebih langsung," kata Loh.

"Negara-negara, khususnya di Teluk, mungkin berharap China bisa menekan Iran untuk menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk dan untuk melanjutkan negosiasi diplomatik," katanya.

"Rentetan kunjungan tersebut menunjukkan bahwa berbagai aktor sedang menyesuaikan diri dengan realitas dunia yang tidak pasti. Berinteraksi dengan China, termasuk dalam hal-hal yang berbeda, adalah bagian dari penyesuaian ini," tambah Ja Ian Chong, seorang ilmuwan politik di Universitas Nasional Singapura.

Meskipun banyak kunjungan kemungkinan direncanakan sebelum krisis Timur Tengah, kunjungan dari perwakilan negara-negara Teluk dan Lavrov "tampaknya lebih merupakan hasil langsung dari konflik dan keinginan untuk meredakan ketegangan," ujar Chong.

Lavrov, yang sedang melakukan kunjungan dua hari ke China untuk meningkatkan hubungan bilateral, mengatakan Rusia bisa  membantu China dengan sumber daya energi setelah blokade Selat Hormuz.

China adalah negara pengimpor minyak bersih dan telah menyaksikan harga bensin, plastik, dan pupuk melonjak akibat perang.

"Rusia, tanpa ragu, dapat mengimbangi kekurangan sumber daya yang muncul baik bagi China maupun bagi negara-negara lain yang tertarik untuk bekerja sama dengan kami," kata Lavrov dalam konferensi pers di Beijing, seperti dilaporkan media pemerintah Rusia pada hari Rabu.

"Namun, kepentingan Moskow dan Beijing mungkin agak berbeda dalam perang di Iran," kata Chong.

"Harga energi yang tinggi mengganggu perekonomian China, tetapi dapat membantu Moskow mendanai perangnya di Ukraina," kata Chong lagi.

Selama pertemuannya dengan Lavrov di Balai Besar Rakyat Beijing, Xi mendesak China dan Rusia untuk 'memanfaatkan sepenuhnya keunggulan kedekatan geografis dan saling melengkapi, memperdalam kerja sama menyeluruh, dan meningkatkan ketahanan pembangunan masing-masing'.

Menurut siaran pers dari stasiun televisi pemerintah China, CCTV, Xi manyatakan, "Kedua belah pihak harus mempertahankan fokus strategis, saling percaya, saling mendukung, dan berkembang bersama."

Lavrov mengatakan kepada Xi bahwa hubungan China-Rusia 'memainkan peran stabilisasi dalam urusan dunia', menurut kantor berita negara Rusia.

Menurut kementerian luar negeri China, pada hari Selasa, Lavrov dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi 'melakukan pertukaran mendalam mengenai konflik AS-Iran, situasi Asia-Pasifik, krisis Ukraina' dan isu-isu lainnya

Mereka juga membahas rencana pertemuan antara Putin dan Xi, yang menurut Lavrov akan berlangsung pada paruh pertama tahun ini. China dan Rusia adalah mitra ekonomi dan politik yang erat, dan hubungan tersebut semakin mendalam sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow