Disperpusip Ponorogo Menggelar Lomba Bertutur Tingkat SD/MI
Disperpusip Ponorogo gelar Lomba Bertutur Harkitnas 2026 untuk menumbuhkan budaya literasi, cinta cerita rakyat, dan keberanian tampil siswa SD/MI.
PONOROGO - Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 di Kabupaten Ponorogo diperingati dengan cara yang kreatif sekaligus edukatif. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ponorogo (Disperpusip Ponorogo) , bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), menggelar Lomba Bertutur bagi siswa-siswi tingkat SD/MI se-Kabupaten Ponorogo, Rabu (20/5/2026).
Acara yang berlangsung semarak ini diikuti oleh puluhan delegasi terbaik dari berbagai kecamatan di Bumi Reog. Mengenakan pakaian adat dan membawa berbagai properti menarik, para peserta tampak antusias unjuk kebolehan dalam menyampaikan cerita rakyat local dengan gaya yang ekspresif.
Plt Kepala Dinas Perpusip Kabupaten Ponorogo, Nurhadi Hanuri, dalam sambutannya menegaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang perebutan juara. Lebih dari itu, lomba ini merupakan stimulus penting untuk membangkitkan kembali budaya literasi dan kecintaan terhadap sejarah lokal sejak usia dini.
"Hari Kebangkitan Nasional harus kita maknai sebagai momentum kebangkitan intelektual generasi muda. Melalui Lomba Bertutur ini, kita sedang menanamkan akar budaya, membentuk karakter, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi anak-anak kita agar berani tampil di depan publik," ujar Nurhadi Hanuri saat membuka acara di Aula STM Jenangan Ponorogo.
Nurhadi juga menyampaikan apresiasi yang mendalam atas sinergi yang terjalin dengan Perpustakaan Nasional RI. Menurutnya, dukungan dari pusat memperkuat komitmen daerah dalam menggalakkan program gemar membaca.
"Kami sangat berterima kasih atas kolaborasi dengan Perpusnas RI. Sinergi ini membuktikan bahwa pembangunan literasi adalah tanggung jawab bersama.
Kita ingin anak-anak Ponorogo tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga kaya akan nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita-cerita nusantara," tambahnya. Peserta
Lomba Bertutur tahun ini menitikberatkan penilaian pada penguasaan materi dan alur cerita, teknik vokal seperti intonasi, artikulasi, dan kejelasan suara, penampilan peserta, serta kemampuan menyampaikan pesan moral dari cerita yang dibawakan.
Para juri yang berkompeten di bidang sastra, teater, dan dongeng anak tampak selektif dalam memberikan penilaian. Penonton yang didominasi oleh guru pendamping dan orang tua siswa berulang kali memberikan tepuk tangan riuh saat para peserta cilik ini berhasil menirukan berbagai karakter suara dalam dongeng mereka.
Melalui kegiatan ini, Disperpusip Ponorogo berharap pemenang tingkat kabupaten nantinya dapat melaju dan mengukir prestasi di tingkat provinsi hingga nasional, sekaligus menjadi 'Duta Baca' cilik yang menginspirasi teman-teman sebaya di sekolah masing-masing. (*)
Apa Reaksi Anda?