Disdikpora Cianjur Pastikan Pemulihan Mental dan Kelanjutan Sekolah Korban Bencana Jamali
Upaya pemerintah saat ini tidak hanya bertumpu pada pemberian bantuan logistik semata, melainkan juga menitikberatkan pada stabilitas kegiatan belajar mengajar.
CIANJUR - Pemerintah Kabupaten Cianjur (Pemkab Cianjur) melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) melakukan langkah cepat guna menangani para pelajar yang menjadi korban bencana alam di Desa Jamali, Kecamatan Mande.
Upaya pemerintah saat ini tidak hanya bertumpu pada pemberian bantuan logistik semata, melainkan juga menitikberatkan pada stabilitas kegiatan belajar mengajar agar tetap berlangsung secara normal meskipun dalam situasi darurat.
Kepala Disdikpora Kabupaten Cianjur, Ruhli Solehudin, mengungkapkan bahwa jajarannya telah turun langsung ke lokasi bencana untuk melakukan validasi data.
Langkah pemetaan ini krusial guna mengidentifikasi jumlah pasti peserta didik yang terdampak serta mendalami apa saja kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi agar hak pendidikan mereka tidak terputus.
Berdasarkan hasil pemetaan komprehensif di lapangan, tercatat puluhan pelajar dari beragam strata pendidikan menjadi korban terdampak.
Sebaran siswa tersebut mencakup jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
“Setelah melaksanakan mapping di lapangan, terdapat sekitar 32 anak yang terdampak. Dari jenjang PAUD sekitar dua orang, SD 18 orang, SMP 10 orang, dan SMK tiga orang,” ujar Ruhli dalam keterangan tertulis, Kamis (7/5/2026).
Sebagai bentuk konkret dukungan pemerintah, Disdikpora telah mendistribusikan berbagai sarana penunjang pendidikan.
Paket bantuan yang disalurkan meliputi school kit lengkap, perlengkapan harian sekolah, hingga santunan uang tunai sebagai stimulan pemenuhan kebutuhan pribadi para siswa di tengah masa sulit.
“Pada kesempatan itu kita memberikan bantuan berupa school kit, kemudian seragam sekolah, sepatu sekolah, dan mudah-mudahan ke depan kita ajukan juga untuk mendapatkan beasiswa,” katanya menjelaskan.
Ruhli merinci bahwa penyaluran dana tunai sebesar Rp500 ribu diberikan dengan pertimbangan fleksibilitas.
Dengan uang tersebut, keluarga korban diharapkan dapat secara mandiri membelikan kebutuhan sekolah yang paling pas, terutama menyangkut aspek teknis seperti ukuran pakaian atau alas kaki.
“Kita memberikan uang kadeudeuh sekitar Rp500 ribu untuk pembelian sepatu dan seragam sekolah. Kalau dibelikan langsung, dikhawatirkan ukurannya tidak sesuai,” tambahnya.
Di luar dukungan material, aspek kesehatan mental para pelajar pascatragedi turut menjadi prioritas utama.
Pemerintah menaruh perhatian khusus terhadap potensi trauma yang bisa meredupkan semangat belajar serta mengganggu perkembangan psikologis jangka panjang anak-anak di wilayah tersebut.
Oleh karena itu, Disdikpora telah menginstruksikan seluruh jajaran di satuan pendidikan, mulai dari pimpinan sekolah hingga guru bimbingan konseling, untuk membangun pola komunikasi yang intensif.
Pendekatan persuasif kepada siswa dan orang tua dianggap menjadi kunci utama dalam menjaga moril anak didik.
“Kita terus berkomunikasi dengan kepala sekolah dan wali kelas supaya memberikan support kepada anak didik agar tidak terlalu down. Karena bagaimanapun ini merupakan kewajiban bersama untuk terus memberikan motivasi agar anak-anak tetap ingin bersekolah,” jelas Ruhli.
Sinergi lintas sektoral pun diperkuat dengan melibatkan tenaga medis dari Puskesmas setempat.
Kolaborasi ini bertujuan untuk memantau secara berkala kondisi fisik dan kejiwaan para siswa, sehingga indikasi trauma yang mendalam atau gangguan kesehatan dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin.
“Kita telah berkoordinasi dengan pihak Puskesmas karena kita wajib melihat perkembangan kondisi anak. Jangan sampai ada yang sakit atau mengalami trauma berkepanjangan,” tuturnya.
Sejauh ini, Ruhli memastikan bahwa seluruh anak yang terdampak masih menunjukkan komitmen untuk menimba ilmu di sekolah masing-masing.
Antusiasme para pelajar tersebut menjadi sinyal positif bahwa proses pemulihan sosial di lingkungan pendidikan berjalan ke arah yang benar.
“Alhamdulillah semuanya masih melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kemarin juga kita instruksikan apabila ada siswa yang tidak datang sekolah harus segera dicek dan dikomunikasikan dengan orang tua,” timpalnya.
Pemerintah juga meminta pihak sekolah untuk proaktif dalam mengatasi kendala teknis, seperti masalah transportasi menuju sekolah yang mungkin rusak akibat bencana.
Jika diperlukan, sekolah diminta melakukan penjemputan agar tidak ada satu pun siswa yang tertinggal dalam proses akademik harian.
Tingginya kemauan siswa untuk tetap berangkat sekolah meskipun sedang tertimpa musibah menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah.
Fenomena ini sekaligus menjadi penambah semangat bagi jajaran pendidikan untuk memberikan pelayanan yang maksimal demi masa depan generasi muda Cianjur.
“Motivasi dan harapan mereka untuk tetap sekolah masih tinggi. Itu menjadi motivasi tersendiri bagi kita semua untuk terus melayani dunia pendidikan,” imbuhnya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Cianjur berharap kerja sama yang harmonis antara institusi pendidikan, layanan kesehatan, perangkat desa, serta masyarakat dapat mempercepat proses rehabilitasi.
"Dengan dukungan menyeluruh, anak-anak korban bencana diharapkan dapat kembali meraih masa depannya dalam suasana belajar yang aman dan kondusif," tandasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?