Dirut Bulog: Sinergi Lintas Sektor Perkuat Stok Beras Nasional Hingga 5,3 Juta Ton
Stok cadangan beras pemerintah (CBP) di Bulog mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan capaian 5,3 juta ton. Sinergi lintas sektor menjadi kunci penguatan ketahanan pangan nasional.
JAKARTA - Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini berada dalam kondisi aman. Tercatat, stok beras nasional telah menyentuh angka 5,3 juta ton berkat dukungan serta kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan pangan.
"Kondisi stok yang kuat merupakan hasil dari sinergi pemerintah, petani, mitra penggilingan, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan pangan nasional," ujar Rizal dalam Dialog Kebangsaan bertajuk "Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan" di Gudang Sewa Bulog Romokalisari, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (13/5/2026).
Rizal menegaskan bahwa pihaknya terus berkomitmen memperkuat penyerapan gabah dan beras dari petani lokal. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan serta memastikan keterjangkauan harga pangan di tingkat masyarakat.
"Stok CBP di Bulog sampai hari ini mencapai 5,329 juta ton dan menjadi puncak tertinggi sepanjang sejarah Bulog menyimpan beras. Potensi ini masih akan terus bertambah dan kami prediksi dapat mencapai 5,5 hingga 6 juta ton," kata Rizal.
Kegiatan dialog yang digelar bersama Kementerian Pertanian (Kementan) ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, organisasi kepemudaan, mahasiswa, petani, hingga pelaku pasar. Rizal menyebut ajang ini menjadi ruang diskusi strategis untuk memperdalam pemahaman mengenai kondisi pangan nasional sekaligus memperlihatkan transparansi cadangan pangan pemerintah.
Capaian Tertinggi Pasca-Kemerdekaan
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa stok beras nasional saat ini mencatatkan capaian tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Hal tersebut dinilai sebagai sinyal positif di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika pangan global yang tidak menentu.
Amran memaparkan data pendukung dari Badan Pusat Statistik (BPS), Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), serta Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Data tersebut mencatat produksi beras Indonesia mencapai 34,6 juta ton dengan total surplus sekitar 4 juta ton.
"Capaian peningkatan ini tidak terlepas dari berbagai langkah pemerintah dalam memperkuat infrastruktur pertanian, memperbaiki sarana produksi, mendorong penggunaan benih unggul tahan kekeringan, serta menghadirkan kebijakan strategis yang mendukung peningkatan produktivitas pangan nasional," ungkap Amran.
Acara tersebut turut dihadiri oleh perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jawa Timur, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), serta para pedagang pasar yang ikut memberikan aspirasi terkait masa depan pangan nasional. (*)
Apa Reaksi Anda?