Satu Tahun Majelis Nyala Purnama: Menghidupkan Spirit Kartini di Tengah Arus Digital

Majelis Nyala Purnama merayakan satu tahun penyelenggaraannya di Universitas Indonesia. Mengusung spirit Kartini, acara ini menyoroti peran perempuan dan pendidikan di era digital.

Mei 13, 2026 - 22:31
Satu Tahun Majelis Nyala Purnama: Menghidupkan Spirit Kartini di Tengah Arus Digital

DEPOK - Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menggelar Majelis Nyala Purnama edisi ke-12 di selasar Gedung Makara Art Center UI, Depok, Senin (11/5/2026). Perhelatan ini sekaligus menandai satu tahun berjalannya ruang budaya tersebut secara rutin setiap bulan.

Mengambil momentum Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, serta menyongsong Hari Kebangkitan Nasional, acara kali ini mengusung tema: “Menghidupkan Spirit Kartini dalam Pendidikan dan Kebangsaan Kaum Perempuan di Era Digital”. Majelis Nyala Purnama hadir sebagai ruang teduh untuk merayakan keberagaman dan pelestarian nilai budaya melalui musik, tari, orasi budaya, hingga meditasi.

Sejumlah tokoh nasional hadir memberikan perspektifnya, termasuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi dan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.

Majelis Nyala Purnama - 2

“Kartini adalah sosok pemberani, berani berfikir kritis, berani bersuara, berani memperjuangkan kemanusiaan, ini dilakukan di masa ketika akses pendidikan sangat terbatas. Kartini memperjuangkan agar pendidikan dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” ujar Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi dalam sambutannya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti kemampuan komunikasi dan filosofi yang dimiliki sang pahlawan.

“Ibu Kartini memiliki kemampuan untuk menerjemahkan apa yang ada dalam filosofi Jawa untuk bisa diterapkan dalam komunikasi, Kartini juga memiliki kemampuan untuk menerjemahkan bahwa seorang Perempuan itu adalah pusat dan struktur, karena dari Perempuan lah manusia itu lahir, dan dari Perempuan lah pusat tatanan dan sistem itu bekerja,” tambah Lestari.

Wakil Kepala BPIP, Rima Agristina, turut menambahkan bahwa pengorbanan Kartini telah menjadi fondasi bagi kemajuan perempuan saat ini. “Kartini memperjuangkan pendidikan perempuan walaupun menderita, namun penderitaannya saat ini berhasil diambil manfaatnya oleh kaum Perempuan yang menemukan Cahaya di masa kini,” tuturnya.

Majelis Nyala Purnama - 1

Sementara itu, Direktur Kebudayaan UI, Ngatawi Al-Zastrouw, menekankan bahwa peran Kartini melampaui isu emansipasi gender. Menurutnya, Kartini adalah pejuang pendidikan yang cerdik dalam memanfaatkan jaringan internasional demi kepentingan bangsa.

Terkait tantangan zaman, Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan menegaskan pentingnya penguasaan teknologi bagi kaum perempuan. “Menghidupkan kembali spirit Kartini di era digital artinya adalah memberdayakan perempuan untuk menguasai teknologi sebagai alat perjuangan intelektual. Pendidikan berbasis literasi digital saat ini adalah salah satu kunci utama dalam mempersempit kesenjangan gender,” jelas Fitra.

Menutup rangkaian refleksi, Pamomong Urban Spiritual Indonesia, Turita Indah Setyani, memberikan ulasan dari sisi spiritualitas. Ia menyebutkan bahwa pencerahan Kartini merupakan hasil dari pembelajaran mendalam terhadap nilai-nilai agama.

Majelis Nyala Purnama edisi ke-12

“Refleksi spiritualitas Kartini, dengan ungkapan yang populer: ‘habis gelap terbitlah terang’ itu berawal dari pembelajaran beliau tentang Islam secara mendalam kepada KH. Saleh Darat. Ungkapan tersebut terinspirasi dari ayat yang amat menyentuh nuraninya ‘Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya’ (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur; Al-Baqarah: 257),” tutup Turita.

Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan seni dari berbagai pengisi acara, seperti Tri Mumpuni, Zera Zetira Putrimawika, Hadrah Banjari Assalam, Swara SeadaNya, dan Indonesiana Ayuningtyas. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow