Diplomasi AS-Iran Kembali Tersendat, Prospek Perdamaian Timur Tengah Makin Kabur

Iran mengindikasikan menangguhkan pembicaraan dengan Amerika Serikat menyusul serangan Israel di Lebanon. Ketegangan baru ini memperbesar ketidakpastian proses perdamaian dan memicu kekhawatiran eskal

Juni 2, 2026 - 10:01
Diplomasi AS-Iran Kembali Tersendat, Prospek Perdamaian Timur Tengah Makin Kabur

JAKARTA - Diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menghadapi jalan terjal. Proses negosiasi yang selama ini berlangsung melalui perantara semakin tidak menentu, membuat peluang tercapainya perdamaian di kawasan Timur Tengah kian sulit diprediksi.

Seperti dilaporkan The Guardian, Iran mengindikasikan akan menangguhkan pembicaraan dengan Amerika Serikat sebagai bentuk protes atas dugaan pelanggaran gencatan senjata di Lebanon akibat serangan Israel. Teheran menilai Israel dan Amerika Serikat bertanggung jawab atas perkembangan tersebut.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak keberatan jika proses negosiasi dihentikan sementara. Menurutnya, terlalu banyak pembicaraan justru tidak selalu menghasilkan kemajuan.

Langkah Iran itu berpotensi menggagalkan proses negosiasi yang selama ini berjalan rapuh. Ketegangan antara kedua negara terus berlangsung di tengah pelaksanaan gencatan senjata yang sejak awal dinilai belum benar-benar stabil.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berlaku secara menyeluruh, termasuk terhadap situasi di Lebanon.

“Pelanggaran di satu lini merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata di semua lini. Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran,” ujarnya.

Salah satu kantor berita yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga melaporkan bahwa Iran menangguhkan partisipasinya dalam pembicaraan yang bertujuan mengakhiri blokade Selat Hormuz.

Menanggapi hal itu, Trump mengaku belum menerima pemberitahuan resmi dari Iran terkait penghentian pembicaraan. Namun, ia mengisyaratkan tidak menentang langkah tersebut.

“Jika Anda ingin tahu yang sebenarnya, saya rasa kita sudah terlalu banyak bicara. Saya pikir diam akan sangat baik, dan itu bisa berlangsung lama,” kata Trump kepada NBC News.

Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak berencana segera melakukan eskalasi militer baru jika negosiasi gagal. Meski demikian, Washington disebut akan tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Bukan berarti kami akan mulai menjatuhkan bom di sana. Kami hanya akan diam. Kami akan mempertahankan blokade. Blokade itu seperti sepotong baja,” ujarnya.

Situasi semakin rumit setelah Amerika Serikat menyerang sejumlah fasilitas radar dan drone Iran pada akhir pekan lalu. Iran kemudian membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait yang disebut terlibat dalam operasi tersebut.

Sebelumnya, Trump sempat menyatakan Amerika Serikat siap mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai bagian dari kesepakatan damai. Namun kesepakatan yang diharapkan tidak pernah terwujud.

Penghentian sementara pembicaraan oleh Iran juga mencerminkan kemarahan Teheran atas serangan Israel di Lebanon. Ketegangan meningkat setelah Israel mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga yang tinggal di wilayah pinggiran selatan Beirut.

Komando pusat militer Iran bahkan memperingatkan penduduk Israel bagian utara agar mengungsi apabila Israel melancarkan serangan ke Beirut atau wilayah sekitarnya.

Pemerintah Kuwait turut meminta warganya tetap berada di dalam rumah sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Militer Iran memperingatkan bahwa jika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melanjutkan pemboman terhadap Dahieh, kawasan pinggiran selatan Beirut, maupun wilayah ibu kota Lebanon lainnya, maka target-target militer Israel dan kawasan utara negara itu dapat menjadi sasaran serangan balasan.

Trump mengungkapkan telah berbicara dengan Netanyahu dan melakukan komunikasi tidak langsung dengan Hizbullah dalam upaya mendorong gencatan senjata baru.

Melalui akun Truth Social, Trump menyatakan Netanyahu telah menyetujui bahwa tidak akan ada pasukan yang dikirim ke Beirut. Namun, belum ada kejelasan apakah komitmen tersebut juga mencakup penghentian serangan udara terhadap pinggiran selatan kota itu.

Trump juga mengklaim telah melakukan “percakapan yang sangat baik” dengan Hizbullah dan menyebut seluruh pihak sepakat menghentikan aksi saling serang.

“Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel,” tulis Trump.

Meski demikian, belum ada konfirmasi langsung dari pemerintah Israel maupun Hizbullah terkait klaim tersebut. Identitas pihak yang berkomunikasi dengan Trump juga tidak dijelaskan.

Belakangan, Kedutaan Besar Lebanon di Washington mengonfirmasi bahwa Israel dan Hizbullah telah menyetujui penghentian serangan timbal balik, termasuk serangan Israel terhadap wilayah pinggiran selatan Beirut.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa Teheran berencana meminta kelompok Houthi di Yaman utara melakukan blokade pengiriman kedua di Selat Bab al-Mandab, jalur strategis di pintu masuk selatan Laut Merah. Ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak yang kembali mendekati level 100 dolar AS per barel.

Ketua Parlemen Iran yang juga menjadi salah satu tokoh penting dalam proses negosiasi, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai blokade pelabuhan Iran oleh AS dan tindakan Israel di Lebanon merupakan bukti ketidakpatuhan Washington terhadap gencatan senjata.

“Setiap pilihan memiliki harga, dan tagihannya akan jatuh tempo. Semuanya akan pada tempatnya,” ujarnya.

Amerika Serikat dan Iran tercatat masih saling melancarkan serangan sejak gencatan senjata yang direncanakan berlaku pada awal April. Upaya diplomasi yang berlangsung secara naik turun sempat menunjukkan kemajuan pada Jumat lalu, tetapi kemudian kembali tersendat setelah Trump menarik dukungannya dan meminta revisi terhadap rancangan kesepakatan yang telah dibahas sebelumnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow