Dedikasi di Balik Hari Fitri: Kisah Pekerja di Jakarta Utara yang Tetap Bertugas saat Lebaran
Kondisi ini merupakan realitas yang dihadapi oleh ribuan tenaga kerja di kota metropolitan, terutama di wilayah Jakarta Utara yang menjadi pusat logistik dan ritel.
JAKARTA Hari Raya Idul Fitri identik dengan momen berkumpul bersama keluarga dan saling bersilaturahmi. Namun, bagi sebagian orang, gema takbir saat Lebaran tidak berarti berhentinya rutinitas pekerjaan.
Di sejumlah sektor penting, aktivitas operasional tetap berjalan sehingga sebagian pekerja harus tetap menjalankan tugas meskipun bertepatan dengan hari raya.
Kondisi ini merupakan realitas yang dihadapi oleh ribuan tenaga kerja di kota metropolitan, terutama di wilayah Jakarta Utara yang menjadi pusat logistik dan ritel.
Meski pemerintah telah memberikan kelonggaran melalui cuti bersama, pelayanan publik dan kebutuhan mendasar masyarakat tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditinggalkan.
Pemerintah sendiri telah menetapkan hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2026 melalui keputusan bersama tiga kementerian (SKB 3 Menteri).
Penetapan ini bertujuan untuk memberikan kepastian jadwal bagi masyarakat luas dalam merencanakan agenda tahunan mereka, termasuk untuk mudik lebaran.
Berdasarkan keputusan tersebut, pemerintah menetapkan total 17 hari libur nasional dan delapan hari cuti bersama sebagai pedoman bagi instansi pemerintah maupun perusahaan swasta.
Hal ini menjadi dasar hukum dalam mengatur jadwal kerja bagi karyawan yang tetap harus masuk di hari besar.
Untuk perayaan Idul Fitri 1447H, berdasarkan perhitungan kalender, hari raya diperkirakan jatuh pada akhir Maret 2026.
Penetapan ini diikuti dengan beberapa hari cuti bersama yang mengiringinya untuk memberikan waktu istirahat yang cukup bagi para pekerja secara umum.
Tuntutan Profesionalisme
Meski demikian, aturan ketenagakerjaan tetap membuka kemungkinan bagi perusahaan untuk mempekerjakan karyawan pada hari libur nasional.
Hal ini terutama berlaku bagi sektor yang harus beroperasi secara terus-menerus seperti layanan kesehatan, transportasi, pariwisata, hingga ritel yang menjadi urat nadi ekonomi.
Kondisi tersebut dialami Rizky (29), seorang karyawan toko ritel di sebuah pusat perbelanjaan besar di Jakarta Utara.
Ia menceritakan bahwa perusahaan tempatnya bekerja tetap membuka operasional toko sehingga sebagian karyawan harus bergantian masuk sesuai jadwal yang ditentukan.
“Biasanya tetap masuk karena toko masih buka saat Lebaran untuk melayani pengunjung yang ingin berbelanja. Kalau saya kebagian shift siang, jadi masih bisa shalat Id di pagi hari, tapi setelah itu langsung berangkat kerja,” ujar Rizky saat ditemui, Kamis (12/03/2026).
Rizky menjelaskan bahwa sistem shift ini diberlakukan secara adil oleh pihak manajemen agar semua karyawan bisa merasakan momen ibadah pagi hari.
Namun, tuntutan profesionalisme mengharuskannya untuk segera berada di garda depan pelayanan sesaat setelah bersalaman dengan keluarga.
Meski sudah terbiasa dengan jadwal tersebut selama beberapa tahun terakhir, Rizky mengaku tetap merasa sedikit sedih.
Ia tidak bisa sepenuhnya menikmati suasana santai Lebaran yang biasanya diisi dengan makan bersama atau berkeliling ke rumah kerabat jauh.
“Rasanya pasti beda, biasanya setelah shalat Id bisa kumpul lama dengan keluarga di rumah. Tapi kalau sudah jadwal kerja dan sudah menjadi komitmen sejak awal, ya harus berangkat dengan tanggung jawab penuh,” katanya dengan nada tegar.
Logistik Pantang Berhenti
Hal serupa juga dirasakan Siti Rahma (31), seorang admin di perusahaan logistik yang beroperasi di wilayah pelabuhan Jakarta Utara.
Ia mengatakan aktivitas pengiriman barang tetap berjalan bahkan cenderung meningkat setelah hari pertama Lebaran berlalu.
Siti menjelaskan bahwa arus logistik tidak boleh terhenti terlalu lama karena akan berdampak pada rantai pasok kebutuhan pokok di wilayah lain.
Oleh karena itu, sebagian pekerja di kantornya hanya mendapatkan waktu libur yang sangat terbatas dibandingkan pegawai kantoran biasa.
“Biasanya kami hanya libur di hari pertama Lebaran untuk memberikan kesempatan ibadah. Setelah itu sudah harus masuk lagi karena pengiriman barang dari pelabuhan tetap berjalan terus,” kata Siti menjelaskan prosedur kerjanya.
Menurut Siti, kondisi tersebut membuat waktu berkumpul bersama keluarga menjadi lebih singkat dan terasa sangat cepat berlalu.
Baginya, setiap jam yang dihabiskan bersama keluarga di rumah menjadi momen yang sangat mahal dan berharga untuk disyukuri.
“Kadang terasa kurang puas karena baru juga kumpul sebentar dan makan ketupat bersama, eh sudah harus kembali mengecek manifes pengiriman. Tapi saya sadar, pekerjaan ini penting untuk orang banyak,” ujarnya sembari tersenyum kecil.
Cerita inspiratif ini menunjukkan bahwa di balik kemeriahan perayaan Lebaran dan libur panjang, terdapat dedikasi para pekerja yang luar biasa.
Kehadiran mereka di tempat tugas memastikan bahwa berbagai layanan dan aktivitas masyarakat dapat terus berjalan dengan lancar tanpa hambatan berarti di hari kemenangan. (*)
Apa Reaksi Anda?