Dari Basis PKI Menjadi Masjid Percontohan Dunia, Inilah Kisah Luar Biasa Masjid Jogokariyan yang Menginspirasi Indonesia
Masjid Jogokariyan, yang berdiri di atas tanah bekas rawa di Yogyakarta, menyimpan sejarah panjang dari era prajurit keraton hingga dinamika 1965. Kini ia menjadi pusat pelayanan sosial dengan ATM Ber
TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Di balik ramainya ribuan jemaah yang memadati Masjid Jogokariyan setiap hari, tersimpan kisah sejarah yang tak banyak diketahui masyarakat. Sulit dipercaya, kawasan yang kini dikenal sebagai pusat dakwah, pelayanan sosial, dan pemberdayaan umat itu pernah menjadi wilayah dengan dinamika politik yang sangat kuat pada era sebelum 1965.
Kini, Masjid Jogokariyan tidak hanya menjadi ikon Kota Yogyakarta, tetapi juga menjadi rujukan pengelolaan masjid modern yang dipelajari berbagai kalangan, mulai dari pengurus masjid dalam negeri hingga tamu mancanegara. Transformasi tersebut menjadi bukti bahwa masjid mampu menjadi pusat perubahan sosial sekaligus perekat kehidupan masyarakat.
Berawal dari Kampung Prajurit Keraton
Nama Jogokariyan ternyata menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan Kesultanan Yogyakarta. Kata "jogo" berarti menjaga, sedangkan "kari" merujuk pada prajurit.
Kawasan ini dahulu dihuni para prajurit Keraton Yogyakarta dari Kesatuan Mantrijeron yang bertugas menjaga wilayah selatan keraton. Kampung Jogokariyan mulai dibuka sekitar tahun 1822 pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono IV, ketika kawasan di dalam Benteng Baluwerti semakin padat sehingga keluarga prajurit dan abdi dalem dipindahkan ke wilayah selatan keraton.
Perubahan besar terjadi pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VII ketika jumlah prajurit kerajaan dikurangi secara signifikan. Banyak prajurit kehilangan pekerjaan dan memperoleh lahan pertanian sebagai pengganti. Namun karena sebagian besar tidak memiliki pengalaman bertani, lahan tersebut kemudian dijual kepada para pengusaha batik dan tenun yang akhirnya menetap di kawasan Jogokariyan.
Perubahan komposisi penduduk inilah yang kemudian membentuk wajah baru kampung tersebut hingga memasuki era kemerdekaan.
Pernah Menjadi Kawasan dengan Dinamika Politik yang Kuat
Sebelum berdirinya Masjid Jogokariyan, kawasan ini dikenal sebagai daerah yang memiliki basis simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Letaknya berada di antara dua wilayah yang dikenal sebagai pusat pendidikan Islam, yakni kawasan Pesantren Krapyak di sebelah barat dan Karangkajen di sebelah timur.
Ironisnya, hingga pertengahan 1960-an belum terdapat masjid yang menjadi pusat aktivitas umat Islam di kampung tersebut. Warga hanya memiliki sebuah langgar sederhana berukuran sekitar 3 x 4 meter yang penggunaannya pun sangat terbatas.
Situasi sosial berubah drastis setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Di tengah kondisi bangsa yang penuh gejolak, sejumlah tokoh masyarakat memandang perlunya menghadirkan sebuah masjid sebagai pusat ibadah sekaligus ruang membangun kembali kehidupan sosial masyarakat.
Dibangun dengan Semangat Gotong Royong
Semangat kebersamaan menjadi fondasi berdirinya Masjid Jogokariyan.
Pada 20 September 1966 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid di atas tanah wakaf seluas sekitar 600 hingga 700 meter persegi yang sebelumnya berupa lahan rawa.
Tanah tersebut merupakan wakaf dari sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya H. Jazuri, Zarkoni, H. Amin Said, Abdul Manan, KRT Widyodiningrat, Hadits Hadi Sutarno, serta Ibu Margono.
Seluruh proses pembangunan dilakukan secara swadaya melalui gotong royong warga. Bangunan pertama berukuran sekitar 9 x 9 meter dengan luas sekitar 135 meter persegi yang mampu menampung sekitar 150 jemaah.
Setelah hampir satu tahun pembangunan, Masjid Jogokariyan akhirnya diresmikan pada 20 Agustus 1967, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Nama "Jogokariyan" dipilih mengikuti tradisi Rasulullah SAW yang menamai masjid berdasarkan lokasi tempat berdirinya.
Dari Masjid Kampung Menjadi Ikon Nasional
Pada tahun-tahun awal, aktivitas Masjid Jogokariyan belum begitu ramai. Jemaah umumnya hanya memadati masjid saat salat Magrib, Isya, pengajian, atau selama bulan Ramadan.
Perubahan besar mulai terjadi pada 1999 ketika Ustaz Muhammad Jazir dipercaya menjadi Ketua Takmir Masjid.
Di bawah kepemimpinannya lahir filosofi yang kemudian menjadi identitas Masjid Jogokariyan, yakni "Memasyarakatkan Masjid dan Memasjidkan Masyarakat."
Konsep tersebut tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan melalui berbagai program nyata yang menjadikan masjid hadir dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Sejak saat itu, Masjid Jogokariyan berkembang pesat. Kompleks masjid terus diperluas hingga kini memiliki luas sekitar 1.478 meter persegi lengkap dengan berbagai fasilitas penunjang, termasuk Islamic Center yang dibangun setelah tahun 2006.
Yang membuat Masjid Jogokariyan berbeda dibanding banyak masjid lainnya adalah perannya sebagai pusat pelayanan masyarakat.
Masjid ini menerapkan sistem pengelolaan profesional yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas keuangan. Bahkan, sistem pengelolaan saldo kas masjid sempat menjadi perhatian publik karena menerapkan prinsip bahwa dana umat harus segera dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat.
Program sosial juga menjadi kekuatan utama
Masjid menyediakan ATM Beras bagi warga yang membutuhkan, penginapan syariah gratis bagi musafir, layanan kesehatan, berbagai bantuan sosial, hingga program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketika Ramadan tiba, suasana Masjid Jogokariyan berubah menjadi magnet ribuan orang.
Setiap sore, ribuan porsi takjil dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang. Tradisi ini telah menjadi salah satu ikon Ramadan di Yogyakarta dan selalu dinantikan warga maupun wisatawan.
Tak hanya itu, sejak 1968 kawasan masjid juga menjadi pusat pendidikan Islam melalui berdirinya SD Muhammadiyah Jogokariyan serta berbagai lembaga pendidikan untuk anak-anak hingga orang dewasa.
Simbol Rekonsiliasi dan Persaudaraan
Lebih dari sekadar bangunan fisik, Masjid Jogokariyan menjadi simbol rekonsiliasi sosial.
Masjid ini membuka ruang bagi seluruh lapisan masyarakat untuk kembali membangun hubungan yang harmonis, termasuk mereka yang pernah mengalami perbedaan pandangan politik di masa lalu.
Pendekatan dakwah yang mengedepankan pelayanan, dialog, dan kebersamaan membuat masyarakat merasa diterima tanpa stigma.
Nilai inilah yang menjadikan Masjid Jogokariyan dikenal sebagai contoh bagaimana masjid mampu menjadi perekat persatuan sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat.
Tami, salah seorang jemaah asal Kediri, mengaku selalu merasakan suasana yang berbeda setiap kali berkunjung ke Masjid Jogokariyan.
"Setiap datang ke sini rasanya seperti pulang ke rumah sendiri. Masjid selalu hidup, bukan hanya saat Ramadan, tetapi sejak Subuh hingga malam hari. Banyak jemaah dari berbagai daerah bahkan luar negeri datang ke sini, namun semuanya bisa berbaur dengan hangat," ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Hal senada disampaikan Achmad S., salah seorang relawan yang telah mengabdi hampir dua dekade.
Menurutnya, kebersamaan menjadi alasan utama para relawan bertahan melayani masyarakat.
"Kami bekerja seperti keluarga. Lelah terasa hilang ketika melihat masyarakat terbantu dan jemaah merasa nyaman. Masjid ini mengajarkan bahwa rumah ibadah dapat menjadi pusat pelayanan sekaligus jembatan perdamaian bagi semua orang," katanya.
Menjadi Inspirasi Pengelolaan Masjid Modern
Perjalanan panjang Masjid Jogokariyan menunjukkan bahwa sebuah masjid dapat memainkan peran jauh lebih besar dibanding sekadar tempat pelaksanaan ibadah ritual.
Melalui tata kelola yang profesional, pelayanan sosial yang konsisten, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, hingga penguatan ukhuwah, Masjid Jogokariyan berhasil membangun kepercayaan masyarakat sekaligus melahirkan model pengelolaan masjid yang banyak dijadikan contoh di Indonesia.
Dari sebuah kampung yang pernah mengalami dinamika sosial-politik yang kompleks, kini Jogokariyan menjelma menjadi simbol kebangkitan masyarakat berbasis masjid.
Warisan terbesar para pendirinya bukan sekadar bangunan megah, melainkan gagasan bahwa masjid harus hadir sebagai pusat peradaban, tempat masyarakat memperoleh ketenangan spiritual, pendidikan, bantuan sosial, hingga solusi bagi berbagai persoalan kehidupan. (*)
Pewarta: Yahya Haqul Mubin
Apa Reaksi Anda?