Dampak Kemarau Pacitan, Stok Air Menipis Bikin Tanaman Bonsai Mengering
Musim kemarau dan krisis air baku di Kabupaten Pacitan mulai mengancam kelangsungan hidup tanaman hias bonsai bernilai jutaan rupiah milik warga yang kini mulai mengering.
Musim kemarau yang melanda Kabupaten Pacitan mulai berdampak pada sektor tanaman hias bernilai ekonomis tinggi. Krisis air baku yang meluas menyebabkan sejumlah tanaman bonsai milik warga mengalami kekeringan pada bagian daun dan terancam mati.
Pegiat bonsai asal Dusun Kwaron, Desa Tambakrejo, Kecamatan Pacitan, Tri Anjar Waluyo menyatakan bahwa keterbatasan pasokan air bersih saat ini membuat penyiraman tanaman tidak dapat dilakukan secara optimal.
"Air baku sudah mulai menipis stoknya. Padahal buat kebutuhan sehari-hari saja kembang kempis, tanaman banyak yang daunnya mengering," kata Anjar, Minggu (12/7/2026).
Anjar menjelaskan, tanaman bonsai memerlukan suplai air yang konsisten setiap hari untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Akibat kekeringan ini, koleksi bonsai miliknya yang bernilai jutaan rupiah mengalami perubahan warna daun menjadi kecokelatan.
Meskipun lokasi budidayanya berada di dekat aliran Sungai Grindulu, wilayah Desa Tambakrejo tetap menjadi langganan krisis air bersih setiap musim kemarau tiba.
"Dugaan eksploitasi alam berlebihan tanpa dibarengi dengan konservasi lingkungan bikin ketahanan air tiap tahun merosot," ujar Anjar.
Status Waspada Kekeringan di Pacitan
Berdasarkan data teknis, Kabupaten Pacitan saat ini telah berstatus waspada kekeringan setelah mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) selama 21 hari berturut-turut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan memetakan sedikitnya 34 desa berpotensi mengalami krisis air bersih jika situasi ini terus berlanjut.
Sementara itu, badan meteorologi memprakirakan musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dari periode sebelumnya, dengan puncak kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus 2026. (*)
Apa Reaksi Anda?