Bukan Sekadar Kostum, Peserta BEC 2026 Pamerkan Situs Perang hingga Simbol Pejuang Blambangan

Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026, tak hanya menghadirkan parade kostum yang memanjakan mata. Di balik kemegahan busana yang dikenakan para peserta, tersimpan kisah sejarah Perang Bayu yang dihidup

Juli 7, 2026 - 14:44
Bukan Sekadar Kostum, Peserta BEC 2026 Pamerkan Situs Perang hingga Simbol Pejuang Blambangan

BANYUWANGI - Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026, tak hanya menghadirkan parade kostum yang memanjakan mata. Di balik kemegahan busana yang dikenakan para peserta, tersimpan kisah sejarah Perang Bayu yang dihidupkan kembali melalui karya seni penuh detail dan makna.

Mengusung tema besar "Perang Bayu", para peserta menerjemahkan berbagai fragmen sejarah ke dalam lima subtema, yakni Hasil Bumi, Pejuang Blambangan, VOC dan Sekutu, Genderang serta Alat Perang, hingga Situs Perang. 

Setiap kostum dirancang bukan sekadar untuk tampil memukau, tetapi juga menjadi media edukasi tentang perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajahan.

Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Dwi Ludiro Biyan Ramadhan, siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Gambiran. Remaja asal Dusun Petahunan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran itu mengenakan kostum bertema Situs Perang.

Melalui kostumnya, Ilud, menampilkan visual kawasan Rowo Bayu yang dikenal sebagai salah satu lokasi bersejarah dalam peristiwa Puputan Bayu. Ornamen yang menghiasi busananya menggambarkan situs bersejarah yang menjadi saksi perjuangan masyarakat Blambangan.

"Tema saya Situs Rowo Bayu. Kostum ini menggambarkan situs yang ada di Rowo Bayu yang juga menjadi lokasi Perang Puputan Bayu," kata Ilud, usai mengikuti Penjurian BEC di Lorong Bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026).

Bagi Ilud, tampil di BEC merupakan pengalaman yang membanggakan. Meski harus mengenakan kostum dengan bobot lebih dari 34 kilogram, semangatnya tak surut untuk tampil maksimal.

"Rasanya senang dan bangga bisa ikut acara semeriah ini. Harapannya tentu bisa menang," katanya.

Di balik megahnya kostum para peserta, terdapat pula tangan-tangan kreatif para perancang lokal Banyuwangi. Salah satunya adalah Mufid Saifullah (29), pemilik Ragil Decoration asal Desa Seneporejo, Kecamatan Siliragung.

Mufid mengaku mulai serius mengembangkan usaha pembuatan kostum sejak 2017 dan kembali aktif setelah pandemi COVID-19 mereda pada akhir 2021. Dia juga telah beberapa kali terlibat dalam BEC, di antaranya pada penyelenggaraan tahun 2017, 2018, dan 2019.

Pada BEC 2026, Mufid memilih mengangkat subtema VOC dan Sekutu. Kostum-kostum buatannya dikenakan oleh Vanesya Silvia Irko Putri, yang berperan sebagai Noni yang kejam dan didampingi Ega Putra, Riko Hermawan, Dwi Prastyo, dan M. Diko Maulana, sebagai prajurit pendamping Noni.

Menurutnya, setiap detail kostum dirancang untuk memperkuat narasi sejarah yang diusung BEC tahun ini, sehingga penonton tidak hanya menikmati keindahan visual, tetapi juga memahami pesan sejarah di balik setiap penampilan.

"Setelah kemarin (2025) tidak ikut. Tahun ini kami mencoba memberi kejutan dengan kostum yang megah," tuturnya.

Penampilan peserta BEC 2026 sub tema alat genderang perang. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)
Penampilan peserta BEC 2026 sub tema alat genderang perang. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

BEC 2026 sendiri kembali masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN). Festival ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas perancang busana dan seniman, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah Banyuwangi kepada masyarakat luas melalui pertunjukan jalanan yang memadukan kostum, koreografi, musik, serta ekspresi para peserta.

Untuk diketahui, Perang Bayu adalah bagian dari rangkaian konflik besar di Blambangan pada akhir abad ke-18, yang memuncak dalam Puputan Bayu. Peristiwa tersebut melibatkan perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC.

Sementara itu, BEC 2026 dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juli 2026, tepatnya Sabtu (18/7/2026). Jalanan akan ditutup sementara untuk disulap menjadi panggung panjang, menjadi momen yang pas bagi wisatawan yang ingin berlibur ke Banyuwangi dengan pengalaman berbeda. (*)

Pewarta: Muhamad Ikromil Aufa

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow