Bukan Kekurangan Tempat, Ini Alasan Jemaah Haji Pilih Istirahat di Luar Tenda
Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak menjelaskan alasan sebagian jemaah haji Indonesia memilih tidur di luar tenda Mina saat mabit.
MAKKAH - Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menemukan penjelasan terkait sejumlah jemaah haji Indonesia memilih beristirahat di luar tenda saat menjalani mabit di Mina.
Peristiwa tersebut ditemui langsung oleh Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak saat meninjau area pemondokan jemaah haji Indonesia pada Rabu (27/5/2026) lalu.
Wamenhaj Dahnil mengatakan, bukan karena tidak dapat tempat melainkan karena pilihan sebagian jemaah haji Indonesia untuk tidur di luar tenda karena dipengaruhi proses adaptasi terhadap suhu di dalam tenda yang menggunakan pendingin udara.
Menurutnya, setiap jemaah haji Indonesia memiliki daya tahan tubuh yang berbeda terhadap cuaca maupun temperatur ruangan dan hal ini sangatlah wajar karena mereka hadir dari berbagai kebiasaan yang biasa dilakukan dirumah masing-masing.
“Kan mereka di satu tenda itu macam-macam tradisi tidurnya misalnya. Kemudian kebiasaan beradaptasi dengan cuacanya. Misalnya ada yang tahan dingin. Kemudian ada yang nggak kuat dingin.,” ujar Dahnil dikutip pada Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut lazim ditemui di hari-hari awal mabit di Mina ketika jemaah masih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, termasuk cuaca gurun yang panas di luar namun bisa terasa sangat dingin di dalam tenda berpendingin udara.
Menurutnya, selain beradaptasi dengan suhu, jemaah juga sedang menyesuaikan ritme istirahat setelah melalui rangkaian puncak haji yang menguras energi, mulai dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga lempar jumrah di Jamarat.
Karena itu, ia mengimbau jemaah menjaga kondisi fisik dan memilih tempat beristirahat yang paling nyaman selama tetap aman dan berada di area yang telah disiapkan petugas.
Selain meninjau kondisi jemaah di Mina, Dahnil juga menyoroti pergerakan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina.
Ia juga mengungkapkan, proses pendorongan jemaah tahun ini berlangsung jauh lebih cepat dibanding pelaksanaan tahun sebelumnya.
Ia menyebut sejak sekitar pukul 06.30 waktu Arab Saudi, kawasan Muzdalifah sudah bersih karena seluruh jemaah telah bergerak menuju Mina.
Capaian tersebut, kata Dahnil, menjadi catatan positif dalam layanan puncak haji tahun ini. Hal serupa juga terlihat saat proses pemberangkatan jemaah menuju Arafat yang dinilai berjalan tertib dan lancar.
Menurut dia, kelancaran pergerakan dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina patut disyukuri karena membantu jemaah menjalani rangkaian ibadah dengan lebih nyaman.
“Jadi di Muzdalifah itu cepat, termasuk di Arafah juga,” tandasnya. (*/MCH 2026)
Apa Reaksi Anda?