BPS: Produksi Beras Jember 2025 Nyaris 400 Ribu Ton
Jember mencatatkan lonjakan produksi beras yang signifikan sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Provinsi Jawa Timur.
JEMBER - Jember mencatatkan lonjakan produksi beras yang signifikan sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Provinsi Jawa Timur.
Hal tersebut menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur yang menunjukkan performa impresif pertanian Jember selama lima tahun terakhir.
Perjalanan swasembada pangan di Jember tidak dilalui tanpa hambatan.
Pada infografis data produksi beras dari tahun 2021 hingga 2025, terlihat grafik perjuangan para petani Jember yang kini berbuah manis.
• Tahun 2021: Produksi awal beras tercatat sebesar 355.516,37 ton.
• Tahun 2022: Mengalami fluktuasi awal dengan penurunan sebesar -1,35% akibat berbagai tantangan di lapangan.
• Tahun 2023: Momentum kebangkitan dimulai, produksi berhasil merangkak naik ke angka 356.109,87 ton.
• Tahun 2024: Tren positif berlanjut secara konsisten dengan mencatatkan angka 359.885,69 ton.
• Tahun 2025: Sektor pertanian Jember mencapai puncaknya dengan ledakan produksi mencapai 392.364,89 ton.
Melalui konsistensi kebijakan makro Bupati Jember Muhammad Fawait, Kabupaten Jember berhasil membukukan peningkatan signifikan sebesar lebih dari 9,02 persen pada akhir periode pemantauan data tersebut.
"Keberhasilan sebuah daerah di sektor agraris tidak hanya dinilai dari seberapa banyak beras yang diproduksi, tetapi juga dari seberapa sejahtera orang-orang yang menanamnya. Indikator paling valid untuk mengukur hal ini adalah Indeks Nilai Tukar Petani (NTP)," ujar Fawait, Kamis (16/7/2026).
Data BPS Jatim menunjukkan grafik NTP Jember terus merangkak naik secara meyakinkan.
Pada 2023 Indeks NTP berada di angka 109,47 dan di tahun 2024 naik menjadi 111,96.
Sedangkan pada 2025 menembus angka tertinggi di 113,29.
Capaian angka 113,29 ini menegaskan status surplus untuk petani.
Secara konkret, ini berarti pendapatan yang diterima petani dari hasil penjualan gabah jauh lebih besar dibanding biaya modal tanam dan biaya hidup sehari-hari mereka.
"Inilah bukti nyata bahwa intervensi kebijakan pemerintah daerah mampu memberikan dampak kemakmuran yang berkelanjutan, bukan sekadar program musiman," beber Fawait.
Melonjaknya produktivitas pertanian di Jember merupakan buah dari respons cepat pemerintah terhadap tiga tantangan utama yang sempat mengancam, yakni anomali iklim dan serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan), hambatan distribusi pupuk bersubsidi, serta kerusakan infrastruktur dasar pertanian.
Guna mendobrak hambatan tersebut, Fawait yang memimpin langsung berbagai program intervensi dengan fokus utama pada perbaikan infrastruktur dan pemberian stimulus bagi para petani Fokus Infrastruktur, Bantuan Saprodi (Sarana Produksi Padi) dan Efisiensi Pupuk & Alat Modern.
"Pelaksanaan program OPLAH (Optimalisasi Lahan) disertai perbaikan masif pada jaringan saluran irigasi yang rusak agar pasokan air ke sawah warga kembali lancar dan pembagian bantuan benih padi varietas unggul dan bantuan pestisida berkualitas secara berkala untuk menangkal serangan hama," jelas Fawait.
Ia mengatakan pembenahan sistem penyaluran pupuk bersubsidi agar tepat sasaran, dibarengi dengan fasilitasi bantuan alat mesin pertanian (alsintan) modern guna memodernisasi cara kerja petani sekaligus menekan potensi kehilangan hasil panen.
"Di bawah kepemimpinan kami melalui program OPLAH, perbaikan saluran irigasi, bantuan benih unggul, bantuan pestisida, bantuan pupuk dan perbaikan penyaluran pupuk bersubsidi serta bantuan alat mesin pertanian, hasilnya produksi beras meroket, petani bangga, rakyat sejahtera," ungkapnya. (*)
Apa Reaksi Anda?