Belajar dari Kasus Gagal Umrah, ESQ Tours Travel: Saatnya Bangun Ekosistem yang Sehat dan Berkelanjutan
Kasus demi kasus gagal berangkat umrah yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Ribuan bahkan puluhan ribu calon jemaah kehilangan kese
JAKARTA - Kasus demi kasus gagal berangkat umrah yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Ribuan bahkan puluhan ribu calon jemaah kehilangan kesempatan beribadah ke Tanah Suci, sementara dana yang telah mereka setorkan bertahun-tahun sulit untuk kembali.
Publik tentu masih mengingat beberapa kasus besar yang berujung pada proses hukum dan menimbulkan kerugian hingga ratusan miliar bahkan triliunan rupiah. Sebagai contoh, kasus First Travel menyebabkan sekitar 63.000 calon jemaah gagal berangkat dengan nilai dana yang dihimpun diperkirakan mencapai lebih dari Rp900 miliar. Sementara itu, kasus Abu Tours menyeret sekitar 86.000 jemaah dengan kerugian yang ditaksir mencapai lebih dari Rp1,8 triliun.
Dari berbagai kasus tersebut, terdapat pola yang hampir selalu sama: harga paket yang terlalu murah, pertumbuhan jumlah jemaah yang sangat cepat, ketergantungan pada pendaftaran jemaah baru untuk membiayai keberangkatan jemaah lama, hingga akhirnya terjadi kegagalan keberangkatan secara massal.
Tantangan Manajemen Risiko Travel Haji dan Umrah
Namun, ada pelajaran penting yang sering luput dari perhatian. Persoalan dalam industri umrah bukan semata-mata soal niat baik atau buruknya penyelenggara. Persoalan utamanya adalah bagaimana membangun ekosistem usaha yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.
Direktur Operasional dan Sales ESQ Tours Travel, Muhammad Solihin, menekankan bahwa dalam praktiknya, penyelenggara umrah yang baik tidak cukup hanya memiliki arus kas (cash flow) yang positif. Lebih dari itu, mereka harus mampu menjaga stabilitas keuangan perusahaan dalam jangka panjang.
"Industri umrah memiliki karakteristik yang unik. Sebagian besar biaya operasional harus dibayarkan dalam mata uang asing. Harga tiket penerbangan, hotel, transportasi, konsumsi, hingga berbagai layanan di Arab Saudi sangat dipengaruhi oleh fluktuasi kurs, kondisi geopolitik global, serta kebijakan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang dapat berubah sewaktu-waktu," ujar Solihin, Sabtu (6/6/2026).
Karena itu, sebuah perusahaan umrah yang terlihat sehat hari ini belum tentu sehat beberapa tahun ke depan apabila tidak memiliki manajemen risiko yang baik.
Direktur Operasional & Sales ESQ Tours Travel, Muhammad Solihin (kanan) menjelaskan pentingnya ekosistem sehat untuk menghindari umrah gagal berangkat. (Foto: Dok Pribadi)
Berbeda dengan pemerintah yang setiap tahun memiliki dukungan anggaran negara melalui APBN, perusahaan travel haji dan umrah harus mengelola seluruh risiko bisnis dengan sumber daya yang dimiliki sendiri. Mereka tidak memiliki jaminan pendanaan tahunan. Mereka hidup dari kepercayaan masyarakat, profesionalisme pengelolaan, dan kemampuan menjaga keberlanjutan usaha.
Edukasi Calon Jemaah: Jangan Hanya Tergiur Harga Murah
Dalam konteks inilah masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi yang lebih baik. Tidak sedikit calon jemaah yang menjadikan harga sebagai pertimbangan utama saat memilih travel umrah. Padahal, harga yang terlalu murah sering kali menjadi sinyal adanya masalah dalam model bisnis yang dijalankan.
Menurut Solihin, pertanyaan yang seharusnya muncul dari calon jemaah bukan hanya “berapa harganya?”, tetapi juga “bagaimana keberlanjutan usahanya?” dan “apakah harga tersebut masuk akal dibandingkan biaya riil yang harus dibayarkan?”
Ketika biaya perjalanan umrah secara realistis berada pada kisaran tertentu, namun ditawarkan jauh di bawah harga pasar dengan fasilitas yang sama, masyarakat perlu memahami bahwa selisih biaya tersebut tetap harus ditanggung oleh seseorang. Jika tidak berasal dari efisiensi yang nyata dan terukur, maka risiko akan muncul di kemudian hari.
Oleh sebab itu, membangun industri umrah yang sehat bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan penyelenggara, tetapi juga tanggung jawab masyarakat sebagai pengguna layanan. Penyelenggara harus menjaga amanah, transparansi, kepatuhan terhadap regulasi, serta kesehatan keuangan perusahaan.
Di sisi lain, masyarakat perlu semakin cerdas dalam memilih penyelenggara perjalanan ibadah, tidak semata-mata tergiur oleh harga murah yang belum tentu realistis.
Hubungan antara jemaah dan penyelenggara seharusnya tidak hanya dipandang sebagai hubungan transaksi bisnis.
Lebih dari itu, terdapat amanah besar yang menyangkut ibadah, kepercayaan, dan harapan umat Islam untuk dapat berkunjung ke Tanah Suci. Ke depan, yang perlu dibangun adalah ekosistem haji dan umrah yang sehat, di mana penyelenggara dapat tumbuh secara berkelanjutan dan masyarakat mendapatkan perlindungan serta kepastian pelayanan yang baik.
Dampak Fenomena Perang Harga di Industri Umrah
Di sisi lain, maraknya praktik penjualan paket umrah dengan harga yang tidak wajar oleh sebagian penyelenggara juga menimbulkan dampak yang kurang baik bagi industri secara keseluruhan.
Akibatnya, ketika ada travel umrah yang menawarkan harga normal dan sesuai dengan biaya riil penyelenggaraan, sebagian masyarakat justru memandangnya negatif dan menganggap travel tersebut mengambil keuntungan yang terlalu besar. Padahal, harga yang wajar sering kali merupakan cerminan dari perhitungan biaya yang sehat, pengelolaan risiko yang baik, serta komitmen untuk menjaga keberlangsungan layanan dan keamanan dana jemaah.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Solihin memaparkan tiga pilar utama yang harus bersinergi:
Regulator (Pemerintah): Perlu memperkuat pengawasan berbasis risiko, meningkatkan transparansi informasi mengenai kinerja dan kepatuhan penyelenggara, serta memastikan mekanisme perlindungan dana jemaah berjalan efektif. Publik juga perlu diberikan akses yang mudah untuk memverifikasi legalitas, rekam jejak, dan status operasional setiap penyelenggara umrah.
Penyelenggara Perjalanan (Travel): Fokus tidak boleh hanya pada pertumbuhan jumlah jemaah. Travel umrah perlu membangun tata kelola yang kuat, menerapkan manajemen risiko keuangan yang disiplin, menjaga kecukupan modal kerja, serta menyampaikan informasi biaya dan layanan secara terbuka kepada calon jemaah. Kepercayaan masyarakat akan lebih terjaga apabila perusahaan mengedepankan keberlanjutan usaha dibandingkan persaingan harga yang tidak sehat.
Calon Jemaah: Perlu menjadi konsumen yang lebih kritis dan teredukasi. Sebelum mendaftar, penting untuk memeriksa izin penyelenggara, membandingkan harga dengan kondisi pasar yang wajar, memahami rincian layanan yang ditawarkan, serta memastikan adanya kejelasan jadwal keberangkatan dan mekanisme pengelolaan dana. Sikap hati-hati sejak awal dapat mengurangi risiko yang berpotensi merugikan di kemudian hari.
Mencari Kepastian Keberangkatan dan Ketenangan Ibadah
Pada akhirnya, tujuan utama industri ini bukan sekadar memberangkatkan jemaah tahun ini, melainkan memastikan bahwa amanah pelayanan kepada umat dapat terus berjalan dengan baik untuk tahun-tahun berikutnya. Ekosistem yang sehat hanya dapat terwujud apabila regulator menjalankan fungsi pengawasan secara konsisten, penyelenggara mengelola usaha secara profesional, dan masyarakat mengambil keputusan secara bijak berdasarkan informasi yang memadai.
"Dalam ibadah umrah, yang dicari bukan hanya harga yang murah, tetapi kepastian keberangkatan, keamanan dana, kualitas pelayanan, dan ketenangan hati dalam beribadah," pungkas Solihin, Direktur Operasional dan Sales ESQ Tours Travel. (*)
Apa Reaksi Anda?