BBM di Palangka Raya Langka, Driver Ojol Keluhkan Antrean Panjang SPBU hingga Pendapatan Merosot
Pembatasan BBM di Palangka Raya berdampak pada ojol. Antrean panjang dan stok terbatas turunkan pendapatan, memaksa driver ubah strategi kerja demi bertahan.
PALANGKA RAYA - Kebijakan pembatasan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang baru saja diresmikan Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Surat Edaran (SE) Wali Kota mulai dirasakan dampaknya secara langsung oleh para pejuang nafkah di jalanan.
Di balik angka-angka pembatasan rupiah, ada cerita tentang keringat dan waktu yang terbuang sia-sia di antrean SPBU.
Eko, salah satu driver ojek daring (ojol) di Palangka Raya, menuturkan betapa sulitnya menjaga ritme kerja di tengah kelangkaan BBM yang melanda kota berjuluk Kota Cantik ini. Baginya, setiap menit yang dihabiskan untuk mengantri adalah rupiah yang hilang.
“Untuk pendapatan, jujur saja agak menurun. Sekarang kita harus antri panjang di SPBU karena mulai kesusahan mencari minyak (BBM). Eceran di jalanan pun banyak yang kosong,” keluh Eko kepada TIMES Indonesia, Rabu (6/5/2026).
Eko yang biasanya mampu mengantongi rata-rata 20 trip orderan setiap harinya, kini harus bekerja ekstra keras. Ia terpaksa lebih sering mengambil orderan layanan Ride (penumpang) dibandingkan Food karena jarak jemput penumpang yang dianggap lebih masuk akal dan efisien di tengah kondisi BBM yang tidak baik-baik saja.
“Kalau layanan Food, sering kali jarak jemput ke restonya jauh-jauh. Di kondisi bensin sulit begini, lebih masuk akal lari ke Ride. Resikonya, servis kendaraan harus lebih rutin karena beban kerja mesin, tapi itu lebih baik daripada tidak narik sama sekali,” tambahnya.
Kondisi ini menjadi kontras dengan isi SE Wali Kota Palangka Raya Nomor 500.2.1/198/DPKUKMP-bid.1/V/2026 yang bermaksud meratakan distribusi BBM.
Bagi para pengemudi ojol yang menggantungkan hidup sepenuhnya di jalan raya, batasan pengisian maksimal Rp50.000 untuk roda dua jenis Pertalite dan untuk Pertamax maksimal Rp. 100.000 memaksa mereka lebih sering bolak-balik ke SPBU.
Para pejuang nafkah di jalanan ini berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembatasan, tetapi juga memastikan ketersediaan stok di semua lini, baik di tingkat SPBU maupun pedagang eceran, karena dapat dianggap menjadi alternatif ketika sedang dalam kondisi mendesak dan terburu-buru.
“Kami hanya ingin kondisi kembali sedia kala. Jangan sampai untuk cari nafkah saja, kami harus bertaruh nyawa dan waktu hanya untuk seliter bensin,” pungkas Eko.(*)
Apa Reaksi Anda?