AS dan Iran Sepakati Akhir Perang, Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali
Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran akan berlangsung dalam 60 hari ke depan.
JAKARTA - Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Kesepakatan tersebut memberikan harapan baru bagi stabilitas kawasan Teluk dan perekonomian global yang selama berbulan-bulan terdampak konflik. Namun, implementasi perjanjian belum akan dimulai hingga proses penandatanganan resmi yang menurut Pakistan, selaku mediator utama, dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat mendatang.
Rincian lengkap kesepakatan belum diumumkan. Meski demikian, langkah ini diperkirakan akan memperpanjang gencatan senjata rapuh yang telah berlaku sejak April lalu, sekaligus membuka jalan bagi negosiasi lanjutan terkait sejumlah isu krusial, termasuk program nuklir Iran dan pencabutan sanksi internasional.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut positif tercapainya kesepakatan tersebut.
“Selamat untuk semua pihak,” tulis Trump melalui media sosial. Ia juga menyatakan memberikan otorisasi untuk pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan serta mengakhiri blokade angkatan laut Amerika Serikat yang sebelumnya diberlakukan sebagai respons atas penguasaan Iran terhadap jalur perairan tersebut.
Meski demikian, Trump kemudian menegaskan bahwa pembukaan penuh Selat Hormuz baru akan berlaku setelah penandatanganan resmi dilakukan. Sebelumnya, Washington juga menyatakan kesiapan melonggarkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta membuka ruang bagi peningkatan ekspor minyak Iran guna membantu pemulihan ekonomi negara tersebut.
Dari pihak Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi mengonfirmasi adanya kesepakatan awal. Namun, Teheran menegaskan seluruh poin perjanjian baru akan dijalankan setelah dokumen resmi ditandatangani pada Jumat.
Negosiasi intensif yang melibatkan mediator dari Pakistan dan Qatar berlangsung selama berjam-jam di Teheran. Sejumlah pertemuan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Doha pekan ini untuk mempersiapkan pembicaraan teknis antara kedua negara.
Perang yang Mengguncang Kawasan
Konflik bermula pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Perang kemudian meluas dengan serangan rudal dan drone yang melibatkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Gencatan senjata pertama berhasil dicapai pada 7 April 2026. Namun ketegangan tetap berlangsung setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade maritim terhadap Iran sepuluh hari kemudian.
Pakistan menyebut kesepakatan terbaru mencakup penghentian operasi militer secara permanen di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon yang selama ini menjadi arena ketegangan antara Israel dan kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengatakan kedua pihak telah sepakat mengakhiri operasi militer dan membuka jalur menuju pembicaraan teknis yang lebih mendalam.
Namun hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Israel yang sebelumnya beberapa kali menyampaikan keraguan terhadap proses negosiasi tersebut.
Selat Hormuz Jadi Kunci Ekonomi Dunia
Salah satu poin terpenting dalam kesepakatan ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut merupakan salah satu koridor energi paling vital di dunia.
Sebagian besar ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk melewati jalur tersebut. Penutupan atau gangguan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz selama konflik menyebabkan gejolak harga energi global dan mengganggu rantai pasok internasional.
Meski kesepakatan telah dicapai, para pakar energi memperkirakan dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga aktivitas pelayaran dan distribusi minyak kembali normal. Perusahaan pelayaran dan asuransi masih menunggu kepastian bahwa perjanjian damai benar-benar akan bertahan dalam jangka panjang.
Program Nuklir Iran Masih Jadi Batu Ujian
Walaupun perang berpotensi berakhir, isu utama yang memicu konflik masih belum terselesaikan, yakni program nuklir Iran.
Menurut data terbaru, Iran masih memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen. Angka tersebut hanya selangkah secara teknis menuju tingkat kemurnian 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
Selama ini Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Namun Amerika Serikat dan sekutunya menuntut pembatasan yang lebih ketat terhadap aktivitas pengayaan uranium.
Dalam berbagai putaran negosiasi, muncul sejumlah opsi, mulai dari penghancuran stok uranium yang telah diperkaya hingga pemindahannya ke negara lain. Russia bahkan pernah menawarkan diri untuk menampung material tersebut.
Kesepakatan awal yang diumumkan saat ini hanya menjadi kerangka dasar. Dalam 60 hari ke depan, kedua negara dijadwalkan melanjutkan pembahasan mengenai program nuklir, sanksi ekonomi, serta berbagai persoalan keamanan regional yang selama ini menjadi sumber ketegangan. (*)
Apa Reaksi Anda?