Antisipasi Kemarau Ekstrem 2026, Pemkab Lamongan Perkuat Pompanisasi

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi bersama Dirjen Tanaman Pangan Kementan meninjau Embung Sumengko untuk memastikan kesiapan pompanisasi dan irigasi menghadapi kemarau ekstrem 2026

April 28, 2026 - 22:31
Antisipasi Kemarau Ekstrem 2026, Pemkab Lamongan Perkuat Pompanisasi

LAMONGAN - Pemerintah Kabupaten Lamongan memperkuat upaya antisipasi potensi kekeringan akibat perubahan iklim guna menjaga stabilitas swasembada pangan. Langkah ini menjadi fokus utama dalam menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi akan cukup menantang bagi sektor pertanian.

Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, saat mendampingi kunjungan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Tin Latifah, di Embung Sumengko, Desa Tambakmenjangan, Kecamatan Sarirejo, Selasa (28/4/2026).

Bupati yang akrab disapa Pak Yes ini menekankan bahwa tahun 2026 menjadi momentum penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak cepat dan terintegrasi dalam menjaga produksi pangan daerah.

“Tahun ini penting bagi kita menghadapi kemarau yang ekstrem. Kita semua harus turun ke lapangan agar swasembada pangan tetap terselamatkan,” ujar Pak Yes.

Menurutnya, peringatan dari pemerintah pusat melalui koordinasi bersama Gubernur Jawa Timur dan Menteri Pertanian terkait perubahan cuaca harus menjadi perhatian serius. Selain potensi hujan lebat yang sempat terjadi, wilayah Lamongan diprediksi akan menghadapi panas ekstrem dalam durasi yang cukup panjang.

Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan semua pihak agar sektor pertanian tetap produktif dan tidak terdampak signifikan oleh anomali iklim.

Ancaman El Nino Moderat

Di sisi lain, Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Tin Latifah, menjelaskan bahwa fenomena iklim yang diperkirakan terjadi tahun ini masuk dalam kategori El Nino moderat. Menurutnya, kondisi tersebut masih dapat dimitigasi melalui langkah-langkah strategis.

“El Nino yang akan kita hadapi bersifat moderat, sehingga masih bisa diupayakan dengan berbagai langkah, termasuk pemanfaatan lahan kering dan dukungan sarana prasarana pertanian,” kata Tin Latifah.

Ia menambahkan, optimalisasi sumber daya air menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian. Oleh karena itu, fungsi waduk, embung, serta saluran irigasi akan terus dimaksimalkan penggunaannya.

Embung Sumengko, Desa Tambakmenjangan

Solusi Pompanisasi dan Normalisasi Sungai

Dalam peninjauan lapangan tersebut, tim teknis juga mengidentifikasi kendala pada sumber air, salah satunya pertumbuhan eceng gondok yang menghambat aliran menuju lahan warga.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah akan memperkuat pemanfaatan teknologi pertanian modern melalui sistem pompanisasi dan irigasi perpipaan. Hal ini bertujuan agar kebutuhan air untuk lahan pertanian tetap tercukupi selama musim kemarau.

Menjawab aspirasi masyarakat terkait aliran sungai yang belum optimal, Pemkab Lamongan juga berkomitmen segera melakukan pengerukan (normalisasi) dan pelebaran saluran air. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas distribusi air ke area persawahan, sehingga petani tetap dapat menjalankan masa tanam secara optimal.

Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim. Dengan penguatan langkah antisipatif ini, Lamongan diharapkan mampu mempertahankan posisi sebagai salah satu lumbung pangan unggulan di Jawa Timur. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow