Antisipasi Dampak El Nino, Bulog Cianjur Amankan Stok 30 Ribu Ton Beras
Langkah mitigasi Bulog Cianjur ini difokuskan untuk menjaga ketersediaan komoditas pokok sekaligus menekan fluktuasi harga di wilayah Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi dan Kota Sukabumi.
CIANJUR - Perum Bulog Kantor Cabang Kabupaten Cianjur meluncurkan tiga langkah strategis guna mengantisipasi ancaman kemarau panjang akibat El Nino yang berpotensi mengganggu stabilitas pangan.
Langkah mitigasi Bulog Cianjur ini difokuskan untuk menjaga ketersediaan komoditas pokok sekaligus menekan fluktuasi harga di wilayah Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, dan Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Skema penyelamatan ketahanan pangan tersebut ditempuh dengan memperkuat cadangan beras milik pemerintah, mengoptimalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP, serta mempercepat distribusi bantuan sosial bagi masyarakat rentan.
Kepala Perum Bulog Cianjur, Muhammad Azwar Fuad, mengungkapkan bahwa kesiapan dini sangat krusial demi meredam dampak penurunan produktivitas lahan pertanian akibat kekeringan ekrem.
Dalam upaya mempertebal cadangan pangan, perusahaan negara ini memprioritaskan penyerapan gabah langsung dari hasil panen para petani domestik.
"Berdasarkan data terbaru, realisasi pengadaan gabah lokal bahkan telah menembus angka 130 persen melampaui target awal yang dicanangkan tahun ini," ujarnya dalam keterangan yang diterima, Rabu (8/7/2026).
Azwar Fuad menjelaskan bahwa capaian tersebut merefleksikan keseriusan institusinya dalam memayungi kesejahteraan petani lokal sekaligus menjamin pasokan beras di tingkat konsumen tetap aman.
Hingga memasuki pekan pertama Juli, volume beras yang tersimpan di kompleks pergudangan Bulog Cianjur tercatat melampaui angka 30 ribu ton, jumlah yang diklaim aman untuk menopang kebutuhan warga hingga empat bulan mendatang.
"Stok melimpah ini sengaja dipersiapkan sebagai jaring pengaman apabila sektor pertanian di wilayah kerja mereka mengalami penyusutan hasil panen atau bahkan gagal total," katanya.
Warga di daerah Cianjur dan Sukabumi diimbau tidak perlu cemas karena cadangan beras yang dikuasi pemerintah saat ini berada dalam posisi yang sangat mencukupi.
Di samping memperkuat lumbung pangan, operasi pasar melalui penyaluran beras SPHP terus digenjot dengan harga yang dipatok di bawah rata-rata pasar reguler.
Intervensi ini menjadi instrumen utama pemerintah dalam meredam lonjakan harga sepihak yang kerap membebani daya beli masyarakat saat pasokan mulai menipis akibat pergeseran musim tanam.
Manajemen menjamin mutu komoditas SPHP tersebut setara dengan kualitas beras premium lantaran diproses dari gabah segar petani lokal yang diolah menggunakan standardisasi ketat operasional Bulog.
Di luar intervensi pasar, korporasi juga segera menggulirkan kembali program bantuan pangan nasional yang menyasar ratusan ribu keluarga penerima manfaat.
Sesuai arahan otoritas pusat, stimulus bantuan pangan komoditas beras ini dijadwalkan berjalan selama tiga bulan berturut-turut pada tahun 2026.
Di wilayah kerja Cianjur dan Sukabumi, alokasi bantuan akan didistribusikan kepada sekitar 400 ribu keluarga, dengan masing-masing penerima mendapatkan jatah 10 kilogram beras per bulan.
Skema jaminan sosial ini diyakini efektif meredam tekanan harga di pasar bebas karena permintaan dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah otomatis teralihkan oleh pasokan cuma-cuma dari pemerintah.
Mengenai kebijakan harga beli gabah, institusi tetap menetapkan batas bawah regulasi Harga Pembelian Pemerintah senilai Rp6.500 per kuintal.
Kendati demikian, para petani diberikan kebebasan penuh untuk melepas hasil panen mereka ke pihak swasta sekiranya harga komersial di pasaran jauh lebih menguntungkan dibandingkan regulasi pemerintah.
"Melalui integrasi tiga kebijakan strategis ini, kami Bulog Cianjur optimistis ketahanan pangan regional tetap kokoh dan daya beli publik terlindungi di tengah ancaman El Nino," tandasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?