Andy Soebjakto Sebut Aksara Kawi Sebagai DNA Bangsa Indonesia
Aksara kawi bukan sekadar tulisan aksara, tetapi lebih dari itu menjadi DNA peradaban budaya Indonesia
MALANG - Penasihat Ahli Kapolri bidang Pergerakan Kepemudaan, Andy Soebjakto mengatakan, aksara kawi bukan sekadar bentuk tulisan aksara atau jejak peradaban biasa, tetapi menjadi DNA peradaban budaya bangsa Indonesia. Hal tersebut ia sebut melalui orasinya dalam kegiatan Srawung Budaya Aksara Kawi di Gedung MCC Malang, Minggu (5/7/2026).
“Aksara kawi bukan sekadar tulisan aksara, tetapi lebih dari itu menjadi DNA peradaban budaya Indonesia,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa apabila DNA tersebut hilang, maka identitas budaya dan bangsa pun juga akan hilang. Dan bangsa akan kesulitan untuk menentukan arah dan tujuannya.
Ia juga menjelaskan bahwa aksara kawi adalah turunan dari bahasa dan aksara sebelumnya, setelahnya baru muncul aksara jawa dan aksara bali yang memiliki karakter masing-masing.
Selain itu, Andy juga mengutip kalimat Benedict Anderson bahwa bahasa dan tulisan menjadi instrumen utama dalam menyatukan jutaan manusia yang tidak saling mengenal dalam satu kesadaran yang disebut sebagai bangsa. Maka, mutlak bagi sebuah bangsa memiliki bahasa dan aksara.
“Setiap huruf yang dibuat oleh generasi muda sejatinya adalah mempertahankan identitas budaya bangsanya,” tambah pria yang sekaligus menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PP IKA UB.
Andy menekankan bahwa melalui proses dialektika hingga diskursus, aksara kawi dapat berkembang lebih jauh lagi.
Selain bahasa, Andy mengatakan bahwa identitas budaya juga ditunjukkan melalui memori, sejarah, dan simbol-simbol kebudayaan. Ia pun mencontohkan inovasi yang dilahirkan oleh leluhur terkait teknologi metal pada zamannya. Hal tersebut membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa penemu sejak zaman dahulu.
“Kita punya sejarah inovasi teknologi metal yang sangat tinggi, ini membuktikan bahwa bangsa kita bukan pengekor, tetapi bangsa penemu,” ucapnya.
Menurutnya, penguatan identitas tersebut sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial dan ketahanan nasional. Mereka yang memiliki hal tersebut tidak akan mudah terpengaruh pada provokasi, intoleransi, narasi ekstremisme, atau pengaruh negatif lainnya yang dapat memecah persatuan bangsa.
“Pemuda yang memiliki identitas kuat dan mengakar pada budayanya tidak akan mudah terombang-ambing oleh provokator,” imbuhnya.
Ia menegaskan kembali bahwa selama bangsa dapat mempertahankan budayanya, maka mereka memiliki arah tujuan serta kebanggaan. Ia pun mengajak masyarakat untuk menghargai budaya sendiri, termasuk aksara kawi.
“Sahabat sekalian, nilai-nilai sejati bangsa harus dipertahankan, semoga apa yang diperjuangkan bisa terus tumbuh,” ucapnya.
Terakhir, ia mengatakan kegiatan ini adalah momentum mengembalikan kesejatian bangsa Indonesia melalui aksara kawi, terutama ditengah derasnya arus informasi dan digitalisasi. (*)
Apa Reaksi Anda?