AMSI Soroti Double Squeeze Industri Media akibat AI dan Zero Click

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, menegaskan bahwa industri media Indonesia tengah menghadapi tekanan ganda atau double squeeze akibat dua fenomena besar dalam setahun tera

Februari 21, 2026 - 20:34
AMSI Soroti Double Squeeze Industri Media akibat AI dan Zero Click

MALANG Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, menegaskan bahwa industri media Indonesia tengah menghadapi tekanan ganda atau double squeeze akibat dua fenomena besar dalam setahun terakhir.

Fenomena pertama adalah maraknya peluncuran berbagai generative AI tools seperti OpenAI melalui produknya ChatGPT, serta hadirnya fitur AI Overview di mesin pencari yang memicu fenomena zero click. Dalam skema ini, pengguna tidak lagi mengklik tautan berita karena ringkasan informasi sudah tersedia langsung di halaman hasil pencarian.

Akibatnya, banyak media mengalami penurunan trafik organik secara signifikan, bahkan disebut mencapai lebih dari 50 persen.

Fenomena kedua adalah meningkatnya aktivitas crawler AI yang mengakses situs media untuk merekam dan melatih model berbasis konten jurnalistik.

“Ada peningkatan jumlah bots masuk ke news media website untuk merekam konten yang kita produksi, tanpa ada licensing agreement,” ujar Wahyu dalam diskusi bertema Navigating AI in Newsrooms: Research Insights and Media Business Sustainability di Hotel Morrissey, Jakarta.

Ia menjelaskan, di satu sisi trafik menurun, namun di sisi lain konten tetap dimanfaatkan tanpa imbal balik ekonomi yang adil. Situasi ini membuat industri media berada di persimpangan jalan.

Perlindungan Data dan Infrastruktur Baru

Menurut Wahyu, di sisi hulu yang kini mendesak adalah perlindungan data oleh publisher. Sementara di sisi hilir, tim redaksi dan bisnis dituntut melakukan optimalisasi teknologi untuk menjaga keberlanjutan usaha.

AMSI telah merespons dengan membangun infrastruktur baru yang diadopsi dari OpenMind, sebuah open source infrastructure asal Amerika Serikat. Sistem ini dirancang agar crawler AI yang masuk dapat dipantau, aktivitasnya dicatat, serta membuka ruang negosiasi kompensasi.

Uji coba awal telah dilakukan pada tiga media anggota AMSI dan dalam waktu dekat akan disosialisasikan lebih luas.

Namun, berdasarkan tinjauan internal, AMSI mendapati pemahaman teknis seperti penggunaan robots.txt masih minim. Dari sekitar 500 anggota, kurang dari 5 persen yang telah memasang robots.txt serta melakukan whitelist dan blacklist terhadap crawler yang mengakses situs mereka.

Dorongan Regulasi dan Publisher Rights

Di tingkat ekosistem, Wahyu menekankan pentingnya penguatan regulasi untuk melindungi konten jurnalistik. Opsi yang didorong meliputi revisi Undang-Undang Hak Cipta, penguatan publisher rights, hingga regulasi turunan lainnya.

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat posisi tawar media dalam bernegosiasi dengan platform digital global.

“Kita perlu dukungan agar konten jurnalistik terlindungi,” ujarnya.

Di sisi internal, publisher juga didorong untuk memahami aset data yang dimiliki, melakukan diferensiasi produk jurnalistik, serta mengembangkan pendekatan berbasis data. Pemanfaatan AI secara strategis dinilai dapat meningkatkan produktivitas redaksi sekaligus mendorong inovasi model bisnis baru yang lebih berkelanjutan.

Kolaborasi Global Lewat PIMHIE

Dalam forum yang sama, Country Director Indonesia and Pacific BBC Media Action, Rachel McGuinn, menjelaskan bahwa AI telah membawa perubahan signifikan bagi industri media, termasuk di Indonesia.

Sebagai respons, tim peneliti BBC Media Action mengembangkan panduan riset untuk memetakan dampak AI terhadap jurnalis Indonesia dan ekosistem kerja media.

Proyek tersebut dinamakan Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE). Program ini juga dijalankan di Sierra Leone, Peru, dan Zambia sebagai bagian dari inisiatif global menghadapi disrupsi digital dan perkembangan AI.

Melalui kolaborasi antara AMSI dan BBC Media Action, PIMHIE bertujuan menjembatani riset global dengan praktik media lokal, sekaligus mendorong dialog berbasis data mengenai keberlanjutan bisnis media di era AI.

Forum ini menegaskan bahwa tantangan AI tidak dapat dihadapi secara individual. Diperlukan langkah kolektif, kolaborasi lintas sektor, dan solidaritas industri agar media Indonesia tetap relevan, independen, dan berdaya saing.

“Masih ada harapan, selama kita bergerak bersama, solid, dan kolektif,” kata Wahyu. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow