Ada 29 Ribu KK Miskin Ekstrem, Pemkab Pacitan Andalkan Bedah Rumah hingga Pelatihan UMKM

Data Dinas Sosial (Dinsos) Pacitan mencatat, selain kelompok miskin ekstrem, terdapat 28.620 KK kategori miskin (desil 2), 22.240 KK hampir miskin (desil 3), dan 18.405 KK rentan miskin (desil 4).

Juni 2, 2026 - 18:31
Ada 29 Ribu KK Miskin Ekstrem, Pemkab Pacitan Andalkan Bedah Rumah hingga Pelatihan UMKM

PACITAN - Sebanyak 29.670 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Pacitan masih masuk kategori miskin ekstrem atau desil 1.

Menghadapi kondisi itu, Pemerintah Kabupaten Pacitan mengandalkan sejumlah intervensi, mulai program bedah rumah, jaminan kesehatan, hingga pelatihan usaha bagi pelaku UMKM.

Data Dinas Sosial (Dinsos) Pacitan mencatat, selain kelompok miskin ekstrem, terdapat 28.620 KK kategori miskin (desil 2), 22.240 KK hampir miskin (desil 3), dan 18.405 KK rentan miskin (desil 4).

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Pacitan, Muchamad Chusnul Faozi, mengatakan pemerintah daerah menyiapkan tiga strategi utama untuk menekan angka kemiskinan.

Strategi pertama dilakukan dengan mengurangi beban pengeluaran masyarakat melalui bantuan sosial dan perlindungan dasar.

“Ada tiga strategi utama yang berupaya kita lakukan. Bagaimana upaya kita untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat,” kata Chusnul Faozi, Selasa (2/6/2026).

Menurut dia, intervensi dilakukan melalui program bedah rumah dan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin, terutama warga kategori desil 1.

“Contohnya melalui beberapa bantuan seperti bedah rumah. Tahun ini insyaallah di atas 2.500 unit rumah yang dibedah. Memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat, terutama yang berada pada desil 1,” ujarnya.

Langkah berikutnya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Pemkab Pacitan berupaya memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pendampingan dan peningkatan kualitas produk.

“Berikutnya kita berupaya bagaimana meningkatkan pendapatan masyarakat. Beberapa cara yang kita lakukan seperti memfasilitasi UMKM agar lebih bagus produknya, sehingga harapannya omzetnya semakin meningkat. Beberapa pelatihan juga dilakukan,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong pemerataan kualitas layanan dasar, baik fisik maupun nonfisik, agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas.

“Ketiga, upaya kita untuk meningkatkan kualitas layanan baik fisik dan non fisik agar bisa lebih merata,” katanya.

Di sisi lain, Pemkab Pacitan terus memperbarui data kemiskinan untuk memastikan program berjalan tepat sasaran.

“Perbaikan dan updating data sebaik mungkin akan terus dilakukan. Harapannya dengan data yang sesuai, maka program-program yang telah direncanakan akan lebih tepat,” tegas Chusnul.

Sebelumnya, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Pacitan, Agung Mukti Wibowo, menyebut kelompok desil 1 hingga desil 4 menjadi prioritas penerima bantuan sosial.

“Desil 1 itu sangat miskin atau miskin ekstrem. Desil 2 miskin, desil 3 hampir miskin, dan desil 4 rentan miskin,” katanya.

Menurut Agung, masih ada warga miskin ekstrem yang belum menerima bantuan sosial. Karena itu, sinkronisasi data bersama Kementerian Sosial masih terus dilakukan.

“Yang desil 5 atau 6 ke atas itu harapannya nanti bisa dialihkan kuotanya untuk desil 1 dan 2 yang belum,” jelasnya. 

Meski pemerintah pusat menerapkan efisiensi anggaran, Chusnul memastikan hal itu tidak menjadi kendala utama dalam penanganan kemiskinan di Pacitan. Namun, pemerintah daerah harus lebih selektif menentukan program prioritas.

“Kalau kendala bukan. Tetapi kami harus lebih memilih kegiatan-kegiatan yang prioritas dan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat maupun provinsi untuk dukungan program yang ada,” pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow