8 Kecamatan di Jember Ditimpa Kekeringan, BPBD: Bisa Sampai September

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember menetapkan status siaga darurat menyusul adanya potensi kekeringan di sejumlah daerah.

Juli 9, 2026 - 12:01
8 Kecamatan di Jember Ditimpa Kekeringan, BPBD: Bisa Sampai September

JEMBER - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember menetapkan status siaga darurat menyusul adanya potensi kekeringan di sejumlah daerah.

Sedikitnya ada delapan kecamatan yang masuk dalam peta rawan krisis air bersih pada musim kemarau kali ini.

Kepala BPBD Jember Edi Budi Susilo mengungkapkan bahwa delapan wilayah yang menjadi perhatian khusus tersebut meliputi Kecamatan Sumberbaru, Patrang, Rambipuji, Tempurejo, Kalisat, Pakusari, Silo, dan Sukorambi.

"Mulai April kemarin sudah kami siagakan, dan ini diprediksi bisa berlangsung sampai bulan Agustus, bahkan kemungkinan hingga September," ujar Edi, Kamis (8/7/2026).

Hingga saat ini, BPBD Jember mencatat sudah ada dua desa yang secara resmi mengajukan permohonan bantuan air bersih akibat dampak kekeringan yang mulai meluas, yaitu Desa Sumberpinang dan Desa Sumberjeruk.

Merespons laporan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, PMI, PDAM, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen sekaligus mendistribusikan bantuan logistik.

"Di Sumberpinang dan Sumberjeruk sudah terjadi (kekeringan). Kami sudah terjunkan tim ke sana dengan mendistribusikan tangki air bersih, tandon, hingga jerigen untuk warga," jelas Edi.

Edi menambahkan bahwa BPBD Provinsi Jawa Timur juga telah menjalin komunikasi untuk menawarkan bantuan armada dan logistik jika diperlukan.

Namun, untuk saat ini, pihak kabupaten menegaskan situasi masih dapat ditangani secara mandiri.

Selain persoalan krisis air, BPBD Jember juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Imbauan ini berkaca pada insiden kebakaran yang baru saja melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari.

Kebakaran lahan seluas 500 meter persegi tersebut diduga kuat dipicu oleh kelalaian aktivitas manusia.

"Kami sudah mewanti-wanti terkait karhutla, jangan sampai sembrono. Kemarin TPA kita di Pakusari kebakaran lagi seluas 500 meter persegi, gara-gara ada pemulung yang membuang putung rokok sembarangan," kata Edi menyayangkan.

Proses pemadaman melibatkan petugas pemadam kebakaran (Damkar) dan personel BPBD yang terpaksa mengambil pasokan air dari sungai terdekat untuk melokalisir api agar tidak terus meluas.

BPBD meminta masyarakat lebih bijak dan berhati-hati, terutama dalam mengelola material yang mudah terbakar di area terbuka. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow