27 Titik Infrastruktur Vital Rusak Akibat Cuaca Ekstrem di Jember

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember memprioritaskan pemulihan infrastruktur vital yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Jember, beberapa waktu lalu.

Maret 2, 2026 - 11:00
27 Titik Infrastruktur Vital Rusak Akibat Cuaca Ekstrem di Jember

JEMBER Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember memprioritaskan pemulihan infrastruktur vital yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Jember, beberapa waktu lalu.

Tercatat sedikitnya 27 titik kerusakan infrastruktur yang tersebar di tujuh kecamatan.

Kerusakan ini didominasi oleh tanah longsor dan pergerakan tanah lateral yang dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan selama dua bulan terakhir.

​Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jember, Anang Dwi Resdianto, menegaskan bahwa pihaknya tidak sekadar melakukan pendataan, namun telah melakukan evaluasi teknis mendalam untuk menentukan titik-titik kritis yang membutuhkan intervensi segera.

​"Kami bergerak cepat menindaklanjuti dampak bencana yang terjadi sejak awal Januari. Seluruh infrastruktur mulai dari dinding penahan tanah (retaining wall), jembatan, hingga akses jalan lingkungan warga telah kami petakan. Fokus utama kami adalah memastikan aksesibilitas masyarakat tidak terputus," kata Anang, Senin (2/3/2026).

​BPBD Jember mengidentifikasi beberapa lokasi yang berada dalam kondisi mengkhawatirkan dan memerlukan rekonstruksi permanen dalam waktu dekat.

Yakni ​Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa,  Dusun Sodong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti dan Dusun Glundengan, Desa Suci.

Dia menerangkan, kerusakan pada dinding penahan tanah di wilayah ini dinilai sangat mendesak.

Sebagai urat nadi transportasi warga, lanjutnya, rekonstruksi di titik ini menjadi harga mati guna mencegah isolasi wilayah dan​ kondisi jembatan bambu darurat yang dibangun sejak 2019 kini telah lapuk dan membahayakan keselamatan.

"Jembatan ini merupakan satu-satunya akses bagi sekitar 30 kepala keluarga. BPBD berkomitmen mengupayakan peralihan ke struktur permanen," ungkap Anang.

"Struktur bronjong kawat setinggi belasan meter yang dibangun pada 2025 kini terancam ambrol. Tekanan lateral akibat beban air hujan yang tinggi berisiko menyeret badan jalan utama jika tidak segera ditangani secara teknis," imbuhnya.

​Mengingat besarnya skala kerusakan dan kebutuhan anggaran yang signifikan, BPBD Jember secara resmi tengah menyiapkan dokumen desain teknis dan proposal permohonan dana stimulan kepada pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta kementerian terkait.

​"Langkah taktis telah kami siapkan. Kami akan segera mendorong usulan anggaran ke pusat agar proses rekonstruksi infrastruktur skala besar dapat segera dieksekusi. Kami tidak ingin penanganan ini tertunda karena keterbatasan fiskal daerah, mengingat ini menyangkut keselamatan publik," beber Anang.

​Mengingat kondisi cuaca yang masih fluktuatif, BPBD Jember menginstruksikan seluruh lapisan masyarakat, terutama yang bermukim di daerah lereng dan rawan longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan.

BPBD juga terus memperkuat program ketahanan masyarakat agar warga mampu melakukan deteksi dini terhadap potensi kerusakan infrastruktur di lingkungan mereka.​

"Hingga saat ini, BPBD Jember tetap memfokuskan penanganan darurat pada pemulihan rumah tinggal warga yang terdampak langsung, sembari memastikan langkah-langkah preventif pada infrastruktur penopang ekonomi tetap berjalan sesuai rencana," pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow