25 Daerah Terdampak Kemarau, Jateng Sudah Salurkan 6,8 Juta Liter Air Bersih

Pemprov Jawa Tengah telah menyalurkan 6,8 juta liter air bersih ke 25 daerah terdampak kemarau. Sebanyak 11 kabupaten/kota kini berstatus siaga darurat kekeringan.

Juli 27, 2026 - 19:00
25 Daerah Terdampak Kemarau, Jateng Sudah Salurkan 6,8 Juta Liter Air Bersih

SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) telah menyalurkan 6,8 juta liter air bersih ke wilayah terdampak kekeringan selama musim kemarau 2026. Hingga 24 Juli 2026, distribusi tersebut menjangkau 25 kabupaten/kota, 83 kecamatan, dan 148 desa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, sebanyak 11 kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat kekeringan.

Dari total distribusi air bersih, sebanyak 4.853.800 liter berasal dari APBD Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah kabupaten/kota. Sementara 1.951.500 liter lainnya merupakan bantuan dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), PMI, TNI-Polri, dan berbagai instansi lainnya.

"Total penerima manfaat distribusi air bersih sekitar 61.139 kepala keluarga atau 184.643 jiwa. Tiga daerah dengan distribusi air bersih terbanyak adalah Kabupaten Klaten, Pemalang, dan Banjarnegara," kata Bergas saat melaporkan kondisi kekeringan kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Senin (27/7/2026).

Menurut Bergas, pasokan air bersih masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Dari total ketersediaan 44,9 juta liter air bersih yang disiapkan melalui APBD kabupaten/kota, sekitar 40 juta liter masih tersedia untuk didistribusikan.

"Masih ada sisa ketersediaan air bersih sekitar 40 juta liter dari total 44,9 juta liter yang disediakan oleh APBD kabupaten/kota. Terkait air bersih ini masih mumpuni karena ketersediaan anggaran maupun air bersihnya masih tersedia," ujarnya.

Selain dampak kekeringan, BPBD juga mencatat peningkatan kejadian kebakaran selama musim kemarau. Dalam periode 5 Juni hingga 19 Juli 2026, terjadi 275 kasus kebakaran yang terdiri atas 56 kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta 219 kebakaran gedung dan rumah.

Menurut Bergas, lahan tebu menjadi wilayah yang paling banyak terdampak karhutla. Total kerugian akibat karhutla diperkirakan mencapai Rp607 juta, sedangkan kebakaran gedung dan rumah menimbulkan kerugian sekitar Rp27 miliar.

"Karhutla ini yang perlu diantisipasi oleh daerah," katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah mitigasi menghadapi musim kemarau, termasuk pemetaan wilayah rawan kekeringan dan penyiapan distribusi air bersih.

"Intinya kebutuhan air bersih masih cukup, tinggal distribusi," ujar Luthfi saat memimpin Rapat Pengendalian Operasional Kegiatan (POK) bersama kepala OPD, BUMD, dan BLUD.

Selain memastikan kebutuhan air bersih masyarakat, Pemprov Jawa Tengah juga berupaya menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian untuk mendukung target peningkatan produksi padi pada 2026.

Luthfi mengatakan pihaknya telah mengajukan bantuan pompa air kepada Menteri Pertanian dan telah memperoleh persetujuan.

"Kemarin saya sudah ajukan ke Menteri Pertanian untuk bantuan pompa air. Sudah disetujui, tinggal nanti Dinas Pertanian dan Peternakan menindaklanjuti agar bisa segera dikirim," katanya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow