Wihara Avalokitesvara Tasikmalaya: Barongsai, Lontong Cap Go Meh, dan Simbol Harmoni Kota Santri
Cap Go Meh di Wihara Avalokitesvara Tasikmalaya dirayakan dengan barongsai dan lontong Cap Go Meh, jadi ruang toleransi lintas iman, akulturasi Tionghoa-Nusantara, dan edukasi generasi muda.
TASIKMALAYA Dua barongsai meliuk lincah, meloncat, dan menunduk hormat di hadapan ratusan pengunjung yang memadati halaman Wihara Avalokitesvara di Jalan Pemuda, Empangsari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Dentuman tambur dan gemerincing simbal mengiringi setiap gerakan akrobatik, menandai puncak perayaan Cap Go Meh yang berlangsung khidmat sekaligus meriah.
Perayaan Cap Go Meh di Tasikmalaya tahun ini bukan sekadar seremoni penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.
Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang kebersamaan lintas iman, simbol pelestarian budaya Tionghoa, sekaligus penguat toleransi di tengah masyarakat multikultural Kota Tasikmalaya.
Secara etimologis, Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian, yakni “cap” (sepuluh), “go” (lima), dan “meh” (malam), yang berarti malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.
Dalam kalender lunar Tionghoa, hari ke-15 ini menandai berakhirnya rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek dan dirayakan dengan penuh syukur serta doa keselamatan.
Dalam tradisi Tionghoa, Cap Go Meh juga identik dengan Festival Lampion atau Yuan Xiao Jie di Tiongkok.
Namun di Indonesia, perayaan ini berkembang dengan kekhasan lokal, seperti atraksi barongsai, kirab budaya, hingga tradisi makan bersama lontong Cap Go Meh yang telah menjadi bagian dari akulturasi budaya Nusantara.
Tokoh warga Tionghoa Tasikmalaya, Wo Tjong Hoa kepaa TIMES Indonesia mengungkapkan bahwa Cap Go Meh memiliki makna mendalam bagi masyarakat Tionghoa, khususnya sebagai ungkapan rasa syukur, doa keselamatan, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
“Setelah hari raya Imlek berakhir, Cap Go Meh kita rayakan. Tahun ini acaranya makan bersama lontong Cap Go Meh sambil buka bersama dengan umat Muslim yang ada di sekitar Wihara Avalokitesvara Tasik,” ungkap Wo Tjong Hoa, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, Cap Go Meh bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum spiritual dan sosial yang mempererat hubungan antarumat, apalagi perayaan Cap Go Meh di tahun ini bertepatan dengan bulan suci ramadan 1447 H.
Atraksi barongsai menjadi magnet utama yang menyedot perhatian pengunjung. "Dalam budaya Tionghoa, barongsai dipercaya sebagai simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan penolak bala." jelas Wo Tjong Hoa.
Gerakannya yang dinamis melambangkan energi positif yang diharapkan mengalir sepanjang tahun. Selain barongsai, dalam sejumlah perayaan Cap Go Meh biasanya juga ditampilkan kilin (qilin), makhluk mitologis yang melambangkan kebajikan dan kemakmuran.
Tradisi ini sudah lama mengakar dalam perayaan Cap Go Meh di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Tasikmalaya.
Sejarah mencatat, kesenian barongsai di Indonesia sempat mengalami pembatasan pada masa Orde Baru.
Namun sejak era reformasi, terutama setelah pengakuan Imlek sebagai hari libur nasional pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, budaya Tionghoa kembali tumbuh terbuka dan menjadi bagian sah dari kekayaan budaya nasional.
Salah satu daya tarik perayaan Cap Go Meh di Tasikmalaya adalah tradisi makan bersama lontong Cap Go Meh. Menu ini merupakan bentuk akulturasi budaya Tionghoa dengan kuliner Nusantara.
Berbeda dengan hidangan asli Tiongkok, lontong Cap Go Meh biasanya terdiri dari lontong, opor ayam, telur pindang, sambal goreng ati, hingga sayur labu siam menu khas Lebaran yang diadaptasi dalam perayaan Cap Go Meh di Indonesia.
Kegiatan makan bersama yang digelar di lingkungan wihara, bahkan melibatkan umat Muslim sekitar, menjadi simbol nyata toleransi dan kebersamaan.
Wo Tjong Hoa menilai, keterbukaan perayaan Cap Go Meh bagi masyarakat umum menjadi bukti bahwa keberagaman dapat berjalan selaras.
“Yang menggembirakan, generasi muda mulai menunjukkan antusiasme. Mereka tidak hanya hadir, tetapi juga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan, sehingga tradisi ini tidak terputus oleh zaman,” katanya.
Kota Tasikmalaya yang dikenal sebagai Kota Santri menuru Wo Tjong Ho telah memiliki dinamika sosial keagamaan yang kuat. "Ya, Di tengah mayoritas Muslim, keberadaan komunitas Tionghoa dan wihara tetap menjadi bagian dari mozaik sosial kota."ujarnya.
Perayaan Cap Go Meh di Wihara Avalokitesvara mencerminkan praktik toleransi yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Tidak hanya umat Buddha dan warga Tionghoa yang hadir, tetapi juga masyarakat lintas agama yang turut menyaksikan dan merasakan suasana kebersamaan.
Sementara itu Fam Kok Sing dan Go We Sing warga Cihideung, Kota Tasikmalaya menyebut Cap Go Meh meupakn kekayan daerah sebagai symbol milik bersama.
“Cap Go Meh adalah milik bersama sebagai kekayaan budaya daerah. Dengan saling menghormati dan menjaga kebersamaan, perayaan ini justru memperkuat persatuan di tengah perbedaan,” ucapnya.
Menurutnya, semangat saling menghargai menjadi kunci agar tradisi ini terus hidup dan berkembang.
"Selain memiliki nilai budaya dan spiritual, perayaan Cap Go Meh juga membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar wihara, itu harapan saya,"ungkap Fam Kok Sing.
Dari sisi sosial, perayaan terbuka seperti ini juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Anak-anak dan remaja tidak hanya menyaksikan atraksi barongsai, tetapi juga belajar memahami makna toleransi dan keberagaman secara langsung.
Dalam kalender shio, setiap tahun memiliki elemen dan simbol yang berbeda. Tahun Kuda Api diyakini membawa semangat, energi, dan dinamika tinggi.
Wo Tjong Hoa berharap, semangat tersebut dapat diwujudkan dalam kerja nyata untuk kemajuan Kota Tasikmalaya.
“Di tahun Kuda Api tentu kita berharap lebih baik dan semangat kerja harus lebih ditingkatkan lagi untuk kemajuan kota Tasik yang kita cintai,” ujarnya.
Harapan itu tidak hanya ditujukan bagi komunitas Tionghoa, tetapi bagi seluruh warga kota tanpa memandang latar belakang.
Di tengah dentuman tambur barongsai dan aroma hidangan lontong Cap Go Meh yang mengepul hangat, pesan kebersamaan terasa kuat di halaman wihara sore itu.
Perayaan Cap Go Meh di Tasikmalaya telah menjelma menjadi ruang dialog budaya, ruang edukasi lintas generasi, sekaligus simbol harmoni antarwarga.
Tradisi yang dirayakan setiap 15 hari setelah Imlek ini membuktikan bahwa identitas budaya dapat tumbuh berdampingan dengan nilai kebangsaan dan toleransi.
Cap Go Meh di Tasikmalaya bukan hanya tentang barongsai dan perayaan, tetapi tentang merawat kebersamaan di tengah perbedaan sebuah pesan yang relevan tidak hanya untuk Kota Tasikmalaya, tetapi juga untuk Indonesia.(*)
Apa Reaksi Anda?