Waspada 'Hidden Hunger' di Balik Kemeriahan Berbuka; Perspektif Keamanan Pangan

Memasuki bulan Ramadan 2026, fenomena berburu takjil kembali mendominasi ruang publik. Namun, di balik warna-warni minuman segar dan aroma gorengan yang menggoda, tersimpan tantangan besar mengenai pe

Maret 3, 2026 - 22:00
Waspada 'Hidden Hunger' di Balik Kemeriahan Berbuka; Perspektif Keamanan Pangan

PONOROGO Memasuki bulan Ramadan 2026, fenomena berburu takjil kembali mendominasi ruang publik. Namun, di balik warna-warni minuman segar dan aroma gorengan yang menggoda, tersimpan tantangan besar mengenai pemenuhan nutrisi dan keamanan pangan yang sering terabaikan oleh .asyarakat.

Menurut Tatik Handayani dosen Analis Akafarma Sunan Giri Ponorogo, secara biokimia, tubuh yang berpuasa selama lebih dari 13 jam mengalami fase katabolisme.

Mayoritas masyarakat cenderung memilih hidangan dengan Indeks Glikemik (IG) tinggi saat berbuka. Konsumsi gula sederhana (sirup dan pemanis buatan) secara masif saat perut kosong memicu lonjakan insulin mendadak. Dari sudut pandang analis, penggunaan pewarna non-pangan (seperti Rhodamin B pada sirup merah) masih menjadi ancaman laten di pasar-pasar kaget.

Gorengan yang dijual seringkali menggunakan minyak yang telah melewati titik asapnya (deep frying berulang), menghasilkan radikal bebas yang bersifat karsinogenik.

Estetika visual (warna cerah) lebih laku dibandingkan informasi nilai gizi. Ini adalah tantangan bagi edukasi publik. Jangan sampai masyarakat terjebak pada "kenyang sesaat" namun "lapar nutrisi" (hidden hunger).

"Masyarakat cenderung 'balas dendam' saat berbuka. Padahal, secara analisis kimia pangan, tubuh membutuhkan elektrolit dan serat kasar untuk mengembalikan homeostasis, bukan sekadar sirup fruktosa tinggi," ujar Tatik.

Untuk menjaga kualitas kesehatan selama Ramadan, mulailah dengan air mineral atau air kelapa yang mengandung elektrolit alami. Pilih kurma (mengandung serat) dibandingkan gorengan tepung terigu. Ramadan seharusnya menjadi momentum detoksifikasi biologis, bukan ajang penumpukan toksin akibat pemilihan makanan yang salah. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow