Wabup Bondowoso Minta Warga yang Nyebrang Jalan Kaki di Jembatan Sentong Tetap Waspada

Setelah ditutup untuk semua jenis kendaraan. Sebagian warga dari arah Bondowoso Kota dan sebaliknya memilih menyebarang dengan berjalan kaki di Jembatan Sentong.

Maret 10, 2026 - 18:00
Wabup Bondowoso Minta Warga yang Nyebrang Jalan Kaki di Jembatan Sentong Tetap Waspada

BONDOWOSO Setelah ditutup untuk semua jenis kendaraan. Sebagian warga dari arah Bondowoso Kota dan sebaliknya memilih menyebarang dengan berjalan kaki di Jembatan Sentong. 

Mereka nekat menyeberangi jembatan yang sempat ambles tersebut dengan beragam tujuan. Ada yang pergi ke tempat kerja, belanja di KDS hingga beli makan di Mie Gacoan. 

Kondisi ini semakin dipermudah karena di ujung utara jembatan sudah ada jasa penitipan kendaraan. Sementara di seberangnya sudah ada tranportasi becak yang siap mengantar ke tujuan. 

Wakil Bupati Bondowoso As'ad Yahya Syafi'i sempat meninjau langsung penitipan motor dan kondisi jembatan yang ambles pada Senin 23 Februari 2026 lalu. 

Menurutnya, warga sebaiknya tidak melintasi jembatan tersebut karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Itu yang harus diwaspadai,” katanya, Selasa (10/3/2026). 

Apalagi kata dia, hingga saat ini di Bondowoso masih terjadi cuaca ekstrem, dan longsoran jembatan tambah melebar. 

Wabup As'ad mengakui, bahwa memang dengan cara ini warga lebih cepat. Tetapi lanjut dia, keselamatan jiwa itu jauh lebih penting. “Itu yang lebih penting untuk dijaga,” imbuhnya. 

Menurutnya, secara kasat mata jembatan itu tampak aman jika hanya dilewati pejalan kaki. Namun tidak ada yang tahu pasti kondisinya di bawah. 

“Kita gak tahu konstruksi di bawah seperti apa. Kita tidak tahu kenyataannya kan,” tegasnya. 

Diberitakan sebelumnya, petugas penitipan motor, menjelaskan Syamsul, jasa penitipan motor ini sudah dia hari lalu atau sejak Sabtu 7 Maret 2026 kemarin. 

“Biasanya mereka yang titip yang mau ke KDS, mau ke Mie Gacoan,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (9/3/2026). 

Menurutnya, saat sore hari dan pagi hari volume kendaraan yang dititip banyak dibanding siang hari. Kalau di pagi hari, ada juga pegawai yang kantornya ada di seberang jembahari. Sementara sore hari orang mau belanja sehingga jumlahnya bisa sampai 100-an motor. 

“Kalau pegawai, pagi naruh, siang balik. Baru sore hari naruh lagi,” paparnya sembari membetulkan kendaraan. 

Menurutnya, dari ujung jembatan itu mereka biasanya naik bentor ke KDS dan Gacoan. Bahkan ada juga yang berjalan kaki meskipun cukup jauh. 

Ia juga mengungkapkan, kondisi ini membuka peluang ekonomi bagi tukang becak. Warga pun justru terbantu, karena tarifnya hanya sekitar Rp 5.000. 

Apalagi kata dia, sekarang di jalan alternatif ada perbaikan sehingga warga harus lewat Bunder, bisa habis bensin 1,5 liter. 

Sementara untuk tarif jasa penitipan motor itu sukarela. Pemilik motor boleh memberikan berapapun, seikhlasnya. Bahkan penitipan motor ini rencananya juga akan dibuka malam hari. 

“Tapi belum ada koordinasi lagi,” imbuh pria yang sehari-hari sebagai juru parkir di Masjid Al Abror Kembang tersebut. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow