Ujian Praktik Nasi Tumpeng di SDN 2 Kalikuning Pacitan, Siswa Adu Kreativitas Sajikan Kearifan Lokal
Ruang kelas 6 SDN 2 Kalikuning, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, berubah jadi dapur kreasi dadakan, Kamis (30/4/2026). Puluhan siswa kelas akhir sibuk mencetak nasi kuning, menata lauk, hingga me
PACITAN - Ruang kelas 6 SDN 2 Kalikuning, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, berubah jadi dapur kreasi dadakan, Kamis (30/4/2026). Puluhan siswa kelas akhir sibuk mencetak nasi kuning, menata lauk, hingga merangkai hiasan sayur dalam ujian praktik mata pelajaran Seni Budaya bertema penyajian nasi tumpeng.
Ujian praktik ini menjadi cara sekolah mengenalkan budaya lokal lewat pengalaman langsung. Bukan sekadar menguji keterampilan memasak, para siswa juga ditantang menunjukkan kreativitas, ketelitian, dan kemampuan mengatur waktu saat menyusun sajian khas tradisi tersebut.
Sejak pagi, aroma rempah memenuhi ruang kelas. Meski sebagian bahan telah disiapkan dari rumah, proses utama seperti membentuk tumpeng, menata lauk-pauk, hingga menyusun garnis dikerjakan di sekolah dalam durasi yang telah ditentukan.
Dua penguji, Sulasmi dan Krisnawati, memantau jalannya ujian dengan cermat. Setiap hasil karya dinilai dari berbagai aspek, mulai kelengkapan sajian, cita rasa, hingga ketepatan waktu penyelesaian.
“Fokus utama penilaian kami meliputi kelengkapan sajian sesuai standar tradisi, cita rasa, dan yang paling penting adalah ketepatan waktu. Kami ingin melihat bagaimana siswa mengelola tugas di bawah tekanan waktu yang diberikan,” ujar Sulasmi.
Bagi para siswa, ujian ini memberi pengalaman berbeda dibandingkan menghadapi lembar soal di dalam kelas. Mereka dituntut bekerja cepat sekaligus menjaga hasil akhir tetap rapi dan menarik.
Salah satu siswa kelas 6, Nia Refita Lestari, mengaku sempat gugup saat mulai mencetak nasi agar bentuknya tidak rusak.
“Awalnya cukup tegang, terutama saat bagian mencetak nasi agar tidak runtuh dan menata sayuran serta garnis supaya terlihat cantik. Tapi saya senang sekali karena bisa belajar bekerja sama dan tahu ternyata membuat tumpeng itu butuh kesabaran dan seni yang tinggi,” katanya.
Kepala SDN 2 Kalikuning, Sutrisno, menilai pemilihan nasi tumpeng sebagai materi ujian praktik bukan tanpa alasan. Menurutnya, pembelajaran berbasis budaya lokal penting untuk menanamkan kecintaan siswa terhadap warisan tradisi sejak dini.
“Saya sangat bangga melihat anak-anak begitu terampil. Ujian ini adalah perpaduan antara kemandirian dan pelestarian budaya. Melalui tumpeng, siswa belajar tentang filosofi syukur dan estetika. Kami berharap pengalaman ini membentuk karakter mereka untuk selalu menghargai kearifan lokal di mana pun mereka berada nanti,” tuturnya.
Pelaksanaan ujian berlangsung tertib hingga selesai. Deretan tumpeng berwarna cerah lengkap dengan aneka hiasan sayur memenuhi meja kelas, menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan zaman, generasi muda di Pacitan masih akrab dengan tradisi leluhur dan mampu menyajikannya dengan sentuhan kreativitas mereka sendiri. (*)
Apa Reaksi Anda?