Trump Mengumbar Ancaman Penjara Kepada Jurnalis Terkait Pilot AS yang Hilang di Iran
Presiden AS, Donald Trump mengancam akan memenjarakan sejumlah jurnalis yang "membocorkan" berita tentang pilot AS yang hilang di Iran.
JAKARTA Presiden AS, Donald Trump mengancam akan memenjarakan sejumlah jurnalis yang "membocorkan" berita tentang pilot AS yang hilang di Iran.
Bahkan ia bersumpah akan memenjarakan jurnalis yang secara tidak langsung membocorkan berita tentang hilangnya salah satu pilot yang hilang di Iran , setelah ia menerbitkan informasi tentang jatuhnya jet tempur F-15E Amerika, Jumat lalu.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump akan menuntut agar jurnalis yang pertama kali melaporkan penyelamatan seorang anggota Angkatan Udara AS di Iran itu mau mengungkapkan siapa sumbernya, dan ia mengancam akan memenjarakanya jika jurnals itu menolak.
"Kami akan mendatangi organisasi media yang menerbitkan ini (dia tidak menyebutkan yang mana), dan kami akan memberi tahu mereka: Serahkan dia atau masuk penjara demi alasan keamanan nasional," ujar Trump.
Prajurit angkatan udara yang terluka parah itu bersembunyi di celah gunung untuk menghindari penangkapan sebelum diselamatkan oleh tim penyelamat AS yang menghadapi tembakan hebat. Presiden AS mengumumkan pada hari Minggu bahwa anggota militer tersebut telah ditemukan.
Trump mengatakan kepada wartawan, bahwa pemerintahannya secara agresif akan terus mengejar "pembocor" yang mengungkapkan informasi tentang pilot yang hilang tersebut kepada media. Dia mengklaim bahwa laporan berita itu telah memperingatkan Iran dan membahayakan pilot tersebut.
"Pada dasarnya mereka mengatakan bahwa 'kami punya satu dan ada seseorang yang hilang.' Nah, mereka tidak tahu ada seseorang yang hilang sampai si pembocor memberikan informasi tersebut," kata Trump.
"Jadi siapa pun itu, kami pikir kami akan bisa mengetahuinya karena kami akan mendatangi perusahaan media yang merilisnya, dan kami akan mengatakan, "demi keamanan nasional, berikan informasinya atau masuk penjara," katanya lagi.
"Dan kami tahu siapa , dan Anda tahu siapa yang kita bicarakan. Karena ada beberapa hal yang tidak bisa Anda lakukan, karena ketika mereka melakukan itu, tiba-tiba seluruh negara Iran tahu bahwa ada seorang pilot di suatu tempat di wilayah mereka yang sedang berjuang untuk hidupnya," tambah Trump.
Selama pemerintahan keduanya, Donald Trump telah meningkatkan upayanya menargetkan perusahaan-perusahaan media yang menerbitkan laporan yang tidak disukainya, dan secara teratur ia mengancam akan mengajukan tuntutan hukum dan membatasi akses.
Pada bulan Januari lalu, rumah seorang reporter Washington Post digeledah oleh FBI. Reporter tersebut adalah Hannah Natanson yang secara agresif meliput pengawasan Trump terhadap lembaga-lembaga federal, dan Hannah menghasilkan lebih dari 1.000 sumber pemerintah anonim yang berkontribusi pada laporannya. Kasus ini kini sedang berlangsung di pengadilan Virginia.
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan rincian spesifik tentang perusahaan media yang dimaksud Trump. Seorang pejabat Gedung Putih kemudian mengatakan bahwa penyelidikan sedang berlangsung.
"Iran tidak mengetahui bahwa ada salah satu pilot yang hilang sampai sebuah sumber membocorkan informasi ini, dan kami berharap bisa menemukan orang tersebut. Kami sedang melakukan upaya yang sangat besar untuk menemukannya,' kata Donald Trump.
Kejahatan Perang
Donald Trump jga mengatakan, bahwa dia sama sekali tidak peduli untuk melakukan kejahatan perang saat dia kembali mengancam akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran jika Iran tidak memenuhi tenggat waktu Selasa pukul 8 malam ET nanti untuk membuka kembali Selat Hormuz .
"Saya tidak khawatir tentang itu," kata presiden AS. "Tahukah Anda apa itu kejahatan perang? Kejahatan perang adalah memiliki senjata nuklir," tandasnya.
Ada delapan negara di dunia yang memiliki senjata nuklir, yakni Rusia, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Pakistan, India, Korea Utara dan Israel.
Iran hingga saat ini tidak terbukti memiliki senjata nuklir.
Berbicara di Gedung Putih, Trump menolak untuk mengatakan apakah ada target sipil yang tidak akan menjadi sasaran. Iran pada hari Senin menolak proposal gencatan senjata 45 hari dan mengatakan bahwa mereka menginginkan pengakhiran konflik secara permanen.
"Kami hanya menerima pengakhiran perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi," kata Mojtaba Ferdousi Pour , kepala misi diplomatik Iran di Kairo, kepada Associated Press.
Dalam konferensi pers, Trump mengatakan seluruh Iran bisa "dihancurkan" dalam satu malam dan malam itu mungkin nanti malam", merujuk pada hari Selasa. Tanpa kesepakatan dengan Iran, katanya, setiap jembatan di Iran akan dihancurkan pada tengah malam ET (0400 GMT) setidaknya pada hari Rabu dini hari nanti. "Dan setiap pembangkit listrik di Iran akan gulung tikar, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi," kata Trump.
Israel dan AS tiba-tiba menyerang Iran pada 28 Januari 2026 lalu tapa alasan dan telah membunuh ribuan orang warga Iran. Iran tentu saja melakukan pembalasan dengan menembakan rudal ke Israel dan basis-basis Amerika Serikat yang berada di negara-negara tetangganya di Teluk Arab.
Kini selain mengancam Iran, Donald Trump yang dinilai gila oleh para politisi Amerika Serikat itu, juga mengancam akan memenjarakan sejumlah jurnalis yang memberitakan peristiwa hilangnya pilot pesawat F-15 yang ditembak jatuh oleh Iran di wilayah Iran.(*)
Apa Reaksi Anda?