MALANG -
Arus globalisasi dan akulturasi budaya luar yang masif, menjadi tantangan yang menjadi kajian serius Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian. Karena terus tergerus budaya kekinian,
kearifan lokal mendesak dan harus untuk tetap dilestarikan.
"Arus globalisasi dan budaya luar yang sangat masif, bisa terus membuat budaya lokal luntur dan terkikis. Termasuk bahasa daerah halus, yang makin jarang dipakai anak muda," ungkap Wakil Ketua Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian, Budi Hartono, Selasa (30/6/2026).
Budi juga menyebut, baberapa hal yang kini dikhawatirkan terkait eksistensi dan pelestariannya. Menurutnya, peninggalan sejarah lokal di Kabupaten Malang belum terdata atau terdokumentasi menyeluruh, sehingga rawan rusak atau hilang tak lagi bisa ditemukan.
"Kesenian asli seperti Topeng Malangan juga meredup akibat kurangnya regenerasi, minim murid baru yang jadi pewaris dan pelestari. Banyak maestro topeng Malang yang menua tanpa penerus," terang Budi.
Sementara itu, lanjutnya, bahasa tutur Malang dengan tiga varian, yakni bahasa Piye di wilayah selatan, bahasa Arek, dan bahasa Rika di Tengger, belum tersentuh kebijakan pelestarian dan terancam punah tergerus zaman.
Budi menambahkan, potensi budaya lokal bisa diangkat dan terus dilestarikan. Solusinya, seperti dengan kegiatan dialog, seminar, sarasehan, dan penelitian.
"Harapannya diaktifkan perhatian terhadap budaya sebagai potensi daerah, yang bisa dikenal oleh kita sendiri dan menarik pihak luar Kabupaten Malang untuk berkunjung ke Kabupaten Malang," ujarnya.
Ia menyebut, keberadaan seperti Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian juga bergerak inklusif merangkul praktisi, akademisi, tokoh masyarakat, hingga pegiat seni dan budaya, dalam gerakan fokus pada kebudayaan, sosial, dan literasi sejarah lokal. (*)