Terancam Rugi, Travel Umrah Gresik Berharap Konflik Timur Tengah Mereda
Konflik Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran berdampak pada kepulangan jemaah umrah. Pengusaha travel di Gresik ungkap potensi kerugian miliaran rupiah dan prioritaskan keselamatan jemaah.
GRESIK Memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada ribuan jemaah umrah yang tertunda kepulangannya dari Arab Saudi. Kondisi ini menjadi perhatian serius para pelaku usaha travel umrah di Kabupaten Gresik karena berpengaruh pada jadwal penerbangan dan kepastian layanan jemaah.
Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah telah mengeluarkan imbauan resmi kepada calon jemaah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat agar menunda keberangkatan hingga situasi kondusif.
Direktur Utama PT Permata Zain Al Miftah, KH Muhammad Zainuri Makruf, menyampaikan harapannya agar ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran segera mereda. Hal ini penting agar aktivitas penerbangan kembali normal dan jemaah bisa pulang dengan aman.
“Kami berharap situasi segera damai dan kondusif. Baik Amerika, Israel, maupun Iran bisa menahan diri demi keselamatan masyarakat sipil, termasuk jemaah umrah,” ujarnya, Senin (3/3/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Gus Zen ini, saat ini sejumlah jemaah umrah masih tertahan di Arab Saudi akibat penyesuaian jalur penerbangan. Meski demikian, beberapa grup yang menggunakan penerbangan langsung (direct flight) rute Jeddah–Surabaya maupun Jeddah–Jakarta sudah berhasil kembali ke Tanah Air.
Kendala utama dialami jemaah yang menggunakan rute transit, seperti melalui Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Mereka masih menunggu kepastian jadwal keberangkatan.
"Selain berdampak pada jemaah, kondisi ini juga berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi penyelenggara travel," terang Gus Zen.
Potensi Kerugian Miliaran Rupiah
KH Zainuri mengkalkulasi, jika satu grup berjumlah sekitar 400 orang dengan estimasi biaya tiket pesawat Rp15,4 juta per orang, visa Rp2,5 juta, serta akomodasi hotel dan transportasi sekitar Rp9 juta, maka potensi kerugian bisa mencapai miliaran rupiah.
“Kalau dihitung, nilainya sangat besar. Ini belum termasuk biaya operasional lain. Pengalaman saat pandemi Covid-19 dulu, kerugian juga mencapai miliaran rupiah,” ungkapnya.
Meski dihantui kerugian materiil, ia menegaskan bahwa keselamatan jemaah tetap menjadi prioritas utama. Pihaknya terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dan memantau perkembangan kebijakan penerbangan secara intensif.
“Kami tetap mengutamakan keamanan dan keselamatan jemaah. Soal kerugian bisa dibicarakan kemudian, yang terpenting saat ini kondisi mereka aman dan bisa kembali dengan selamat,” tegasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?