Tekan Populasi Kucing Terlantar, Stray Cat Defender Malang dan Happy Cat Indonesia Gelar Sterilisasi Bersubsidi
Komunitas Happy Cat Indonesia dan Stray Cat Defender Malang menggelar program sterilisasi kucing bersubsidi pada 7–8 Maret 2026 untuk menekan populasi kucing terlantar dan meningkatkan kesadaran pemil
MALANG Komunitas pecinta kucing Happy Cat Indonesia bekerja sama dengan Stray Cat Defender (SCD) Malang menggelar program sterilisasi kucing bersubsidi bagi masyarakat pada 7–8 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung di Meru Petshop Grooming & Dokter Hewan yang berlokasi di Ruko De Satya, Jalan Wijaya Kusuma, Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Program ini digelar sebagai upaya menekan populasi kucing yang tidak terkendali sekaligus memberikan akses layanan kesehatan hewan dengan biaya yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Stray Cat Defender (SCD) Malang merupakan komunitas pecinta kucing yang berfokus pada penyelamatan kucing sakit dan terlantar. Komunitas ini berdiri pada 8 Agustus 2015, bertepatan dengan peringatan Hari Kucing Sedunia, dan berada di bawah penanggung jawab Susi Cisika Putri (32), yang akrab disapa Cisi.
Salah satu kucing yang sudah sadar setelah proses steril (foto: Dina Ayu Wahidiyanti/TIMES Indonesia).
Perwakilan SCD Malang, Eka, menjelaskan bahwa kegiatan bertajuk Happy Cat: Steril Movement ini terselenggara melalui kerja sama dengan Meru Petshop serta sejumlah sponsor.
Menurutnya, SCD sengaja menghadirkan program sterilisasi bersubsidi, bukan layanan gratis. Hal tersebut dilakukan untuk menekankan tanggung jawab pemilik hewan peliharaan terhadap kesehatan kucing yang mereka rawat.
“Kami memilih memberikan subsidi, bukan steril gratis, untuk menekankan pentingnya tanggung jawab kepada pemilik kucing. Dengan mereka berani memelihara kucing, berarti mereka juga harus berani memperjuangkan hidup yang sehat bagi kucing mereka,” jelas Eka, Sabtu (7/3/2026).
Ia menambahkan, masyarakat yang ingin mengikuti program ini harus memenuhi sejumlah syarat dan ketentuan yang ditetapkan panitia. Peserta juga melalui proses penyaringan dengan mempertimbangkan latar belakang ekonomi masing-masing.
SCD, kata Eka, memprioritaskan subsidi bagi masyarakat dengan penghasilan setara atau di bawah upah minimum regional (UMR) karena biaya sterilisasi dinilai cukup berat bagi sebagian pemilik kucing.
Antusiasme masyarakat terhadap program ini tergolong tinggi. Awalnya panitia hanya menyediakan 20 kuota sterilisasi bersubsidi. Namun dalam waktu tujuh hari sejak pendaftaran dibuka, seluruh kuota tersebut sudah terpenuhi.
“Antusiasme masyarakat cukup baik. Awalnya kami menyediakan 20 kuota. Selama 10 hari masa pendaftaran, pada hari ketujuh kuota sudah penuh sehingga akhirnya kami menambah 10 kuota lagi,” ujar Eka.
Ia berharap kegiatan serupa dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sterilisasi kucing peliharaan. Langkah tersebut dinilai efektif untuk menekan jumlah kucing liar, kucing terlantar, maupun kucing sakit tanpa pemilik.
Eka, perwakilan dari komunitas pecinta kucing Stray Cat Defender (SCD) Malang (foto: Dina Ayu Wahidiyanti/TIMES Indonesia).
“Kami berharap melalui kegiatan ini masyarakat semakin sadar pentingnya tindakan steril pada kucing. Karena pada kenyataannya, sebagian besar kucing yang terlantar di jalanan merupakan hasil dari perkembangbiakan kucing berpemilik yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, program sterilisasi dibagi berdasarkan jenis kelamin kucing. Pada 7 Maret 2026, layanan sterilisasi dikhususkan bagi kucing betina, sedangkan pada 8 Maret 2026 diperuntukkan bagi kucing jantan. Pembagian tersebut dilakukan untuk mempermudah proses penanganan serta memastikan prosedur sterilisasi berjalan lebih tertata selama kegiatan berlangsung.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap masyarakat tidak hanya memperoleh layanan sterilisasi dengan biaya terjangkau, tetapi juga semakin memahami bahwa memelihara kucing berarti turut bertanggung jawab terhadap kesehatan serta keberlangsungan hidup hewan tersebut. (*)
Pewarta: Dina Ayu Wahidiyanti
Apa Reaksi Anda?