Tanda Haji Mabrur Menurut Prof Asrorun Ni’am, Dari Rajin Ibadah hingga Akhlak Sosial
Tanda-tanda kemabruran haji dapat dilihat dari perubahan perilaku seseorang setelah pulang dari Tanah Suci
JAKARTA - Prof Asrorun Ni'am Sholeh selaku Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) menjelaskan makna haji mabrur bagi umat Islam khususnya jemaah haji Indonesia yang menunaikan rukun Islam kelima.
“Haji yang mabrur itu enggak ada balasan kecuali surga. Memang itu bersifat kualitatif, tetapi bisa diukur dengan penanda-penandanya,” ucap Prof Asrorun Ni'am Sholeh kepada Media Center Haji (MCH), Minggu (24/5/2026).
Prof Ni'am sapaan akrabnya menjelaskan, tanda-tanda kemabruran haji dapat dilihat dari perubahan perilaku seseorang setelah pulang dari Tanah Suci. Penilaian tersebut, kata dia, justru lebih mudah dilihat oleh orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang lihat siapa? Ya yang lihat orang lain seiring dengan perubahan pra dengan pascanya,” katanya.
Dia mencontohkan, seseorang yang sebelumnya malas beribadah kemudian menjadi rajin setelah berhaji dan mampu menjaga perubahan itu secara konsisten, dapat menjadi salah satu tanda haji mabrur.
Prof. Asrorun Ni'am selaku Musyrif Diny. (FOTO: Fahmi/MCH 2026)
“Kalau biasanya malas kemudian setelah haji menjadi rajin, dan itu bersifat konstan serta kontinu, tanda-tanda kemabruran ada,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat dua aspek utama dalam makna haji mabrur. Pertama, adanya komitmen untuk meninggalkan keburukan dan mulai menjalani kehidupan yang lebih baik setelah berhaji.
“Setidaknya ada dua aspek ya makna mabrur itu. Yang pertama adalah komitmen untuk meninggalkan keburukan. Komitmen untuk meninggalkan apa yang biasa dia lakukan padahal itu buruk, kemudian pascahaji dia melakukan kebaikan-kebaikan,” katanya.
Aspek kedua, lanjut dia, adalah dawamul ihsan atau komitmen untuk terus berbuat baik. Ia menjelaskan bahwa kata mabrur berasal dari akar kata al-birr yang memiliki makna utama akhlak yang baik.
“Kemudian yang kedua, dawamul ihsan. Jadi, ada al-ihsan ya. Komitmen untuk berbuat baik. Jadi, dia apa? Apa beda al mabrur dari kata al-birr. Al-birru husnul khuluk. Al-birr yang dari akar kata tadi mabrur, itu esensi yang utama adalah husnul khuluk. moralitas yang baik,” tuturnya.
Dia menegaskan, meski haji merupakan ibadah yang bersifat personal dan spiritual, kemabruran seseorang akan tercermin dalam relasi sosial dan perilaku sehari-hari.
“Haji itu hal yang bersifat personal dan spiritual, tetapi dia bisa menjelma ditandai dengan apa kemabruran dan keterterimaan itu dengan aktivitas kepribadian dia di dalam relasi sosial,” ujar dia.
Prof Ni'am juga menilai seluruh ibadah dalam Islam pada dasarnya memiliki ukuran keberhasilan yang tampak dalam kehidupan sosial.
“Dan rata-rata ibadah yang didesain untuk kita, sekalipun itu bersifat personal, seperti salat, puasa, zakat, bahkan haji, itu selalu pelaksanaannya bersifat personal, dia harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang baku, tetapi ukuran kesuksesannya adalah jelmaan aktivitas sosial,” tuturnya.
Prof Ni'am mencontohkan lagi ibadah puasa yang dinilai berhasil ketika mampu menumbuhkan semangat berbagi dan solidaritas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Hal serupa juga berlaku pada ibadah haji.
“Puasa bisa berhasil ketika dia mampu mentransformasi spirit berbagi, kemudian kesetiakawanan sosial di dalam kehidupan keseharian. Nah, haji juga demikian, akan kelihatan mabrur pada tingkah polah kesehariannya,” ungkapnya.
Menurut dia, perubahan menuju pribadi yang lebih baik setelah berhaji juga membutuhkan proses dan tidak bisa terjadi secara instan. “Dan itu tentu akan jangka panjang, enggak bisa instan perubahan seseorang itu,” tandasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?