Tak Sekadar Operasi, RS Unand Padang Hadirkan Harapan Baru bagi Penderita Bibir Sumbing
Program ini telah berjalan selama sembilan tahun dan menjadi bentuk komitmen RS Unand untuk membantu masyarakat yang membutuhkan penanganan operasi bibir sumbing.
PADANG - Di ruang tunggu Rumah Sakit Universitas Andalas (RS Unand), Kota Padang pada Rabu (20/5/2026), beberapa orang tua tampak menggenggam tangan anak mereka erat-erat.
Ada yang berusaha menenangkan buah hatinya, ada pula yang hanya bisa memanjatkan doa dalam diam sebelum operasi dimulai.
Bagi mereka, hari itu bukan sekadar jadwal tindakan medis. Ada harapan besar yang dibawa dari rumah masing-masing: melihat anak mereka bisa tersenyum lebih percaya diri di masa depan.
Harapan itu hadir melalui program operasi bibir sumbing dan celah langit-langit mulut gratis yang kembali digelar RS Unand dalam rangka HUT ke-9 RS Unand dan Lustrum XIV Universitas Andalas.
Kegiatan sosial tersebut terlaksana berkat kerja sama dengan Smile Train Indonesia.
Direktur Utama RS Unand, Muhammad Riendra, mengatakan program tersebut telah berjalan selama sembilan tahun dan menjadi bentuk komitmen rumah sakit untuk membantu masyarakat yang membutuhkan penanganan operasi bibir sumbing.
“Bagi sebagian orang mungkin ini hanya sekadar operasi, tetapi bagi pasien dan keluarganya, ini adalah harapan baru,” ujarnya.
Tahun ini, sebanyak 12 pasien dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatra Barat hingga Jambi mengikuti operasi gratis yang berlangsung selama hampir dua pekan. Mulai 10-22 Mei 2026. Tak sedikit dari mereka datang dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Karena itu, RS Unand tidak hanya memberikan layanan operasi gratis, tetapi juga membantu kebutuhan transportasi dan akomodasi pasien selama menjalani pengobatan.
“Pada tahap ini bukan hanya operasi yang kami berikan, tetapi transportasi pasien juga kami bantu,” kata Riendra.
Di balik kegiatan itu, ada persoalan yang terus menjadi perhatian serius. Wakil Rektor II Universitas Andalas, Hefrizal Handra, menyebut jumlah penderita bibir sumbing di Indonesia masih cukup tinggi.
Menurutnya, setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 7.500 kelahiran dengan kondisi bibir sumbing dan celah langit-langit mulut di Indonesia. Sementara di Sumatra Barat, jumlah kasus diperkirakan mencapai lebih dari 120 penderita setiap tahun.
“Harapan kita tentu masyarakat yang mengalami kondisi seperti ini bisa terus berkurang jumlahnya. Dengan kegiatan sosial yang rutin dilakukan setiap tahun, tentu ini akan berkontribusi bagi masa depan generasi muda kita,” ujarnya.
Hefrizal juga menyampaikan apresiasi kepada RS Unand dan para donatur yang terus konsisten menjalankan program sosial tersebut. Menurutnya, keberadaan dokter spesialis di RS Unand memungkinkan lebih banyak pasien mendapatkan penanganan yang tepat.
“Dokter spesialis untuk penanganan seperti ini masih terbatas dan hanya tersedia di rumah sakit tertentu. Di RS Unand kita memiliki spesialisnya, sehingga bisa menampung lebih banyak pasien,” katanya.
Ia memastikan, RS Unand siap terus membuka pintu bagi masyarakat yang membutuhkan operasi bibir sumbing secara gratis pada tahun-tahun mendatang.
Di tengah keterbatasan yang dimiliki sebagian keluarga pasien, program itu menjadi lebih dari sekadar kegiatan bakti sosial.
Bagi para orang tua, operasi tersebut adalah jalan menuju rasa percaya diri baru bagi anak-anak mereka. Juga sebuah kesempatan untuk tumbuh tanpa rasa minder dan menjalani masa depan dengan senyum yang lebih utuh. (*)
Apa Reaksi Anda?