Tak Hanya Segar Bervitamin, Pepaya Bisa jadi Bahan Bakar Masa Depan

Pepaya termasuk buah tropis yang mudah dijumpai. Buah ini bisa berbuah kapan saja, tanpa mengnal musim. 

Oktober 16, 2023 - 10:30
Tak Hanya Segar Bervitamin, Pepaya Bisa jadi Bahan Bakar Masa Depan

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pepaya termasuk buah tropis yang mudah dijumpai. Buah ini bisa berbuah kapan saja, tanpa mengnal musim. 

Karena itu pepaya sangat populer di masyarakat. Terlebih kandungan gizi, vitamin dan mineralnya yang baik untuk tubuh. Buah berwarna oreanye terang ini paling dikenal sebagai buah yang baik untuk menjaga kesehatan mata dan pencernaan. 

Tak salah memang, sebab pepaya kata akan vitamin A,C, E dan mineral lainnya. Buah yang bernama latin Carica Papaya L itu juga dimanfaatkan untuk kecantikan. Ya karena kandungan vitaminnya yang melimpah, produsen kecantikan memproses pepaya menjadi sabun wajah hingga produk skincare lainnya. 

Kini pepaya juga dimanfaatkan untuk bahan bakar. Bagaimana bisa?

Akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa tengah meneliti buah pepaya untuk bahan bakar terbarukan dan ramah lingkungan. 

I Nengah Muliarta salah satu peneliti sekaligus kademisi Fakultas FP-Unwar menjelaskan pada TIMES Indonesia biji dan kulit pepaya yang sering dibuang ternyata mengandung nutrisi penting yang bermanfaat baik bagi manusia maupun hewan. Limbah buah papaya misalnya dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol melalui proses fermentasi dan destilasi.

“Pepaya adalah sumber bahan gula dan menjadi salah satu limbah buah yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan bioethanol. Pilihan bahan baku yang cocok, melimpah dan murah sangat penting karena biaya bahan baku merupakan bagian utama dari biaya produksi,” jelasnya di Denpasar, Senin (16/10/2023).

Menurutnya, produksi etanol dari hasil pertanian berupa buah-buahan dapat ditingkatkan dengan menggunakan strain ragi yang direkayasa secara genetik sehingga mampu mengubah banyak gula menjadi etanol. Kadar dan volume bioethanol yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh lamanya fermentasi

Muliarta menyebutkan ragi merupakan mikroorganisme paling umum yang digunakan dalam produksi bioethanol dan memainkan fungsi penting dalam memfermentasi gula menjadi etanol. Ragi dapat langsung memfermentasi gula sederhana menjadi etanol sedangkan bahan baku jenis lain harus diubah menjadi gula yang dapat difermentasi sebelum dapat difermentasi menjadi etanol. 

Ia memaparkan bioetanol adalah bahan bakar cair yang dapat digunakan sebagai pengganti bensin. Pemanfaatan kulit pepaya sebagai bahan bakar masa depan tidak hanya membantu mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan peluang baru dalam pengembangan industri bioetanol yang berkelanjutan.

Pria kelahiran Klungkung tersebut mengungkapkan secara teknis bioetanol dapat digunakan sebagai pengganti bakar bensin, mengingat sifat fisika bioetanol yang mendekati sifat fisika bahan bakar bensin. Namun yang masing menjadi permasalahan harga jual terkadang masih lebih rendah dari biaya produksi, sehingga akan mempengaruhi layak atau tidaknya penerapan substitusi bensin dengan bioetanol. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow