Tak Hanya Mimbar Akademik, UB Sulap Kampus sebagai Ekosistem Media Art

Kolaborasi indah antara Malang Media Art Community (MMAC) bersama Universitas Brawijaya (UB) dan PT Vibrant Spatial Lab (VSLab) dalam mengembangkan ekosistem media art dan SDM di Kota Malang

Mei 14, 2026 - 18:00
Tak Hanya Mimbar Akademik, UB Sulap Kampus sebagai Ekosistem Media Art

MALANG - Kolaborasi indah antara Malang Media Art Community (MMAC) bersama Universitas Brawijaya (UB) dan PT Vibrant Spatial Lab (VSLab) dalam mengembangkan ekosistem media art dan SDM di Kota Malang diwujudkan melalui eksplorasi media art di lingkungan UB. 

Melalui kampanye Green Campus UB, area kampus disulap dengan meminimalisir penggunaan cahaya dan direspons menggunakan projection mapping sebagai medium visual yang dapat menghadirkan pengalaman ruang berbeda dan tidak bergantung pada pencahayaan konvensional. 

Dengan menggunakan pendekatan seni dan teknologi, aktivitas ini menghadirkan berbagai eksplorasi projection mapping, visual experiment, dan aktivasi ruang kampus melalui pendekatan seni dan teknologi yang difokuskan sebagai ruang belajar, riset, dan eksperimen terbuka bagi anggota komunitas, mahasiswa, dan pelaku media art yang sedang berkembang.

Perwakilan MMAC, Danang Tri Yudistira menjelaskan bahwa kegiatan seperti ini krusial dalam membangun kultur eksplorasi ekosistem media art. Ia menambahkan bahwa ruang pengembangan SDM melalui aktivitas seperti ini dapat membuat eksplorasi semakin luwes dan bebas. 

“Teman-teman komunitas yang masih belajar memerlukan ruang seperti ini supaya tidak tertekan, bisa bereksperimen, mencoba peluang baru, dan menemukan pendekatan baru melalui media art,” ujarnya.

Fasilitas kegiatan ini turut didukung oleh mitra strategis UB, PT Vibrant Spatial Lab (VSLab) dalam mengembangkan teknologi visual, immersive experience, dan media art berbasis riset.

Co-Founder VSLab sekaligus anggota MMAC, Faizol Hakam menyampaikan bahwa pengrmbangan media art di daerah membutuhkan aspek kemandirian teknologi dan riset dalam jangka panjang. Ia menyampaikan hal tersebut dapat dimulai dengan melakukan RnD sendiri supaya komunitas memiliki kemandirian dalam pengembangan teknologi, sistem visual, dan eksperimen kreatif.

“Ekosistem media art ini tidak bisa bergantung pada event dari luar, harus ada kemandirian sendiri,” tambahnya.

Aktivitas ini menunjukkan bahwa ruang kampus bukan hanya sebagai mimbar akademik, tetapi juga sebagai laboratorium terbuka untuk eksplorasi seni, teknologi, dan pengalaman ruang berbasis media art. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjadi titik awal pembangunan ekosistem media art di Kota Malang sebagai bagian dari perkembangan City of Media Arts. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow