SPPG MBG di Kota Batu Diminta Prioritaskan Produk Lokal, Menu Ramadan Disesuaikan

Dinas Pendidikan Kota Batu meminta SPPG Program MBG memprioritaskan produk pertanian dan peternakan lokal. Selama Ramadan, menu disesuaikan menjadi paket kering tanpa mengubah nilai per porsi.

Februari 24, 2026 - 15:30
SPPG MBG di Kota Batu Diminta Prioritaskan Produk Lokal, Menu Ramadan Disesuaikan

BATU Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diminta memprioritaskan penyerapan komoditas pertanian dan peternakan lokal. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, Selasa (24/2/2026).

Menurut Alfi, sebagai kota agropolitan, Kota Batu memiliki kapasitas memadai untuk menjadi pemasok utama bahan baku MBG, mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, telur, hingga produk peternakan lainnya.

“Kami ingin program nasional MBG ini memberikan manfaat ganda. Anak-anak memperoleh asupan gizi berkualitas, sementara petani dan peternak lokal juga merasakan dampak ekonominya,” ujarnya.

Ia menegaskan, skema tersebut bukan hanya soal pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga bagian dari penguatan ekosistem ekonomi daerah. Dengan melibatkan produk lokal dalam rantai pasok MBG, perputaran ekonomi diyakini semakin optimal dari tingkat desa hingga kecamatan.

Dinas Pendidikan, lanjutnya, akan terus berkoordinasi dengan pengelola dapur SPPG agar komitmen penyerapan produk lokal dijalankan secara konsisten, sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pertanian dan peternakan sebagai tulang punggung ekonomi Kota Batu.

Instruksi tersebut langsung direspons pengelola SPPG. Salah satunya SPPG Syair Beji di Kecamatan Junrejo yang melakukan penyesuaian menu MBG selama Ramadan.

Kepala SPPG Syair Beji, Achmad Jalaludin, menjelaskan perubahan menu dilakukan mengikuti arahan Badan Gizi Nasional (BGN). Jika sebelumnya makanan disajikan dalam bentuk basah, selama Ramadan diganti menjadi paket menu kering.

Paket tersebut antara lain berisi roti, telur, buah, abon, tempe krispi, dan variasi lainnya. Pengemasan dilakukan secara higienis menggunakan kotak mika yang dimasukkan ke dalam tote bag untuk masing-masing siswa. Porsi juga dibedakan antara siswa SD dan siswa SMP maupun SMA.

Selain menu, jam kerja petugas dapur turut disesuaikan. Jika sebelumnya persiapan dimulai pukul 18.00 hingga menjelang subuh, selama Ramadan digeser mulai pukul 24.00.

Achmad menegaskan nilai per porsi tetap tidak berubah, yakni Rp8.000 untuk siswa SD dan Rp10.000 bagi siswa SMP maupun SMA.(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow