Sosiolog UNJ Jakarta Bicara Dampak Mengerikan dari Praktik Korupsi terhadap Keluarga Pelaku
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Syaifudin mengatakan, secara sosiologis, korupsi memang tidak hanya berdampak pada pelaku secara individual, tetapi juga menimbulkan konsekuensi sosial yang
JAKARTA - Praktik korupsi di Indonesia seakan tidak ada habisnya dan terus menggerogoti berbagai sektor. Laku culas ini terjadi mulai tingkat paling atas hingga paling bawah di pemerintahan. Padahal, dampak buruknya tak hanya kerugian pada masyarakat saja, melainkan pelakunya sendiri, lebih-lebih pada keluarganya di rumah.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Syaifudin mengatakan, secara sosiologis, korupsi memang tidak hanya berdampak pada pelaku secara individual, tetapi juga menimbulkan konsekuensi sosial yang luas terhadap keluarga pelaku, baik orang tua, pasangan, maupun anak-anak.
"Dalam masyarakat yang memiliki ikatan sosial kuat seperti Indonesia, keluarga sering kali dianggap sebagai representasi identitas seseorang. Akibatnya, ketika seseorang terlibat korupsi, stigma sosial tidak hanya melekat pada pelaku, tetapi juga meluas kepada anggota keluarganya," katanya kepada TIMES Indonesia, pada Kamis (4/6/2026).
Fenomena ini, kata dia, menunjukkan adanya mekanisme “hukuman sosial kolektif”, yaitu ketika kesalahan individu menghasilkan konsekuensi bagi kelompok terdekatnya.
Namun, menurut dia, meskipun masyarakat berhak mengecam tindakan korupsi sebagai pelanggaran moral dan hukum, penting pula untuk membedakan antara pelaku dan anggota keluarganya.
Hal itu agar proses penegakan keadilan tidak berubah menjadi stigmatisasi yang berkepanjangan terhadap pihak-pihak yang tidak terlibat secara langsung.
Ia menjelaskan, bagi orang tua pelaku korupsi sering mengalami tekanan psikologis dan sosial berupa rasa malu, kehilangan kehormatan, serta penurunan status sosial di lingkungan masyarakat.
"Mereka dapat menjadi sasaran gunjingan, cibiran, atau bahkan pengucilan karena dianggap gagal menanamkan nilai moral kepada anaknya. Dalam budaya yang menjunjung tinggi nama baik keluarga, kondisi ini dapat menimbulkan beban emosional yang berat," jelasnya.
Bagi pasangan pelaku korupsi, dampaknya tidak kalah besar. Pasangan pelaku sering menghadapi stereotip negatif, kecurigaan, hingga tuduhan turut menikmati hasil korupsi meskipun tidak terlibat secara langsung.
"Hubungan sosial yang sebelumnya terjalin baik dapat terganggu karena adanya jarak sosial dari tetangga, teman, maupun komunitas tempat mereka berinteraksi. Dalam banyak kasus, tekanan tersebut juga dapat memicu konflik rumah tangga, perceraian, atau gangguan kesehatan mental," katanya.
Sementara bagi anak-anak yang merupakan kelompok yang paling rentan terhadap hukuman sosial akibat korupsi orang tuanya. Mereka berpotensi mengalami perundungan atau bullying, diskriminasi, serta stigma di sekolah maupun lingkungan pergaulan.
"Identitas mereka sering direduksi menjadi anak koruptor, sehingga mengganggu perkembangan psikologis, rasa percaya diri, dan kesempatan membangun relasi sosial yang sehat. Dalam jangka panjang, pengalaman stigma tersebut dapat memengaruhi prestasi pendidikan, mobilitas sosial, dan pembentukan identitas diri," ujarnya. (*)
Apa Reaksi Anda?