Siap Perang, Pemimpin Tertinggi Iran Instruksikan Suksesi Berkelanjutan Jika Terbunuh AS
Iran tingkatkan kesiapan perang di tengah ancaman AS dan Israel. Ali Khamenei siapkan suksesi kepemimpinan, pengerahan rudal, dan siaga militer maksimum.
JAKARTA Iran telah siap perang, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei bahkan dilaporkan telah menginstruksikan untuk memastikan kelangsungan rezim.
Instruksi itu diberikan kepada penasihat dekatnya Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dan sejumlah rekan politik serta militernya,
Kelangsungan rezim dianggap penting dalam menghadapi berbagai ancaman, baik itu serangan militer Amerika atau Israel, atau bahkan upaya untuk menargetkan atau membunuh pimpinan tertinggi, termasuk terhadap dirinya sendiri.
Menurut laporan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran itu telah mengeluarkan serangkaian arahan dan menetapkan 4 tingkatan suksesi untuk setiap posisi kepemimpinan militer dan pemerintahan yang telah ia tunjuk.
Ali Khamenei juga memerintahkan semua orang yang memegang posisi kepemimpinan untuk menunjuk hingga 4 pengganti dan mendelegasikan tanggung jawab kepada lingkaran kecil rekan dekatnya untuk mengambil keputusan jika komunikasi terputus dengannya atau jika ia dibunuh, menurut surat kabar tersebut.
Iran juga telah mengantisipasi serangan AS dengan mengerahkan peluncur rudal balistik, dan memilih kepemimpinan alternatif.
Selain itu surat kabar New York Times juga melaporkan pada hari Minggu bahwa Iran mengerahkan peluncur rudal balistik di sepanjang perbatasan baratnya dengan Irak.
Rudal itu dianggap cukup untuk menargetkan Israel dan di sepanjang pantai selatannya di Teluk Persia dalam jangkauan pangkalan militer AS dan target lainnya di wilayah tersebut.
Surat kabar itu menambahkan, mengutip tiga anggota Garda Revolusi dan pejabat tinggi, bahwa Iran beroperasi dengan premis serangan militer AS tidak bisa dihindari dan akan segera terjadi, bahkan ketika kedua pihak melanjutkan dialog diplomatik dan negosiasi tentang perjanjian nuklir.
Surat kabar itu menambahkan bahwa Iran telah meningkatkan tingkat kewaspadaan ke level maksimum di seluruh angkatan bersenjatanya dan sedang bersiap untuk perlawanan sengit.
Sumber-sumber yang dikutip tersebut mengatakan, bahwa jika terjadi perang, unit polisi khusus, unsur intelijen, dan batalyon Basij rahasia dari Garda Revolusi akan dikerahkan di jalan-jalan kota-kota besar.
Unsur-unsur tersebut akan mendirikan pos pemeriksaan untuk mencegah kerusuhan internal dan mencari agen yang terkait dengan badan intelijen asing.
Sementara itu, komandan pasukan darat Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi mengatakan, bahwa pasukannya sangat siap dan mampu melenyapkan ancaman apa pun seperti dikatakannya sejak awal.
"Kami memantau semua pergerakan musuh di dalam perbatasan negara dari waktu ke waktu," katanya.
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran (IRGC) juga telah melakukan latihan angkatan laut dengan sandi "Smart Control" di Selat Hormuz yang bertujuan untuk memastikan keamanan dan lalu lintas maritim yang aman.
Caranya dengan mengerahkan unit tempur dan reaksi cepat angkatan laut serta menggunakan berbagai senjata, termasuk rudal pertahanan udara Sayyad 3-G berbasis laut.
Iran Belum Menyerah, Trump Penasaran
Dilansir Mehr News Agency, utusan khusus AS, Steve Witkoff mengatakan, Presiden Donald Trump “penasaran” mengapa Iran belum menyerah di tengah meningkatnya retorika ancaman AS.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Witkoff mengatakan, Trump mempertanyakan mengapa Teheran belum "menyerah" meskipun ia menggambarkan adanya kekuatan angkatan laut dan maritim AS yang signifikan dikerahkan di wilayah tersebut.
"Presiden menanyakan hal itu kepada saya pagi ini, dan dia, saya tidak ingin menggunakan kata frustrasi karena dia mengerti bahwa dia memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka belum, saya tidak ingin menggunakan kata menyerah, tetapi mengapa mereka belum menyerah," kata Witkoff.
Witkoff berpendapat bahwa AS mengharapkan Iran untuk secara resmi menyatakan bahwa mereka tidak berupaya memiliki senjata nuklir dan menguraikan langkah-langkah konkret untuk membuktikannya.
Pernyataan Witkoff muncul ketika para pejabat Iran berulang kali menekankan sifat damai dari program nuklir negara tersebut. Iran terus-menerus menyatakan bahwa mereka tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir,
Juga menekankan bahwa teknologi nuklir mereka semata-mata untuk tujuan sipil. Selain itu, ada fatwa dari Pemimpin Revolusi Islam yang melarang kepemilikan dan penggunaan senjata pemusnah massal.
Di bagian lain pernyataannya, Witkoff mengatakan, bahwa AS bersikeras agar Iran menghentikan pengayaan uranium, dan menambahkan bahwa ini adalah garis merah dalam negosiasi bagi AS.
Tetapi para pejabat Iran telah berulang kali menegaskan, bahwa mereka tidak akan menerima kesepakatan apa pun yang menuntut pengayaan uranium menjadi nol di dalam negerinya.
Sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi baru-baru ini mengatakan dalam sebuah wawancara dengan MSNBC, bahwa Amerika Serikat tidak menuntut "pengayaan uranium nol" dari Iran dalam pembicaraan di Jenewa beberapa hari lalu.
Para pejabat Iran telah berulang kali mengkritik para pejabat Amerika atas pernyataan kontradiktif mereka dalam negosiasi dan dalam pernyataan media. (*)
Apa Reaksi Anda?