Setelah Tiga Bulan Meninggal, Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Akan Segera Dimulai
Setelah meninggal dunia selama tiga bulan lebih, jasad mendiang Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, akan segera dimakamkan dalam minggu-minggu ini.
JAKARTA - Setelah meninggal dunia selama tiga bulan lebih, jasad mendiang Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, akan segera dimakamkan dalam minggu-minggu ini.
Para pejabat Iran, kemarin mengumumkan rencana upacara perpisahan selama tiga hari dan prosesi pemakaman selama 24 jam untuk mendiang Pemimpin Revolusi Islam Iran itu.
Ayatollah Seyyed Ali Khamenei meninggal dunia setelah rumahnya dihujani bom oleh serangan bersama tanpa provokasi Amerika Serikat-Israel pada tanggal 28 Februari 2026, hari pertama agresi AS-Israel terhadap Iran.
Selama tiga bulan lebih jenazah mendiang Pemimpin Republik Islam Iran itu disemayamkan di sebuah tempat yang sangat ketat penjagaannya di ibukota Teheran.
Pemerintahan Republik Islam Iran tidak segera memakamkan karena pertimbangan keamanan, karena prosesi pemakaman itu dipastikan akan dihadiri jutaan umat muslim Syiah, umat muslim lainnya serta pejabat penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Pemerintahan Republik Islam Iran saat itu tidak mau ambil resiko ditengah gencarnya peperangan yang sedang berlangsung.
Namun kemarin, para pejabat Iran mengumumkan rencana upacara perpisahan selama tiga hari dan prosesi pemakaman selama 24 jam untuk mendiang Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, yang gugur pada 28 Februari, hari pertama perang agresi AS-Israel terhadap Iran itu.
Jenazah Pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei itu rencananya akan dimakamkan di makam suci Imam Reza di Mashhad setelah prosesi pemakaman di Teheran, Qom, dan Mashhad.
Wakil Walikota Teheran Bidang Sosial dan Budaya, Mohammad Amin Tavakolizadeh mengatakan, persiapan sedang dilakukan untuk kerumunan 15 hingga 20 juta orang di ibu kota saja.
"Kami sedang mempersiapkan pemakaman pemimpin anti-kesombongan terbesar di dunia, komandan terhebat dalam perjuangan melawan AS dan Israel, sumber teladan yang hebat dan pemimpin Revolusi Islam," kata Tavakolizadeh.
Dia menambahkan, bahwa permintaan untuk menyelenggarakan upacara pemakaman telah berdatangan dari berbagai provinsi, dan upacara tersebut kemungkinan akan berlangsung pada akhir Dzul Hijjah dan awal Muharram.
Ia mencatat bahwa upacara pemakaman di Teheran akan berlangsung setidaknya selama 24 jam.
Di Mashhad, suasana istimewa diperkirakan akan terasa, dengan banyaknya pelayat dari negara-negara tetangga, termasuk Pakistan, Afghanistan, India, Bangladesh, dan Kashmir.
"Kita akan menyaksikan pertemuan terbesar umat Muslim Syiah, dan bahkan lebih dari itu, seluruh umat Muslim," tambah Tavakolizadeh.
Pejabat itu juga mencatat bahwa kepala kehakiman Irak mengumumkan bahwa tidak ada pernikahan Syiah yang terdaftar di Irak selama 40 hari pertama setelah kemartiran Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran itu. Upacara pemakaman simbolis juga telah diadakan di berbagai kota di Irak
Tavakolizadeh juga mengatakan, persiapan besar untuk upacara perpisahan, pemakaman, dan penguburan "Imam Syahid" sedang diselesaikan dengan partisipasi lembaga-lembaga nasional dan pemerintah kota di seluruh negeri.
Ia menyatakan bahwa upacara perpisahan selama tiga hari dan prosesi pemakaman selama 24 jam telah direncanakan di Teheran.
Ia menambahkan bahwa tempatnya masih dalam tahap finalisasi dan akan dipilih antara Musalla (Aula Doa Agung) Teheran dan mausoleum pendiri Republik Islam, Imam Khomeini.
Ia juga mencatat bahwa prosesi pemakaman di Teheran diperkirakan akan berlangsung setidaknya selama 24 jam. Setelah itu, jenazah Pemimpin yang gugur itu akan dipindahkan ke kota suci Qom dan kemudian ke Mashhad untuk upacara serupa.
"Berdasarkan rekomendasi yang diberikan oleh pihak berwenang terkait, tempat pemakaman terakhir Ayatollah Seyed Ali Khamenei adalah makam suci Imam Reza (AS) di kota Mashhad, timur laut Pakistan," tambahnya.
Pejabat tersebut menjelaskan bahwa mengingat letak geografis Mashhad, para pejabat memperkirakan kota itu akan menjadi tuan rumah bagi sejumlah besar peziarah asing, khususnya dari Pakistan, Afghanistan, India, Bangladesh, dan wilayah Kashmir.
Tavakolizadeh mengatakan bahwa organisasi Astan Quds Razavi dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Provinsi Khorasan Razavi telah menyiapkan pengaturan khusus untuk menjamu para peziarah dan melaksanakan upacara pemakaman. (*)
Apa Reaksi Anda?