SD Taquma Surabaya Gelar Istighotsah dan Parenting, Bekali Siswa Kelas 6 Hadapi TKA

SD Taquma Wonocolo Surabaya menggelar kegiatan Istighotsah dan Parenting bagi siswa kelas 6 dan wali murid, Sabtu (18/4/2026).

April 18, 2026 - 20:02
SD Taquma Surabaya Gelar Istighotsah dan Parenting, Bekali Siswa Kelas 6 Hadapi TKA

SURABAYA - SD Taquma Wonocolo Surabaya menggelar kegiatan Istighotsah dan Parenting bagi siswa kelas 6 dan wali murid, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut menjadi bagian dari persiapan mental siswa menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Agenda yang mengusung tema “Istighotsah dan Parenting: Persiapan Mental serta Bijak Berteknologi” ini menghadirkan kolaborasi antara pihak sekolah, orang tua, dan siswa sebagai bagian dari penguatan peran pendidikan bersama.

Kepala SD Taquma Wonocolo Surabaya, Nur Rohmatul Izzah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin yang dilaksanakan dua kali setiap semester. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana memperkuat sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi perkembangan siswa.

“Terima kasih atas kehadiran wali murid dalam kegiatan rutin ini. Kami menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa dipikul oleh sekolah sendirian. Kehadiran Bapak dan Ibu hari ini adalah bukti komitmen kita bersama untuk mengawal masa depan putra-putri kita,” ujar Izzah.

Ia menambahkan, kegiatan diawali dengan pembacaan istighotsah yang diikuti siswa dan orang tua secara khidmat. Tradisi tersebut diyakini mampu memberikan ketenangan batin bagi siswa, terutama dalam menghadapi ujian akademik yang akan datang.

Menurutnya, pendekatan spiritual menjadi salah satu cara untuk memperkuat kesiapan mental siswa agar tetap tenang dan percaya diri dalam menghadapi tantangan belajar.

Dalam kegiatan tersebut, sekolah juga menghadirkan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Surabaya, Muhammad Syaiful Bahri, sebagai narasumber dalam sesi parenting.

Syaiful menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar siswa dalam menghadapi ujian bukanlah tingkat kesulitan soal, melainkan rasa takut yang berlebihan.

“TKA bukan sesuatu yang harus ditakuti. Anak-anak hanya perlu siap secara mental agar tidak down saat hari pelaksanaan,” kata Syaiful.

Ia menekankan bahwa kondisi psikologis yang stabil akan membantu siswa mengeluarkan potensi intelektualnya secara maksimal.

Selain itu, Syaiful juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak selama proses belajar di rumah, termasuk dalam mengawasi penggunaan teknologi digital.

“Kesuksesan anak adalah proses panjang. Di rumah, orang tua adalah guru pertama dan utama. Orang tua juga perlu bijak dalam mendampingi anak menggunakan gawai agar tidak mengganggu konsentrasi belajar,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah SD Taquma yang menggabungkan pendekatan spiritual dan edukasi psikologis sebagai upaya membangun ketahanan mental siswa.

Kegiatan tersebut ditutup dengan sesi refleksi antara orang tua dan anak. Dalam suasana haru, para siswa bersimpuh memohon doa restu kepada orang tua mereka sebagai bentuk dukungan menjelang ujian.

Momen tersebut menjadi simbol penguatan hubungan emosional antara orang tua dan anak, sekaligus diharapkan mampu memberikan motivasi bagi siswa untuk menghadapi ujian dengan lebih percaya diri.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow