Sambut 1 Suro, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita dan Forkopimda Ziarah ke 6 Makam Leluhur

Kegiatan ziarah makam leluhur ini merupakan bagian dari rangkaian sakral perayaan Grebeg Suro 2026.

Juni 14, 2026 - 12:31
Sambut 1 Suro, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita dan Forkopimda Ziarah ke 6 Makam Leluhur

PONOROGO - Menjelang pergantian tahun baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah atau yang akrab dengan tradisi 1 Suro, Pemerintah Kabupaten Ponorogo (Pemkab Ponorogo) menggelar prosesi ziarah leluhur, Minggu (14/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian sakral perayaan Grebeg Suro 2026.

​Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, memimpin langsung rombongan ziarah tersebut bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Secara maraton, rombongan mengunjungi enam situs makam tokoh penting yang meletakkan pondasi sejarah, pemerintahan, dan spiritual di Bumi Reog.

​Prosesi ziarah diawali dari makam pendiri sekaligus adipati pertama Ponorogo, Batoro Katong, yang terletak di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Suasana khidmat menyelimuti pelataran makam saat doa bersama dipanjatkan.

​Dari Setono, rombongan bergerak menuju makam KRMA Mertonegoro di Desa Tanjung, Kecamatan Siman. Perjalanan spiritual kemudian dilanjutkan ke pusat syiar Islam nusantara, yakni makam KH Muhammad Besari di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis.

​Tak berhenti di situ, penghormatan kepada para mantan pemimpin daerah diteruskan ke makam RMAA Tjokronegoro di Kelurahan Kauman, lalu bergeser ke makam R Mertokusumo di Astana Srandil, Kecamatan Jambon.

Rangkaian ziarah ini dipungkasi dengan upacara penghormatan serta tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ponorogo sebagai bentuk apresiasi atas jasa para pejuang kemerdekaan. 

Momentum Refleksi dan Meneladai Leluhur

​Di sela-sela kegiatan, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menegaskan bahwa ziarah ini bukan sekadar rutinitas seremonial tahunan dalam kalender Grebeg Suro.

Menurutnya, agenda ini adalah momentum refleksi bagi generasi masa kini untuk meneladani kegigihan para leluhur.

​"Ziarah menjelang 1 Suro 1448 Hijriah ini adalah cara kita untuk merunduk, mengingat kembali jasa besar para tokoh terdahulu yang telah babat alas membangun Ponorogo," ujarnya.

"Tanpa perjuangan spiritual dan kultural dari beliau-beliau ini, kita tidak akan menikmati Ponorogo yang maju seperti sekarang," imbuh Bunda Rita.

​Lisdyarita juga menambahkan bahwa sinergi antara Forkopimda dan masyarakat menjadi kunci utama untuk meneruskan warisan para leluhur tersebut.

​"Esensi dari Grebeg Suro bukan hanya pesta budaya, tetapi juga memperkuat akar sejarah kita," tukasnya.

"Kami berharap momentum ini membawa keberkahan bagi masyarakat Ponorogo, sekaligus memicu semangat kita bersama untuk terus berinovasi tanpa melupakan identitas asli daerah," sambung Lisdyarita.

​Pelestarian Budaya dan Nilai Religius

​Rangkaian ziarah makam tokoh ini menegaskan keunikan Grebeg Suro Ponorogo yang selalu mampu menyeimbangkan antara kemeriahan pesta budaya, pelestarian adat, dan nilai-nilai religiusitas.

Melalui integrasi kegiatan seperti ini, Pemkab Ponorogo optimis nilai-nilai luhur kearifan lokal akan tetap terjaga di tengah gerak modernisasi zaman. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow