Rayakan Earth Day, Sakala Jiwa Dukung Gerakan Remaja Menyelamatkan Desa Terakhir di Muara Gembong
Terusiknya ketenangan pesisir oleh abrasi dan naiknya permukaan laut bukanlah hanya sekadar isu lingkungan, melainkan kisah tentang hilangnya ruang hidup manusia.
JAKARTA - Terusiknya ketenangan pesisir oleh abrasi dan naiknya permukaan laut bukanlah hanya sekadar isu lingkungan, melainkan kisah tentang hilangnya ruang hidup manusia. Menyadari realitas yang memilukan ini, Sakala Jiwa sebuah program kepemudaan bagian dari yayasan Penari Penjaga Negeri dengan sepenuh hati mendukung aksi nyata remaja dari OSIS Global Prestasi School Bekasi dengan merampungkan penanaman 1.508 bibit pohon mangrove di Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi yang juga bertepatan dengan momen Earth Day.
Mengetahui kondisi lautan yang perlahan menelan daratan di area Bekasi, Sendang Wangi, praktisi SDM selaku founder Sakala Jiwa menyampaikan rasa harunya.
"Mendengar bahwa dua dari tiga desa di kawasan ini telah tenggelam dan tak lagi bisa dihuni adalah sebuah kenyataan yang menyayat hati,” ungkapnya dalam keterangan pers, Senin (18/5/2026).
“Sakala Jiwa hadir di sini untuk mendukung penuh jiwa-jiwa muda yang menolak diam. Sinergi ini adalah wujud nyata upaya kita menumbuhkan karakter generasi yang berempati, yang peduli dan mau bertanggung jawab atas masa depan alamnya,” sambungnya.
Kawasan Muara Gembong adalah saksi bisu dari krisis iklim yang merenggut ruang hidup. Banjir rob yang terus-menerus menerjang telah memaksa warga merelakan rumah dan kenangan mereka tenggelam, menyisakan hanya satu desa terakhir yang kini berjuang untuk bertahan.
“Bibit mangrove yang ditanam hari ini adalah doa dan benteng hidup bagi desa yang tersisa. Warga masyarakat menyambut program baik ini,” kata Sonhaji dari kelompok Pokdarwis Alipbata, komunitas lokal yang mendukung gerakan ini.
Bama Marhaendra Adikarno, yang bertindak sebagai BPH (Badan Pengurus Harian) OSIS sekaligus penghubung resmi antara OSIS Global Prestasi School Bekasi dan Sakala Jiwa mengungkapkan, sinergi antara teman-teman sekolah, Sakala Jiwa, dan masyarakat lokal adalah detak jantung dari acara ini.
“Kami bekerja sama, memastikan setiap bibit yang kami tancapkan di lumpur hari ini dapat tumbuh menjadi pelindung kehidupan warga desa kelak,” ungkapnya.
Bagi OSIS Global Prestasi School, kegiatan ini adalah panggilan kemanusiaan. Reva Sampati, selaku Ketua OSIS Global Prestasi School Bekasi, mengatakan, ini lebih dari sekadar memperingati Earth Day, inisiatif ini digagas untuk mengetuk nurani banyak pihak agar menyadari betapa rentannya lingkungan hidup saat ini.
“Karena itu, kita melibatkan beberapa pihak untuk bekerja sama yaitu para guru dan tim Fortals (Festival of Arts of Global Prestasi School - kepanitiaan pentas seni sekolah), penduduk lokal dan kelompok masyarakat seperti Sakala Jiwa dan yang lainnya,” sebutnya.
Hadir didampingi 4 guru dari Global Prestasi School Bekasi yaitu Pak Gabriel, Pak Suryono, Bu Ririn dan Bu Reni, para remaja SMA ini terjun langsung menanam bibit pohon di tanah berlumpur.
Maria Marsha Priyono dan Aaliyyah Danira sebagai penanggung jawab acara ini menyatakan bersama-sama pihaknya ingin memberikan kontribusi nyata dan membuktikan bahwa yang masih remaja ini mampu berpartisipasi aktif dalam menciptakan lingkungan yang kembali hijau dan berkelanjutan.
“Karena itu kami tidak keberatan hadir di hari libur kami, kami memilih memanfaatkan waktu libur kami dengan kegiatan yang bermanfaat ini”, imbuh Almira Rumbini selaku Ketua FORTALS, organisasi siswa di Global Prestasi School Bekasi.
Dengan sekitar hampir 50 orang yang terdiri dari guru dan siswa Global Prestasi School Bekasi ini berjuang melewati medan yang hanya bisa diakses oleh perahu dan motor ini, mereka bersama berbagai kelompok masyarakat ini, menanamkan 1.508 napas baru yang ditanam di pesisir Muara Gembong.
Melalui kegiatan ini, Sakala Jiwa berharap langkah kecil dari anak-anak muda ini dapat menjadi ombak kebaikan yang menginspirasi lebih banyak pihak. Karena pada akhirnya, menyelamatkan alam bukan sekadar tentang menanam pohon, melainkan tentang merawat kehidupan dan menjaga rumah bagi umat manusia. (*)
Apa Reaksi Anda?