Ramadan 2026 Satukan Indonesia–Tunisia di Kampus Ez-Zitouna
Persahabatan Indonesia dan Tunisia, dua bangsa yang dipertemukan oleh sejarah, ilmu, dan iman.
JAKARTA Ramadan 2026 kembali menjadi ruang pertemuan yang hangat antara Indonesia dan Tunisia.
Institut Tinggi Fakultas Ushuluddin Universitas Ez-Zitouna Tunisia bersama Persatuan Umum Mahasiswa Tunisia menggelar Hari Studi Ramadan dan buka puasa bersama di lapangan Al-Aqsha, Fakultas Ushuluddin, Sabtu (28/2/2026).
Agenda ini menjadi momentum mempererat persaudaraan lintas bangsa.
Sejak sore, suasana kampus terasa berbeda. Mahasiswa dari berbagai negara berkumpul dalam satu lingkaran kebersamaan. Bahasa, budaya, dan latar belakang yang beragam melebur tanpa sekat. Ramadan menjadi titik temu.
Rektor Universitas Ez-Zitouna, Dr. Abdul Latif Bouazizi, dalam sambutannya menekankan bahwa Ramadan adalah ruang pembentukan karakter.
Hal senada disampaikan Dekan Fakultas Ushuluddin, Dr. Abdul Qadir An-Nafati, serta perwakilan dosen Hadi Tamimy.
Mereka menilai kegiatan seperti ini penting untuk menjaga semangat keilmuan sekaligus memperkuat solidaritas antar mahasiswa, termasuk diaspora.
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, turut hadir dan menyampaikan pesan reflektif. Menurutnya, Ramadan adalah “madrasah kehidupan” yang melatih disiplin, kesabaran, dan empati sosial.
Ia mengingatkan agar kebiasaan baik selama Ramadan seperti menjaga waktu, memperbanyak ibadah, serta memperkuat silaturahmi tidak berhenti setelah bulan suci usai.
“Indonesia dan Tunisia adalah sahabat,” ujarnya singkat, namun tegas. Pernyataan itu disambut hangat peserta yang memadati lapangan.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan tilawah Al-Qur’an, dilanjutkan sesi kajian fiqh, sirah, dan hadis. Diskusi berlangsung cair. Para mahasiswa tak hanya menyimak, tetapi juga terlibat aktif bertanya dan berbagi pandangan. Tema yang diangkat sederhana namun relevan: bagaimana menjadikan Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum perubahan diri.
Suasana makin hidup saat diaspora Indonesia menampilkan hadroh dan melantunkan qasidah. Tepuk tangan dan senyum mengiringi setiap penampilan. Nuansa spiritual terasa, tetapi tetap hangat dan akrab.
Menjelang Maghrib, seluruh peserta bersiap berbuka bersama. Azan berkumandang, doa dipanjatkan, lalu hidangan sederhana dinikmati dalam satu majelis. Mahasiswa Tunisia dan Indonesia duduk berdampingan, berbagi cerita dan pengalaman. Tak ada jarak, tak ada sekat kebangsaan.
Hari Studi Ramadan ini menjadi gambaran bahwa hubungan Indonesia–Tunisia tak hanya terjalin lewat diplomasi resmi, tetapi juga lewat ruang-ruang akademik dan spiritual seperti ini. Di tengah dinamika global, kebersamaan sederhana di bulan Ramadan justru menjadi penguat ikatan yang nyata.
Lebih dari sekadar acara kampus, pertemuan ini meninggalkan pesan bahwa ilmu dan iman dapat berjalan seiring. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang merawat persaudaraan dan membangun peradaban berbasis nilai.
Harapannya, semangat yang tumbuh di lapangan Al-Aqsha sore itu tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia diharapkan terus hidup, menjadi energi bersama untuk memperkokoh persahabatan Indonesia dan Tunisia, dua bangsa yang dipertemukan oleh sejarah, ilmu, dan iman. (*)
Apa Reaksi Anda?